Indonesia menciptakan titik balik penting bagi industri transportasi daring di Asia Tenggara seiring dengan keputusan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan tarif komisi yang diperbolehkan bagi platform seperti Grab dan GoTo untuk dibebankan kepada pengemudi, dari 20% menjadi 8%. Media Indonesia dan internasional telah memberitakan regulasi baru ini, yang diumumkan pada Hari Buruh Internasional, 1 Mei.
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mewajibkan pengemudi layanan transportasi daring untuk menerima minimal 92% dari pendapatan setiap perjalanan, bukan sekitar 80% seperti sebelumnya. Perusahaan platform juga harus menyediakan asuransi kecelakaan dan kesehatan bagi pengemudinya. Ini dianggap sebagai intervensi terkuat yang pernah dilakukan Indonesia terhadap ekonomi digital. Sebelumnya, pemerintah sempat mempertimbangkan untuk menurunkan batas atas menjadi 10%, tetapi Presiden Prabowo menyatakan bahwa biaya tersebut "harus di bawah 10%".
Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pendapatan sekitar 4 juta pengemudi layanan transportasi daring dan pengiriman barang – tenaga kerja yang menghadapi tekanan signifikan akibat meningkatnya biaya hidup.
Keputusan ini langsung berdampak pada pasar. Menurut Jakarta Globe, saham GoTo turun hampir 6% pada sesi perdagangan pertama minggu ini. GoTo menyatakan bahwa mereka sedang meninjau peraturan baru tersebut dan akan mematuhi peraturan yang ada, sambil juga berkoordinasi dengan pemerintah dan pihak terkait untuk menilai dampaknya terhadap operasional bisnis mereka.
Sementara itu, menurut Business Times, Grab juga menyatakan akan mematuhi keputusan pemerintah Indonesia, meskipun perusahaan mungkin harus menyesuaikan model bisnisnya di Indonesia – yang saat ini merupakan pasar terbesarnya.
Reaksi dari para pengemudi umumnya cukup positif. Banyak yang percaya pendapatan mereka bisa meningkat lebih dari 10% jika peraturan tersebut ditegakkan secara ketat. The Straits Times mengutip seorang pengemudi Grab di Jakarta yang mengatakan bahwa ini adalah kebijakan yang "berpihak pada para pekerja."
Namun, para ahli ekonomi saat ini terpecah pendapatnya. Sebagian menganggap ini sebagai penyesuaian radikal yang bertujuan untuk menyeimbangkan kembali kepentingan antara platform digital dan tenaga kerja platform.
Sebaliknya, ada juga kekhawatiran bahwa pasar layanan transportasi daring di Indonesia dapat menyusut jika bisnis terpaksa menaikkan tarif atau mengurangi promosi untuk mengimbangi pendapatan yang hilang.
Para pengamat percaya bahwa Indonesia menjadi studi kasus terbesar ASEAN dalam mengelola ekonomi digital dan angkatan kerja. Jika model ini terbukti efektif, banyak negara di kawasan ini mungkin akan mempertimbangkan untuk mengadopsi langkah-langkah serupa untuk melindungi pengemudi layanan transportasi daring dan pekerja pengiriman barang.
Sumber: https://vtv.vn/indonesia-gioi-han-muc-phi-hoa-hong-goi-xe-cong-nghe-100260507110404419.htm







Komentar (0)