Manajemen keamanan pangan saat ini menghadapi banyak kesulitan dan tantangan besar, yang secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Manajemen keamanan pangan saat ini menghadapi banyak kesulitan dan tantangan besar, yang secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Tumpang tindih antar tingkat manajemen
Meskipun telah dilakukan upaya penyusunan dan penyebarluasan dokumen perundang-undangan di bidang keamanan pangan, namun kenyataan yang ada menunjukkan bahwa sistem perundang-undangan yang ada masih belum seragam, belum dimutakhirkan secara berkala, dan masih banyak celah dalam pengelolaannya.
Karena keterbatasan skala dan teknologi, banyak fasilitas produksi masih kecil dan tidak dapat memenuhi persyaratan keamanan dan kualitas pangan. |
Salah satu kesulitan terbesar dalam manajemen keamanan pangan saat ini adalah kurangnya keseragaman dalam sistem dokumen hukum.
Dokumen hukum belum diperbarui secara tepat waktu seiring perkembangan industri, sehingga menimbulkan celah dalam manajemen. Undang-undang dan peraturan terkait keamanan pangan terkadang memiliki kontradiksi atau tumpang tindih antarsektor, misalnya antara Undang-Undang Keamanan Pangan dan Undang-Undang lainnya, sehingga meningkatkan kompleksitas dalam penerapan dan penegakan peraturan.
Masalah lain yang menyebabkan kesulitan dalam manajemen keamanan pangan adalah tumpang tindih dalam pembagian kerja dan desentralisasi antar lembaga negara.
Saat ini, banyak kementerian dan Komite Rakyat di semua tingkatan terlibat dalam pengelolaan produksi dan perdagangan pangan, yang mengakibatkan tumpang tindih dalam proses inspeksi, pemeriksaan, dan pengawasan. Hal ini tidak hanya meningkatkan biaya manajemen tetapi juga mengurangi efektivitas kegiatan pengendalian keamanan pangan.
Inspeksi dan pengawasan keamanan pangan masih menghadapi banyak kesulitan karena kurangnya perangkat teknis yang modern dan memadai. Khususnya, sistem standar dan regulasi nasional tentang klasifikasi dan kriteria pengujian produk pangan masih kurang.
Hal ini mempersulit fasilitas produksi dan badan manajemen untuk menentukan kriteria pengujian dan memantau kualitas produk.
Standar yang berlaku saat ini umumnya hanya membatasi indikator seperti logam berat, mikotoksin, dan mikroorganisme, tetapi tidak mencakup semua risiko keamanan pangan lainnya. Sistem kendali mutu produk tidak memiliki indikator untuk banyak jenis pangan baru, sehingga menyulitkan perusahaan dalam memilih indikator untuk kualitas produk yang dideklarasikan sendiri.
Meskipun kebijakan untuk mendukung pengembangan produksi dan memastikan keamanan pangan telah dikeluarkan, pada kenyataannya, prosedur untuk menikmati kebijakan dukungan tersebut masih rumit dan belum benar-benar efektif.
Beberapa lembaga belum berkoordinasi dalam pelaksanaan program-program ini, sehingga menyulitkan pelaku usaha, terutama usaha kecil, untuk mengakses kebijakan ini dengan mudah. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam mempromosikan produksi pangan yang aman.
Manajemen keamanan pangan saat ini masih kurang sinkron dan terpadu antar lembaga manajemen. Perencanaan, sertifikasi, inspeksi, pengujian, dan pengawasan kurang terkoordinasi dengan baik, sehingga implementasi kegiatan manajemen keamanan pangan menjadi padat karya dan memakan waktu.
Staf yang berdedikasi masih terbatas
Terkait dengan personel yang melaksanakan manajemen keamanan pangan, menurut Bapak Nguyen Hung Long, Wakil Direktur Departemen Keamanan Pangan, Kementerian Kesehatan , terdapat kekurangan petugas keamanan pangan khusus, terutama di tingkat kecamatan dan distrik, yang membuat pekerjaan manajemen di tingkat akar rumput menjadi sangat sulit.
Selain itu, jumlah staf paruh waktu masih banyak, dan keahlian mereka dalam keamanan pangan masih terbatas, sehingga secara langsung memengaruhi efektivitas kerja manajemen.
Meskipun telah ada upaya untuk membentuk kawasan produksi pangan aman serta rantai produksi dan konsumsi pangan, namun kecepatan pengembangan kawasan produksi tersebut masih lambat.
Karena keterbatasan skala dan teknologi, banyak fasilitas produksi masih kecil dan tidak dapat memenuhi persyaratan keamanan dan kualitas pangan.
Membangun rantai pasokan pangan yang aman antara petani, fasilitas pengolahan, dan bisnis konsumen masih memiliki banyak masalah, terutama kurangnya keberlanjutan dalam hubungan antara para pihak.
Sistem pemantauan dan penanganan pelanggaran keamanan pangan di tempat produksi, pengolahan, dan perdagangan pangan masih memiliki banyak keterbatasan. Beberapa tempat produksi pangan palsu, pangan berkualitas buruk, dan pangan yang tidak diketahui asal usulnya masih beredar di pasaran.
Pengawasan dan penanganan pelanggaran di tingkat kecamatan dan kelurahan juga masih lemah, hanya bersifat teguran tanpa adanya sanksi tegas, sehingga menyebabkan kurang memberikan efek jera bagi pelanggar.
Pengendalian pangan yang asal usulnya tidak diketahui dan keamanannya masih sulit. Produk pangan yang diimpor melalui jalur tidak resmi dan produk dari fasilitas produksi skala kecil tanpa sertifikasi atau kendali mutu menimbulkan banyak kendala dalam pengelolaannya.
Selain itu, keracunan makanan di dapur umum, tempat makan siap saji di kawasan industri, dan bisnis makanan kaki lima tetap menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat.
Manajemen keamanan pangan saat ini menghadapi banyak tantangan, mulai dari sistem hukum yang belum lengkap, tanggung jawab yang tumpang tindih antarsektor, hingga kurangnya pengendalian dan penanganan pelanggaran. Kesulitan-kesulitan ini tidak hanya memengaruhi efektivitas manajemen negara tetapi juga secara langsung mengancam kesehatan konsumen.
Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu memiliki sistem hukum yang sinkron dan diperbarui secara berkala, serta memperkuat perangkat teknis untuk mendukung inspeksi dan pengawasan.
Pada saat yang sama, organisasi dan koordinasi antar lembaga fungsional perlu ditingkatkan, terutama di tingkat akar rumput. Pengembangan rantai pasok pangan yang aman, penerapan teknologi dalam produksi, dan pengendalian mutu harus didorong, untuk memastikan tidak hanya kualitas tetapi juga asal usul pangan yang jelas.
Strategi yang komprehensif, kohesif, dan sistematis akan membantu membangun sistem manajemen keamanan pangan yang efektif, melindungi kesehatan masyarakat, dan memenuhi persyaratan pembangunan sosial yang berkelanjutan.
[iklan_2]
Sumber: https://baodautu.vn/kho-chong-kho-trong-quan-ly-an-toan-thuc-pham-d238480.html
Komentar (0)