Pemain voli Indonesia Manganang pernah menimbulkan kontroversi sengit - Foto: GI
Sejarah kontroversial
Setahun yang lalu di Olimpiade Paris, petinju wanita Aljazair Imane Khelif menyalakan kembali perdebatan sengit tentang masalah gender dalam olahraga elit.
Pada Maret 2023, ia didiskualifikasi dari kejuaraan dunia oleh Federasi Tinju Internasional (IBA) karena hasil tes DNA dikatakan mendeteksi kromosom XY.
Namun, IOC masih mengizinkan Khelif untuk berkompetisi di Olimpiade Paris 2024 berdasarkan dokumen yang sah dan sejarah panjang kompetisi di nomor wanita.
Dia memenangkan medali emas dan menjadi pusat perdebatan global: di mana batas antara jenis kelamin biologis, gender legal, dan hak untuk bermain adil?
Tes gender bukanlah isu baru. Sejak tahun 1940-an, beberapa turnamen mewajibkan "sertifikat kewanitaan" yang dikeluarkan oleh dokter untuk mencegah pria berpura-pura menjadi perempuan saat berkompetisi.
Pada tahun 1960-an, inspeksi visual bahkan mengharuskan atlet perempuan untuk “membuktikan tubuh mereka” kepada dewan medis—praktik yang dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap martabat manusia.
Kemudian bioteknologi diterapkan dengan tes “barr body” untuk menentukan jenis kelamin melalui kromosom, yang secara resmi membawa IOC ikut bermain sejak Olimpiade 1968.
Petinju Imane Khelif masih kontroversial hingga saat ini - Foto: REUTERS
Pada tahun 1990-an, IOC telah beralih ke pengujian reaksi berantai polimerase (PCR) untuk mencari "materi genetik terkait pria" dari sampel DNA.
Selama lebih dari tiga dekade, semua atlet Olimpiade perempuan diwajibkan menjalani tes gender. Namun, IOC menghapus praktik tersebut pada tahun 1998 karena biayanya yang tinggi, tekanan psikologis, dan tingkat deteksi kecurangan yang sangat rendah.
Namun, metode ini telah dikritik oleh banyak ilmuwan terkenal, seperti Albert de la Chapelle atau Malcolm Ferguson-Smith. Mereka percaya bahwa metode Barr tidak memperhitungkan kekuatan dan kelemahan gender, yang berarti memiliki kromosom Y tidak berarti atlet akan memiliki keunggulan dalam hal kekuatan atau kecepatan.
Pada tahun 1985, atlet lintasan dan lapangan Spanyol Maria José Martínez-Patiño gagal membuktikan bahwa dirinya perempuan di Kobe World University Games, Jepang, meskipun lulus ujian di Kejuaraan Atletik Dunia 1983.
Faktanya, sebagian besar kasus “perbedaan” bukanlah penipuan, tetapi berasal dari kondisi interseks — ketika karakteristik biologis tidak sepenuhnya sesuai dengan definisi laki-laki atau perempuan.
Satu federasi satu solusi
Sejak tahun 2000-an, kontroversi kembali muncul dengan kasus-kasus terkemuka seperti Caster Semenya (Afrika Selatan) atau Dutee Chand (India), ketika hasil menunjukkan bahwa mereka memiliki kadar testosteron alami lebih tinggi daripada rata-rata wanita.
Pada tahun 2011, World Athletics (WA) mengeluarkan peraturan baru terkait tes testosteron dan hormon. Istilah "tes gender" dan "verifikasi gender" dihapuskan.
Sebaliknya, WA dan IOC menekankan pentingnya kadar testosteron: beberapa atlet perempuan tidak akan memenuhi syarat untuk bertanding karena kelainan hormonal. Lebih spesifiknya, kadar testosteron maksimum adalah 10 nmol/l.
Perdebatan berkisar pada batas antara keadilan olahraga dan hak individu. Banyak yang berpendapat bahwa memaksa atlet untuk menurunkan kadar hormon atau menjalani operasi merupakan pelanggaran hak asasi manusia.
Beberapa kasus yang terbongkar ada yang menimbulkan kehebohan: ada yang disingkirkan di muka umum tanpa proses yang transparan, ada yang mendapat tekanan media sampai mengalami gangguan jiwa.
Di sisi lain, ada juga atlet perempuan yang merasa dirugikan saat bertanding melawan lawan yang memiliki keunggulan biologis lebih unggul. Tarik-menarik ini menempatkan organisasi olahraga pada posisi yang sulit: memastikan keadilan sekaligus menghormati hak asasi manusia.
Saat ini, setiap badan olahraga besar memiliki pendekatannya sendiri. IOC tidak lagi memberlakukan tes gender universal, tetapi menyerahkan keputusan kepada federasi internasional masing-masing, sambil merekomendasikan agar setiap peraturan didasarkan pada bukti ilmiah dan menghormati martabat atlet.
Mulai tahun 2025, WA akan memperkenalkan pengujian gen SRY wajib sebelum kejuaraan untuk menentukan identitas gender perempuan.
World Aquatics menetapkan batasan pubertas dan membuka kategori “terbuka” bagi atlet yang tidak memenuhi kriteria pria-wanita tradisional.
Manganang sebelum dan sesudah pergantian kelamin - Foto: FB
Dalam cabang tinju, World Boxing mulai Mei 2025 mewajibkan pengujian genetik PCR untuk menyingkirkan keberadaan kromosom Y pada pertandingan putri.
Sementara itu, Federasi Bola Voli Internasional (FIVB) sejauh ini cukup samar dalam pengujian gender.
Secara spesifik, mereka mengizinkan atlet untuk mengubah gender mereka satu kali. Perubahan ini harus disetujui oleh Komite Kelayakan Gender, dengan kesimpulan bahwa perubahan gender ini tidak menciptakan keuntungan yang tidak wajar bagi atlet.
FIVB juga mengatakan bahwa mereka tidak melakukan tes gender massal, tetapi hanya dalam kasus-kasus yang menimbulkan kecurigaan jelas.
Secara keseluruhan, kisah tentang tes gender belum terintegrasi secara menyeluruh di perkampungan olahraga. Setiap federasi dan setiap cabang olahraga memiliki kriteria yang berbeda, dan IOC sejauh ini masih bingung dalam memberikan sikap yang jelas.
Akhir yang bahagia untuk Manganang?
Beberapa tahun yang lalu, komunitas bola voli Asia Tenggara terlibat dalam kontroversi seputar atlet Indonesia Aprilia Manganang, yang didiagnosis dengan kelainan medis "hipospadia" (malformasi genitourinari bawaan).
Manganang harus hidup sebagai seorang wanita selama 28 tahun, sebelum menyelesaikan prosedur penggantian kelamin pada tahun 2021.
Tentu saja, ia juga pensiun dari tim voli putri Indonesia, dan federasi voli nasional memutuskan untuk tidak mencabut prestasi apa pun dari Manganang karena ia tidak bersalah. Pada tahun 2022, media Indonesia melaporkan bahwa Manganang telah menikah dan hidup bahagia.
Sumber: https://tuoitre.vn/lang-the-thao-the-gioi-va-cau-chuyen-kiem-tra-gioi-tinh-20250812204638561.htm
Komentar (0)