Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Độc lập - Tự do - Hạnh phúc

Penemuan menarik: Orang optimis memiliki 'frekuensi' otak yang sama

Dalam penelitian tersebut, orang-orang dengan sikap optimis terhadap masa depan menunjukkan pola aktivitas saraf yang sangat mirip saat memikirkan peristiwa yang sama.

Báo Tuổi TrẻBáo Tuổi Trẻ04/08/2025


người lạc quan - Ảnh 1.

Ketika kita mengatakan kita "berada pada frekuensi yang sama" dengan seseorang, itu bukan sekadar metafora, tetapi sebenarnya ada pada tingkat fisik di otak - Ilustrasi: FRREPIK

Ilmuwan Jepang baru saja membuktikan bahwa orang optimis sebenarnya "selaras" dalam hal berpikir, berkat aktivitas otak yang sangat mirip ketika mereka membayangkan masa depan.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Kuniaki Yanagisawa dari Universitas Kobe melakukan percobaan terhadap 87 sukarelawan, dibagi menjadi dua kelompok dengan kecenderungan yang jelas untuk berpikir optimis atau pesimis.

Para relawan diminta untuk membayangkan berbagai kejadian di masa depan, sementara otak mereka dipantau menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), yang merekam pola aktivitas saraf secara rinci.

Hasil mengejutkan menunjukkan bahwa orang yang optimistis tentang masa depan menunjukkan pola aktivitas saraf yang sangat mirip ketika memikirkan peristiwa yang sama. Sebaliknya, orang yang pesimistis memiliki beragam cara membayangkan masa depan dan tidak menunjukkan kesamaan yang jelas.

Untuk melihat perbedaan ini dalam perspektif, tim mengambil inspirasi dari kalimat pembuka karya terkenal Leo Tolstoy, "Anna Karenina", dan menyimpulkan: "Semua orang optimis itu sama, tetapi setiap orang pesimis membayangkan masa depan dengan caranya sendiri."

“Yang istimewa dari penelitian ini adalah bahwa gagasan abstrak tentang ‘sinkronisitas pikiran’ sebenarnya dapat diamati dengan jelas melalui pola aktivitas otak,” tambah Dr. Yanagisawa.

Orang optimis juga menunjukkan perbedaan yang lebih jelas antara skenario positif dan negatif. Ini berarti mereka tidak berusaha menutupi situasi buruk, melainkan memproses situasi negatif dengan cara yang lebih jauh dan abstrak, sehingga mengurangi dampak emosional negatif.

Temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa orang optimis cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dan lebih positif, serta lebih puas dengan hidup mereka. "Sinkronitas" otak ini mungkin menjadi fondasi penting yang membantu mereka berempati dan terhubung satu sama lain.

Menurut Dr. Yanagisawa, perasaan sehari-hari bahwa kita "sejajar" dengan orang lain bukanlah metafora belaka, melainkan benar-benar ada pada tingkat fisik di dalam otak. Namun, ia juga memunculkan pertanyaan baru: Apakah mekanisme "selaras" ini bawaan atau berkembang seiring waktu melalui pengalaman sosial dan dialog?

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk lebih memahami kesepian dan faktor-faktor yang mendorong komunikasi, dengan tujuan menciptakan masyarakat tempat orang-orang lebih memahami dan berbagi.

Kembali ke topik
VNA

Sumber: https://tuoitre.vn/phat-hien-thu-vi-nhung-nguoi-lac-quan-co-cung-tan-so-nao-20250803112500298.htm


Topik: otak

Komentar (0)

No data
No data

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Jet tempur Su-30-MK2 jatuhkan peluru pengacau, helikopter mengibarkan bendera di langit ibu kota
Puaskan mata Anda dengan jet tempur Su-30MK2 yang menjatuhkan perangkap panas yang bersinar di langit ibu kota
(Langsung) Gladi bersih perayaan, pawai, dan pawai Hari Nasional 2 September
Duong Hoang Yen menyanyikan "Tanah Air di Bawah Sinar Matahari" secara a cappella yang menimbulkan emosi yang kuat

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

No videos available

Berita

Sistem Politik

Lokal

Produk