Tidak hanya memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi makro , pasar real estat juga berkontribusi dalam mengendalikan inflasi, memastikan keseimbangan utama, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, selain hasil positif, perkembangan "panas" di bidang ini baru-baru ini real estat telah mengungkap berbagai keterbatasan dan potensi risiko, seperti: ketidakseimbangan pasokan dan permintaan properti, terutama harga rumah yang masih tinggi dibandingkan pendapatan masyarakat; pengelolaan lahan di beberapa daerah masih memiliki kekurangan; di beberapa daerah terdapat fenomena pembagian tanah, subdivisi, dan penjualan tanah yang tidak terkendali...
Di samping itu, aktivitas pasar properti masih minim publikasi dan transparansi akibat minimnya sistem informasi, lemahnya pengawasan terhadap aktivitas lantai bursa dan aktivitas perantara properti, sehingga mengakibatkan harga-harga yang "kacau" dan harga transaksi properti yang "virtual".
Lebih dari setahun yang lalu, tanah yang dilelang di distrik Hoai Duc, sekitar 25 km dari pusat kota Hanoi, diumumkan akan dilelang tiga kali dengan harga awal lebih dari 60 juta VND. Namun, tidak ada investor yang berpartisipasi, sehingga lelang tersebut gagal. Situasi lelang tanah yang suram ini juga terjadi di banyak distrik pinggiran pada saat itu.
Namun kini, sebidang tanah yang sama, yang terletak lebih dari satu jam perjalanan dari pusat kota, telah dilelang dengan harga lebih dari 100 juta VND, dengan harga tertinggi lebih dari 133 juta VND per meter persegi. Akibat demam tanah di distrik-distrik pinggiran kota yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, harga apartemen dan rumah di Hanoi melonjak ke titik tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Faktanya, "demam" tanah dan perumahan tidak hanya menimbulkan konsekuensi sosial, tetapi juga sangat memengaruhi pembangunan sosial-ekonomi di daerah. Terutama ketika harga tanah melonjak, ketika proyek-proyek sedang berjalan, harga ganti rugi tanah akan berlipat ganda, yang akan memengaruhi pelaksanaan proyek-proyek sosial-ekonomi.
Hal ini juga menimbulkan banyak sengketa tanah, yang menyebabkan kekacauan sosial dan ketidakamanan.
Alasan di balik ketidakstabilan dan ketidaksehatan pasar properti antara lain: sistem hukum yang berkaitan dengan investasi, konstruksi, dan bisnis properti masih memiliki beberapa kekurangan; pelaksanaan investasi dan konstruksi proyek properti di sebagian besar daerah menghadapi banyak kesulitan, yang menyebabkan penurunan pasokan properti dan perumahan komersial secara signifikan dibandingkan dengan periode sebelumnya; harga properti, terutama harga rumah dan tanah, terus meningkat dan terlalu tinggi dibandingkan dengan pendapatan masyarakat.
Sementara itu, pengendalian aliran modal investasi ke sektor properti belum ketat, masih terdapat potensi risiko, adanya fenomena manipulasi, kurangnya publisitas dan transparansi terkait aktivitas perusahaan properti di pasar modal; obligasi korporasi properti berkembang pesat, minimnya agunan, adanya fenomena penerbitan obligasi, mobilisasi modal namun tidak digunakan untuk tujuan yang tepat...
Diperkirakan pada periode 2024-2025, kendala dalam persetujuan proyek perumahan baru akan teratasi dan pasar properti akan pulih ketika Undang-Undang Pertanahan 2024 dilaksanakan sesuai jadwal.
Untuk memastikan perkembangan pasar properti yang sehat dan berkontribusi lebih positif terhadap perkembangan perekonomian, kementerian, lembaga, dan sektor terkait perlu berkoordinasi secara sinkron dalam meneliti dan menyempurnakan sistem hukum di sektor properti, memastikan sinkronisasi, serta menciptakan kerangka hukum dan kondisi yang memungkinkan pasar properti berkembang secara stabil, sehat, dan berkelanjutan. Situasi dan perkembangan pasar properti perlu dipantau secara ketat, serta proyek perumahan dan bisnis properti perlu dikaji dan segera diatasi hambatan dalam prosedur investasi, pertanahan, perencanaan, dan konstruksi.
Pihak berwenang perlu terus mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan dan merestrukturisasi kredit properti, memastikan penggunaan yang tepat, dan menghindari risiko; meninjau dan mengubah peraturan yang terkait dengan lelang hak penggunaan tanah dan penetapan harga tanah untuk memastikan konsistensi dan kesesuaian dengan realitas setempat; memperkuat manajemen negara dalam perencanaan, konstruksi, pasar properti dan pengelolaan tanah di daerah, untuk mengambil langkah-langkah untuk mengelola dan mencegah pembagian dan penjualan tanah yang tidak sesuai dengan peraturan dan perencanaan.
Sejalan dengan itu, perlu ditingkatkan efektivitas pengawasan, pemeriksaan, dan penelaahan terhadap penyelenggaraan lelang hak atas tanah, lelang proyek, pelaksanaan proyek real estat, kegiatan usaha real estat, agar pelanggaran dapat segera dideteksi dan ditindak tegas sesuai kewenangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan; mengarahkan percepatan penyelesaian prosedur administratif yang berkaitan dengan proyek real estat; memperkuat pengawasan dan pemeriksaan agar dapat segera dibimbing dan ditangani perkara yang menimbulkan kesulitan dan hambatan dalam penyelesaian prosedur administratif bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Sumber
Komentar (0)