Presiden AS Joe Biden akan mengunjungi Papua Nugini pada 22 Mei. (Sumber: Reuters) |
Kunjungan Bapak Biden dijadwalkan pada tanggal 22 Mei, menandai Presiden AS pertama yang sedang menjabat yang mengunjungi Papua Nugini.
Presiden Marape mengonfirmasi bahwa selama kunjungan mitranya dari AS, kedua pihak akan menandatangani dua perjanjian keamanan terkait kerja sama pertahanan dan pengawasan maritim. Rincian perjanjian tersebut akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.
"Penandatanganan ini akan memberikan nilai tambah bagi keamanan internal kita, sekaligus memperkuat angkatan darat, kepolisian, dan angkatan laut kita," ujar Presiden Marape kepada radio 100FM .
Menurut pemimpin tersebut, AS adalah "mitra keamanan kami yang kuat, tetapi diam-diam, jauh di balik layar. Kini, untuk pertama kalinya, mereka melangkah keluar, melangkah maju, berinteraksi dengan Papua Nugini lebih dari sebelumnya."
Amerika Serikat memiliki ikatan sejarah dan nasional yang mendalam dengan negara-negara kepulauan Pasifik Selatan dan telah menjadi kekuatan militer utama di kawasan tersebut sejak Perang Dunia II. Namun, Pasifik Selatan semakin menjadi arena bagi negara-negara besar untuk bersaing memperebutkan pengaruh komersial, politik, dan militer.
China kini menegaskan dirinya melalui perluasan jangkauan diplomatik , investasi, pelatihan polisi dan perjanjian keamanan, terutama pakta keamanan dengan Kepulauan Solomon yang ditandatangani tahun lalu.
Sementara itu, pada tanggal 9 Mei, AS membuka kedutaan besarnya di Tonga dan menyebutkan "kemungkinan menunjuk" duta besar tetap di sana.
Pada bulan Februari, AS juga membuka kembali kedutaan besarnya di Kepulauan Solomon setelah vakum selama 30 tahun. Selain itu, Washington juga berencana membuka kedutaan besar di Vanuatu dan Kiribati.
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)