
Gurun Atacama mekar pada tahun 2017 (Foto: Iflscience).
Fenomena langka yang secara ilmiah dikenal sebagai desierto florido (mekarnya bunga) akan muncul di Gurun Atacama, Chili, September mendatang.
Ini adalah pertama kalinya sejak 2022 daratan paling keras di planet ini ditutupi ratusan bunga liar yang cemerlang, menarik perhatian para ilmuwan dan wisatawan internasional.
Bunga mekar di tempat terkering di bumi
Menurut informasi dari Badan Kehutanan Nasional Chili (CONAF), fenomena desierto florido diperkirakan akan dimulai pada minggu ketiga bulan September, mencapai puncaknya pada bulan Oktober sebelum berakhir pada paruh pertama bulan November.
Jorge Carabantes, kepala kawasan lindung CONAF, mengatakan hamparan bunga akan membentang dari Totoral di utara hingga Caleta Chañaral de Aceituno di selatan. Bunga-bunga berwarna-warni ini akan mengubah lanskap Atacama yang keras dan berbatu menjadi "lautan" bunga yang megah.
Mekarnya bunga gurun tidak umum dan dipicu oleh kombinasi langka antara suhu yang sesuai, sinar matahari yang melimpah, dan hujan yang luar biasa lebat.
Curah hujan sangat penting dan sering dikaitkan dengan fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO), ketika arus laut yang hangat meningkatkan penguapan dan membawa lebih banyak curah hujan dari biasanya.
Jumlah air yang berharga inilah yang memberikan kesempatan pada benih yang telah tersembunyi jauh di dalam tanah selama bertahun-tahun untuk berkecambah dan berbunga.
Vitalitas alam

Bunga mallow merah muda cerah menjadi daya tarik utama di Gurun Atacama (Foto: Getty).
Setiap musim bunga di Atacama menegaskan vitalitas alam yang kuat dalam kondisi yang paling keras.
Di sana, ini bukan hanya menjadi objek wisata , tetapi juga pertanda bahwa alam masih menyimpan banyak misteri, yang memaksa orang untuk terus meneliti dan belajar untuk lebih memahami dampak iklim pada ekosistem paling rapuh di planet ini.
Profesor Ana María Mujica, dari Universitas Katolik Kepausan Chili, mengatakan bahwa dalam 40 tahun terakhir, Gurun Atacama hanya mekar sekitar 15 kali, terutama di wilayah Copiapó dan Huasco.
Hal ini menunjukkan kelangkaan dan nilai penelitian dari fenomena ini. Biasanya, bunga ini hanya mekar sekali setiap satu hingga tujuh tahun, antara bulan September dan November, yang juga merupakan musim semi di Belahan Bumi Selatan.
Namun, siklus ini tidak sepenuhnya stabil. Terdapat dua kali mekarnya bunga matahari berturut-turut pada tahun 2015 dan 2017, sementara pada tahun 2022 terjadi peristiwa yang tidak biasa, yaitu mekarnya bunga matahari di tengah periode La Niña, yang biasanya ditandai dengan rendahnya curah hujan.
Tahun lalu, bunga-bunga di Atacama bermekaran di bulan Juli, di tengah musim dingin. Ini merupakan bukti perubahan iklim yang tak terduga.
Tak hanya menyajikan pemandangan yang menakjubkan, gurun ini juga menjadi "laboratorium alam" yang berharga bagi para ilmuwan. Gurun ini membantu memperjelas hubungan antara perubahan iklim global, fenomena ENSO, dan ekosistem gurun.
Pada saat yang sama, musim bunga juga menarik ribuan wisatawan dari seluruh dunia, membawa nilai budaya dan ekonomi ke wilayah tersebut.
Sumber: https://dantri.com.vn/khoa-hoc/vi-sao-hoa-no-ruc-ro-giua-sa-mac-kho-han-nhat-the-gioi-20250820081122408.htm
Komentar (0)