Situasi ini menimbulkan kebutuhan mendesak untuk memperketat manajemen, meningkatkan kerangka hukum, dan mempromosikan etika profesional dan tanggung jawab sosial untuk membangun lingkungan media digital yang sehat, transparan, dan berkelanjutan.
Ibu Nguyen Thi Mai Huong, Wakil Direktur Departemen Kebudayaan dan Olahraga Hanoi:
Tangani secara ketat perilaku periklanan palsu

Di era perkembangan teknologi digital yang pesat, bisnis media dan Key Opinion Leader (KOL) telah menjadi kekuatan penting, berkontribusi dalam membentuk tren konsumen, gaya hidup, dan pemikiran sosial. Mereka tidak hanya berperan inspiratif, tetapi juga aktif menyediakan informasi, menciptakan produk hiburan, dan menyebarkan pengetahuan, pengalaman, serta keterampilan bermanfaat kepada masyarakat melalui platform digital seperti YouTube, Facebook, dan TikTok. Produk-produk ini tidak hanya menarik minat pemirsa, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran sosial dan menginspirasi kehidupan positif di masyarakat.
Namun, ketenaran tidak hanya mendatangkan ketenaran, tetapi juga membawa tanggung jawab besar. Setiap pernyataan, tindakan, atau konten yang dibagikan oleh KOL memiliki pengaruh yang kuat, yang secara langsung memengaruhi kesadaran dan perilaku jutaan orang, terutama kaum muda. Oleh karena itu, KOL perlu bertindak profesional, mematuhi hukum, menjaga etika profesional, dan senantiasa meningkatkan rasa tanggung jawab sosialnya.
Sayangnya, masih ada beberapa KOL yang memanfaatkan kepercayaan publik untuk kepentingan pribadi, yang berdampak negatif pada masyarakat dan merusak kepercayaan pengguna. Beberapa kasus seperti Hang Du Muc dan Quang Linh Vlogs, yang dulunya dicintai publik tetapi kemudian dituntut karena melanggar hukum, telah membunyikan alarm tentang kelonggaran dalam manajemen konten digital. Yang mengkhawatirkan, beberapa bisnis - bahkan platform e-commerce besar - juga mendukung situs web yang melanggar hukum dengan memasang iklan di platform yang berisi konten ilegal seperti film bajakan, permainan judi, atau konten beracun. Hal ini tidak hanya mendorong pelanggaran tetapi juga menciptakan ketidakadilan bagi KOL yang beroperasi secara legal dan mematuhi hukum. Situasi ini tidak hanya mengikis kepercayaan sosial, memengaruhi citra KOL asli, tetapi juga merusak lingkungan media digital secara serius.
Dalam konteks ini, ke depannya, Departemen Kebudayaan dan Olahraga Hanoi akan meningkatkan propaganda, diseminasi, dan panduan hukum bagi organisasi dan individu yang bergerak di bidang konten digital. Pada saat yang sama, kami akan menghormati dan mendukung para KOL yang menciptakan konten berkualitas, mendukung mereka dalam mengakses sumber informasi resmi, dan memberikan kontribusi positif bagi komunitas. Selain itu, kami juga bertekad untuk menindak tegas bisnis dan platform yang sengaja beriklan secara ilegal, demi melindungi lingkungan media yang bersih dan sehat.
Associate Professor, Dr. Ngo Tri Long, mantan Direktur Institut Penelitian Pasar Harga (Kementerian Keuangan):
Mengisi kesenjangan hukum

Meningkatnya popularitas siaran langsung dan iklan daring menimbulkan banyak risiko etika dan hukum, terutama ketika selebritas mempromosikan produk berkualitas rendah, palsu, atau tidak terverifikasi. Dari perspektif pasar, hal ini merupakan manifestasi nyata dari asimetri informasi, ketika konsumen tidak dapat mengevaluasi produk sendiri, melainkan hanya bergantung pada reputasi dan citra promotor. Tanpa mekanisme kontrol yang memadai, situasi ini dapat mendistorsi sinyal pasar, mengikis kepercayaan konsumen, dan secara serius memengaruhi transparansi dan stabilitas di bidang barang dan jasa, terutama perdagangan elektronik (e-commerce). Faktanya, banyak kasus selebritas yang beriklan melanggar peraturan terkait obat-obatan, kosmetik, dan pangan fungsional, yang mengakibatkan konsumen menderita kerugian kesehatan dan finansial. Namun, sanksi yang dijatuhkan belum sepadan dengan dampaknya.
Ini adalah celah hukum yang perlu segera diatasi. Baru-baru ini, Majelis Nasional telah mengesahkan Undang-Undang yang mengubah dan melengkapi sejumlah pasal dalam Undang-Undang Periklanan, yang menambahkan peraturan baru tentang hak dan kewajiban pihak-pihak yang mentransmisikan produk periklanan, terutama selebritas. Selain itu, menurut saya, platform digital—tempat kegiatan periklanan berlangsung—juga perlu memiliki mekanisme sensor dan peringatan yang transparan seperti kewajiban pelabelan "konten bersponsor", pengungkapan informasi kepada publik tentang pemasok produk, atau bahkan pra-pemeriksaan dengan beberapa kelompok produk sensitif (medis, makanan, dll.).
Yang terpenting, para selebritas sendiri perlu menyadari bahwa reputasi sosial adalah aset terbesar mereka. Jangan menukar kepercayaan publik demi keuntungan jangka pendek. Tanggung jawab sosial bukan hanya standar etika, tetapi juga faktor vital dalam lingkungan media modern.
Ibu Le Thi Thuy Hanh, komune Thien Loc, Hanoi:
Sanksi yang tegas diperlukan bagi artis yang melakukan iklan palsu.

Sebagai seorang ibu dan guru prasekolah, saya sungguh kecewa ketika dulu memercayai dan merekomendasikan produk susu HIUP kepada banyak orang tua hanya karena melihat artis-artis terkenal mengiklankannya. Dulu saya berpikir bahwa orang-orang terkenal pasti sudah memastikan kualitasnya sebelum berani memperkenalkannya kepada publik. Namun, tak disangka, produk tersebut kemudian diketahui palsu. Saya sungguh terkejut dan merasa dikhianati.
Tak hanya susu untuk anak-anak saya, banyak produk di keluarga saya, mulai dari makanan fungsional, kosmetik, hingga perlengkapan rumah tangga, juga dipilih semata-mata berdasarkan kepercayaan pada pujian dari para artis di media sosial. Kekaguman terhadap para idola membuat saya dan banyak konsumen lain dengan mudah mengabaikan riset informasi produk yang cermat.
Dari pengalaman tersebut, saya percaya bahwa ketika selebritas mengaitkan nama mereka dengan suatu produk, hal itu merupakan bentuk "komitmen implisit" kepada publik. Hal ini bukan hanya tindakan komersial, tetapi juga tanggung jawab sosial. Jika produk tersebut palsu atau berkualitas buruk, artis tersebut tidak bisa dianggap tidak bersalah. Mereka memang diuntungkan oleh ketenaran mereka, tetapi mereka juga harus bertanggung jawab ketika menggunakan reputasi tersebut untuk mempromosikan produk yang melanggar hukum dan merugikan konsumen. Oleh karena itu, saya merekomendasikan agar ada sanksi hukum yang cukup kuat untuk mencegah situasi periklanan yang tidak bertanggung jawab dan meluas saat ini.
Sumber: https://hanoimoi.vn/xu-ly-nghiem-vi-pham-xay-dung-moi-truong-truyen-thong-lanh-manh-709957.html
Komentar (0)