Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bersiap memberikan hukuman tambahan kepada Thailand dan Indonesia menyusul perkelahian di final SEA Games ke-32.
Komang Agung (nomor punggung 4) dan kiper Soponwit Rakyart (kaos kuning) berebut setelah skor berubah menjadi 3-2. Foto: AFP
Situs web Ball Thai Stand melaporkan bahwa AFC telah mengirimkan pemberitahuan kepada Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) terkait penerapan sanksi tambahan. AFC berpendapat bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh FAT dan Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) belum memadai.
"AFC meninjau video tersebut dan menemukan banyak pelanggar, tetapi mereka tidak dihukum," BTS mengutip sumber dari FAT. "AFC akan memberikan sanksi tambahan kepada mereka yang terlibat dan mendenda FAT dan PSSI."
Di pihak Thailand, FAT sedang menjelaskan detailnya untuk memastikan bahwa hukuman yang mereka berikan sudah tepat. Namun, hal itu tidak mengubah keputusan AFC untuk memberikan hukuman tambahan.
Final sepak bola putra SEA Games ke-32 di Phnom Penh (Kamboja) berakhir pada malam 16 Mei dengan kemenangan Indonesia atas Thailand 5-2 setelah 120 menit. Namun, momen paling berkesan adalah ketika kedua tim terlibat perkelahian dua kali di akhir babak kedua dan awal babak perpanjangan waktu pertama.
Indonesia dan Thailand bertarung dua kali di laga final SEA Games 32.
Insiden tersebut merusak citra sepak bola Thailand dan Indonesia khususnya, serta Asia Tenggara pada umumnya. Sehari setelah pertandingan, FAT harus mengunggah permintaan maaf atas insiden tersebut dan pada 23 Mei, mengeluarkan sanksi resmi.
Oleh karena itu, pelatih kiper Prasadchok Chokmoh, asisten pelatih Phatrawut Wongsripuek, dan ofisial tim Mayid Madada dilarang bekerja untuk tim nasional selama satu tahun. Dua pemain yang terlibat dalam perkelahian tersebut, kiper Sohonwit Rakyath dan pemain cadangan Teerapak Pruengna, dilarang bermain untuk tim nasional selama enam bulan. FAT mengatakan akan bersikap lunak terhadap kedua pemain tersebut karena mereka masih muda dan meminta maaf setelah kerusuhan tersebut.
Sementara itu, PSSI tidak memberikan hukuman apa pun. "Mengapa kami harus menghukum para pemain?" tanya Presiden PSSI Thohir kepada seorang wartawan Indonesia dalam konferensi pers di Jakarta pada sore hari tanggal 24 Mei. "Tentu saja, kami akan memperbaikinya. Tapi pada dasarnya, saya pikir itu hanya tindakan spontan ketika diprovokasi dan dapat ditoleransi."
Hieu Luong
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)