
Selain ciri khas yang ada di setiap sudut jalan, jika Anda melihat lebih dekat, Anda akan melihat beberapa tugu batu pelindung yang terletak di sudut-sudut gang kecil atau di bawah pohon-pohon kuno, sederhana bentuknya tetapi mengandung nilai sejarah dan budaya yang menarik.
Beberapa cara umum untuk mengusir roh jahat dan melindungi rumah.
Saat mengunjungi kota kuno Hoi An, wisatawan akan melihat beberapa rumah yang memajang benda-benda simbolis seperti cermin yang dilukis dengan simbol Bagua (delapan trigram), ranting kaktus, dan lain-lain, yang digantung di lokasi tertentu dalam struktur arsitektur, yang diyakini orang dapat menangkal nasib buruk.
Banyak rumah kayu memiliki lubang intip pintu yang terletak tepat di atas pintu masuk utama. Lubang intip pintu ini hadir dalam berbagai bentuk dan warna, seringkali menampilkan simbol yin-yang di tengah dan simbol trigram (bagua) di sekeliling tepinya. Selain fungsi arsitekturalnya, lubang intip pintu ini juga memiliki tujuan dekoratif dan membawa makna spiritual.
Penduduk kota tua percaya bahwa kusen jendela berfungsi sebagai jimat pelindung, mencegah roh jahat memasuki rumah, membantu pemilik rumah menghindari kemalangan, nasib buruk, kegagalan bisnis, dan memastikan kehidupan yang damai dan bahagia.
Salah satu struktur pelindung terpenting dan terkenal di Kota Tua Hoi An adalah Jembatan Jepang (Chua Cau). Selain fungsinya sebagai jembatan penghubung lalu lintas dan tempat ibadah (yang didedikasikan untuk dewa Bac De Tran Vo), monumen ini juga diyakini memiliki fungsi untuk mengusir roh jahat (menurut kepercayaan kuno) untuk mencegah banjir dan tanah longsor, serta melindungi kehidupan damai penduduk setempat.
Selain metode yang disebutkan di atas, di Hoi An, orang-orang zaman dahulu juga menggunakan prasasti batu untuk mengusir roh jahat. Mereka yang sering berjalan-jalan di lorong-lorong kota tua terkadang akan menemukan beberapa prasasti batu berukuran sedang, tetapi hanya sedikit yang memahami makna prasasti-prasasti tersebut.
Mengikuti lempengan batu itu...
Di pagar yang mengelilingi gereja klan Le Doan (Jalan Phan Chau Trinh No. 44/20), di kedua sisi gerbang masuk utama, terdapat dua prasasti batu yang dipasang di pagar, bertuliskan aksara Tionghoa dan dicat putih. Pembakar dupa diletakkan di depan prasasti untuk ibadah khidmat.

Di sebelah kiri prasasti (jika dilihat dari dalam rumah), terdapat prasasti batu pasir lain dengan aksara dan gambar Tiongkok. Aksara pada prasasti tersebut sudah pudar dan tidak terbaca, tetapi dapat dipastikan bahwa itu adalah prasasti pelindung. Di tengah prasasti, secara vertikal, terdapat tiga aksara Tiongkok. Aksara pertama bisa jadi 勅 (sè), aksara kedua 魂 (hún) atau 鬼 (quǐ), dan aksara terakhir 鎭 (zhèn).
Di dinding pembatas utara (bersebelahan dengan sudut gang beton) di belakang rumah nomor 19 Jalan Le Loi, terdapat sebuah prasasti batu kecil berbentuk persegi panjang, tertanam di ceruk dinding. Bagian atasnya menggambarkan kepala hewan (harimau?), dan bagian bawahnya bertuliskan tiga karakter: 石 敢 當 (Thach Cam Duong), yang menimbulkan rasa ingin tahu tentang maknanya. Selain prasasti ini, prasasti Thach Cam Duong lainnya tersimpan di Museum Kebudayaan Rakyat (Jalan Nguyen Thai Hoc 33).
Ini adalah sejenis jimat pelindung yang dibawa oleh orang Tionghoa ketika mereka datang ke Hoi An untuk berbisnis. Thach Cam Duong (yang berarti batu yang mampu menangkal segala kejahatan), nama lengkapnya adalah "Thai Son Thach Cam Duong".
Pada zaman dahulu, masyarakat Tiongkok percaya bahwa bebatuan di Gunung Tai memiliki kekuatan spiritual dan ilahi.
Menurut legenda, pada masa Dinasti Han, Kaisar Han Wudi mendaki Gunung Tai dan membawa kembali empat batu, lalu menempatkannya di empat sudut istananya untuk mengusir kekuatan jahat dan membawa berkah bagi negara. Lambat laun, orang-orang mulai menganggap batu-batu itu sebagai dewa yang mampu mengusir kejahatan, mengendalikan banjir, mencegah bencana, dan membawa perdamaian.
Prasasti pelindung "Thạch Cảm Đương" memiliki bentuk yang beragam tergantung pada lokasinya; beberapa berbentuk bulat, beberapa memiliki relief seperti kepala singa dan harimau di bagian atas, atau menampilkan simbol Bagua (delapan trigram). Beberapa prasasti tidak berhias, hanya bertuliskan tiga karakter "Thạch Cảm Đương".
Tugu-tugu ini sering ditempatkan di dalam rumah, di dinding, atau di persimpangan atau jalan tempat terjadi konflik dalam feng shui untuk mengusir roh jahat dan mengurangi kesialan.
Banyak orang menganggap ritual pengusiran setan sebagai praktik takhayul, cara untuk mencari ketenangan ketika menghadapi kesulitan dan kemalangan dalam hidup. Namun, dari perspektif lain, ritual pengusiran setan dapat dilihat sebagai bentuk kepercayaan rakyat.
Benda-benda pelindung melambangkan keberadaan kekuatan ilahi, bertindak sebagai perantara yang menghubungkan ilahi dan manusia, menyampaikan keinginan dan aspirasi manusia dalam hidup.
Terlepas dari bentuknya, jimat pelindung adalah warisan yang ditinggalkan oleh leluhur kita dan diwariskan dari generasi ke generasi, mencerminkan harapan sederhana dan mendasar untuk perdamaian, keberuntungan, dan perlindungan dari kemalangan dan kejahatan.
Sumber: https://baodanang.vn/bia-da-tran-yem-o-hoi-an-3299042.html






Komentar (0)