(CLO) Upacara pindah rumah untuk berterima kasih kepada para dewa dan leluhur atas perlindungan dan bantuan mereka dalam membangun rumah baru, dan juga untuk membantu pemilik rumah memiliki bisnis yang makmur dan sehat di masa depan, merupakan ritual penting dalam festival siklus hidup masyarakat Ede di Dataran Tinggi Tengah.
Upacara ini penting, sehingga pemilik rumah mempersiapkannya dengan saksama. Persembahan yang dibawa meliputi: 1 ekor babi, 1 ekor ayam, dan 5 guci anggur yang diikatkan pada pilar-pilar Gong yang telah diukir dan didirikan sebelumnya, disusun secara vertikal di ruang utama rumah baru; 7 cincin tembaga dikenakan pada telinga guci-guci anggur. Orang-orang menggunakan cat merah, pewarna merah, atau darah babi untuk dioleskan pada pilar-pilar tersebut sebagai simbol kekayaan, kedamaian, dan kebahagiaan.
Dukun memasuki upacara (Foto: Nhu Quynh).
Dengan pakaian adat yang rapi, sang dukun melapor kepada para dewa mengenai rumah yang baru selesai dibangun, kemudian melakukan penghormatan kepada para leluhur, memohon agar para dewa dan leluhur senantiasa melindungi rumah tersebut, agar semua orang selalu sehat dan aman, agar selalu bersatu dan dekat satu sama lain, agar hidup sejahtera, dan agar hasil panennya melimpah.
Pada upacara tersebut, setelah persembahan disiapkan sepenuhnya, gong dibunyikan untuk memberi isyarat kepada kerabat dekat maupun jauh bahwa keluarga tersebut memiliki acara yang bahagia, dan mengundang semua orang untuk menghadiri upacara tersebut. Pemilik rumah menyalakan tungku api di dalam rumah, dengan harapan untuk berdoa memohon kehangatan dan kelimpahan. Dukun membacakan doa untuk mengundang para dewa menyaksikan ketulusan pemilik rumah dengan makna: "Oh Yang! Kami sampaikan kepada kakek-nenek dan leluhur kami bahwa keturunan kami telah kembali ke tempat baru, telah membangun desa, sebuah rumah, mengundang kakek-nenek dan leluhur kami untuk menghadiri upacara ini, dan memberkati keturunan kami, dan penduduk desa dengan kesehatan yang baik, keberuntungan, dan desa yang bersatu dan sejahtera. Oh Yang!".
Ritual-ritual berikut juga dilakukan secara bergantian; di antaranya, ritual mencuci rumah dianggap paling penting oleh orang Ede.
Pada upacara ini, pemilik rumah duduk di depan guci anggur menghadap dukun, dan semua orang di rumah menyalakan tungku api. Dukun membacakan doa yang artinya: "Oh Yang! Datanglah ke sini untuk menyaksikan upacara rumah baru pasangan Ede ini. Tangga telah dibangun, kursi K'pan telah dihaluskan, tungku telah dinyalakan. Para dewa mohon jaga keturunannya, kerabat Ede. Melihat gubuk yang rusak, melihat rumah yang hampir runtuh, matahari sore, hujan yang turun, kami telah melapor kepada para dewa."
Kini, rumah itu telah rampung, meskipun belum indah, tetapi pilar-pilarnya telah diukir, lukisan-lukisan telah dipotong, persembahannya berupa babi, ayam, dan anggur sudah cukup. Oh Yang!”. Setelah berdoa, dukun mengambil anggur dan memberikannya kepada pemilik rumah untuk diminum, lalu memasangkan gelang tembaga di tangan ayah pemilik rumah, dengan makna mendoakan agar para pria dalam keluarga selalu sehat untuk mengemban tanggung jawab, agar keluarga tetap damai dan bahagia.
Pemilik rumah duduk di depan kendi anggur menghadap dukun (Foto: Nhu Quynh).
Setelah upacara, dukun mengambil nasi, daging, dan anggur untuk dimakan anggota keluarga bersama para dewa, dan mengundang kerabat dari kedua belah pihak untuk makan dan minum guna menikmati persembahan Yang.
Sepanjang upacara, gong terus berdentang, yang merupakan pesan untuk berdoa dan memohon keberuntungan, kemakmuran, dan kedamaian hidup kepada Yang. Suara gong semakin merdu menjelang akhir upacara, karena pada saat itu pula tuan rumah melakukan upacara persembahan anggur, dan hidangan mewah pun dihidangkan untuk mengundang kerabat dan tamu terhormat. Di rumah baru, semua orang berkumpul untuk menyantap nasi, menikmati anggur, dan menghayati alunan gong yang unik.
Menurut dukun, di masa lalu, upacara pemujaan melewati lima tahap: pertama, pemujaan Yang (roh) untuk melaporkan rumah baru kepada roh, kemudian pemujaan leluhur, pemujaan untuk membersihkan rumah, pemujaan untuk mendoakan kesehatan ayah, ibu, anak, dan cucu, serta ucapan selamat kepada pemilik rumah atas rumah barunya. Saat ini, upacara pemujaan telah banyak disederhanakan oleh masyarakat Ede, tergantung pada keadaan dan kondisi masing-masing keluarga, namun tetap mengikuti ritual adat dan sangat khidmat.
[iklan_2]
Sumber: https://www.congluan.vn/doc-dao-le-cung-mung-nha-moi-cua-nguoi-edetai-tay-nguyen-post330073.html
Komentar (0)