Menurut FAM, banyak pemain naturalisasi yang bermain di Spanyol, Argentina, Kolombia, dan Jepang tidak dapat kembali bergabung dengan tim nasional karena penyelenggara memindahkan pertandingan beberapa hari, yang menyebabkan jadwal pertandingan berada di luar FIFA Days, dari 29 Agustus hingga 8 September, bukan 1 hingga 9 September.
Apa yang Terjadi dengan Hasilnya?
Hal ini memaksa Malaysia untuk hanya menggunakan pemain lokal dan daya saing mereka pun menurun drastis, sekaligus menimbulkan risiko penurunan peringkat FIFA. Menghadapi situasi ini, FAM terpaksa mundur untuk mempertahankan prestasi dan memastikan rencana jangka panjang mereka.
Malaysia tergabung dalam grup yang sama dengan Iran, Tajikistan, dan Afghanistan, dan mengonfirmasi keikutsertaan mereka pada 23 Juni, sebelum mengundurkan diri di menit-menit terakhir. Jika mereka terus berpartisipasi dan Malaysia berhasil lolos dari babak penyisihan grup, mereka akan menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Uzbekistan, Kirgistan, atau Oman di babak selanjutnya.
Minimnya pemain naturalisasi membuat Malaysia takut hadapi tim Asia Tengah
Hal itu membuat Federasi Sepak Bola negara itu khawatir bahwa tanpa skuad terkuat, berpartisipasi dalam turnamen tidak lagi memiliki makna strategis.
Pelatih kepala Peter Cklamovski mengakui bahwa ini merupakan keputusan yang sulit namun perlu, agar dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kualifikasi Piala Asia 2027 pada bulan Oktober dan November. Ia juga dengan jujur mengatakan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada pemain naturalisasi menyebabkan banyak masalah, baik secara profesional maupun di mata publik.
Meski sempat memberi kesan kuat dengan kemenangannya atas Vietnam pada bulan Juni, keputusan ini menunjukkan Malaysia masih belum cukup percaya diri untuk meraih target yang lebih tinggi di kancah kontinental.
Source: https://nld.com.vn/malaysia-so-thua-rut-khoi-giai-trung-a-vi-thieu-cau-thu-nhap-tich-196250716191309853.htm
Komentar (0)