![]() |
| Acar bawang bombai dan bawang merah buatan ibuku, hidangan tradisional Tahun Baru, bagaikan surga kenangan yang tak akan pernah pudar. |
Cara ibuku mengawetkan bawang sama telitinya dengan menyiapkan hadiah untuk musim semi. Ia memilih bawang yang berukuran sedang, bulat, keras, dan ujung akarnya masih utuh; ia merendamnya semalaman dalam air abu kayu untuk menghilangkan rasa pedasnya.
Ibu saya mengatakan bahwa untuk membuat acar bawang yang lezat, Anda harus mengupasnya dengan sangat hati-hati: hanya kupas lapisan terluar yang keras, biarkan lapisan yang lembut tetap utuh sehingga bawang tetap putih dan kenyal setelah diacar. Jika Anda mengupas terlalu dalam, bawang akan mudah "terbakar," menyerap air, dan cepat busuk.
Setelah mengupas bawang, ibuku mencucinya hingga bersih dan membiarkannya kering. Sementara itu, ia menyiapkan air garam: cukup asin, tidak terlalu dingin, dan tidak terlalu panas. Untuk memberikan fermentasi yang lebih lembut dan rasa manis yang halus pada bawang, ia menambahkan beberapa potong tebu yang sudah dikupas ke dalam toples; ini memberikan rasa manis alami dan aroma tanah yang harum pada acar bawang. Menambahkan beberapa tangkai cabai merah dan beberapa siung bawang putih yang dihaluskan, ia menggunakan saringan bambu untuk menutup toples agar bawang terendam merata dalam air garam; semuanya tercampur rata, beristirahat dengan tenang di dalam toples tanah liat, seolah menunggu saat peralihan dari tahun lama ke tahun baru.
Sekitar dua minggu kemudian, hanya dengan mengangkat tutup toples, aroma acar bawang yang ringan dan lembut tercium, samar-samar mengingatkan pada Tet (Tahun Baru Vietnam). Bawangnya putih bersih, dengan ujung sedikit ungu, renyah dan garing, rasanya perpaduan antara rasa asam yang tajam, manis dari tebu, pedas dari cabai, dan sedikit rasa asin yang pas. Ibu saya menggunakan sendok sayur bersih untuk menyendok bawang putih dan ungu yang mengkilap itu ke piring kecil yang cantik. Bersama piring berisi ayam rebus, daging jeli, kue beras ketan, dan sosis babi, hidangan acar bawang sederhana ini mencerahkan seluruh hidangan, merangsang semua indra perasa.
Ambil saja bawang bombai, gigit perlahan, dan dengarkan bunyi "kriuk" yang menyenangkan; rasa asam yang tajam di lidah, sedikit rasa asin, sedikit rasa pedas, sedikit rasa manis—semuanya bercampur menjadi satu untuk membuat daging berlemak atau ham dingin terasa lebih lengkap. Oleh karena itu, sepiring bawang bombai acar sangat penting di meja makan saat perayaan Tet, seperti nada yang melengkapi simfoni kuliner musim semi.
![]() |
Bukan kebetulan jika saat membicarakan Tet (Tahun Baru Vietnam), semua orang teringat pepatah: "Daging babi berlemak, acar bawang, bait-bait merah / Tiang Tahun Baru, petasan, kue ketan hijau." Dalam suasana Tet tradisional, acar bawang berdiri berdampingan dengan daging babi berlemak, kue ketan, dan bait-bait merah sebagai simbol reuni dan kemakmuran. Acar bawang menyeimbangkan kekayaan rasa, membuat hidangan Tet lebih harmonis dan menyegarkan, seperti sorotan yang mempertahankan rasa kesederhanaan di tengah berkumpulnya keluarga. Bagi masyarakat Vietnam, sepiring acar bawang bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga simbol Tet, cara untuk mengingat musim reuni.
Kini, setelah bertahun-tahun berjauhan, Tet terkadang hanya datang melalui kalender, bukan melalui aromanya. Tetapi setiap kali saya mencium aroma asam lembut bawang acar, hati saya kembali ke kota kecil tempat saya dibesarkan: tempat ibu saya bekerja keras di samping panci tanah liat cokelatnya, tempat tawa dan petasan bergema dalam ingatan saya. Di sanalah saya memiliki masa kecil yang sederhana namun sangat hangat.
Bagiku, acar bawang bombai dan bawang merah buatan ibuku saat Tet (Tahun Baru Vietnam) bagaikan surga kenangan, membangkitkan aroma Tet, melestarikan cita rasa liburan, masa kecilku, dan cinta abadi untuk tanah airku.
Ngoc Mai
Sumber: https://baotuyenquang.com.vn/van-hoa/202602/mui-tet-cua-me-9e032ea/









Komentar (0)