(CLO) Pada tanggal 10 Desember, seorang pria Jepang berusia 92 tahun, salah satu penyintas bom atom AS di Nagasaki pada tahun 1945, menceritakan momen menyakitkan dari bencana yang disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri, ketika ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini atas nama organisasinya.
Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini diberikan kepada Nihon Hidankyo, sekelompok penyintas bom atom di Jepang yang telah bekerja selama hampir 70 tahun untuk menegakkan larangan senjata nuklir.
Dalam pidato penerimaannya di Balai Kota Oslo, disaksikan oleh keluarga kerajaan Norwegia, Terumi Tanaka (92 tahun), salah satu penyintas bom atom AS di Nagasaki pada tahun 1945, mengatakan: "Negara adikuasa nuklir Rusia mengancam akan menggunakan senjata nuklir dalam perang dengan Ukraina, dan seorang anggota kabinet Israel, di tengah serangan gencarnya di Gaza, juga menyebutkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir."
“Saya sangat sedih dan marah karena tabu nuklir terancam dilanggar,” lanjutnya.
Bapak Terumi Tanaka mengakhiri pidatonya di upacara Penghargaan Nobel Perdamaian pada 10 Desember. Foto: AP
Dalam pidatonya, Bapak Tanaka mengenang serangan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945, tiga hari setelah bom pertama dijatuhkan di Hiroshima. Ia mengenang suara pesawat pengebom dan "cahaya putih terang" saat bom jatuh, diikuti oleh gelombang kejut yang dahsyat. Tiga hari kemudian, ia dan ibunya mencari kerabat di reruntuhan dekat episentrum.
Pak Tanaka menggambarkan pemandangan memilukan itu: "Banyak orang terluka parah atau terbakar, tetapi masih hidup, ditinggalkan tanpa perawatan. Emosi saya hampir mati rasa, saya hanya fokus pada tujuan saya." Ia menemukan jasad bibi, keponakan, dan kakek keponakannya yang hangus terbakar, yang telah meninggal dunia akibat luka bakar parah tak lama sebelum ia tiba. Total, lima anggota keluarganya meninggal dunia.
Ia menceritakan upaya para penyintas seperti dirinya untuk menggunakan pengalaman mereka dalam berkampanye menentang senjata nuklir, demi kebaikan umat manusia, sekaligus menuntut kompensasi dari pemerintah Jepang atas penderitaan yang mereka alami.
“Keyakinan bahwa senjata nuklir tidak dapat dan tidak boleh hidup berdampingan dengan umat manusia akan diterima oleh warga negara pemilik senjata nuklir dan sekutunya, dan ini akan menjadi kekuatan pendorong perubahan kebijakan nuklir pemerintah,” ujar Bapak Tanaka.
Senjata nuklir telah berkembang pesat dalam kekuatan dan jumlah sejak pertama kali digunakan oleh Amerika Serikat dalam perang di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Pengeboman atom memaksa Jepang untuk menyerah dalam Perang Dunia II, dan menewaskan sekitar 210.000 orang pada akhir tahun 1945. Jumlah korban tewas akibat radiasi dan efek jangka panjangnya jauh lebih tinggi.
Saat para penyintas bencana memasuki usia senja, mereka terus takut bahwa larangan penggunaan senjata nuklir, sebuah prinsip yang dianggap sakral, sedang terkikis.
Dalam pidatonya saat memperkenalkan para pemenang, Jørgen Watne Frydnes, Ketua Komite Nobel, menekankan pentingnya berbagi contoh hidup ini dalam konteks bahaya nuklir yang semakin meningkat.
"Tak satu pun dari sembilan negara pemilik senjata nuklir—Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Prancis, Inggris, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara—saat ini tampak tertarik pada perlucutan senjata nuklir. Sebaliknya, mereka justru memodernisasi dan memperluas persenjataan nuklir mereka," ujar Bapak Frydnes.
Bapak Frydnes juga menekankan bahwa Komite Nobel Norwegia telah menghimbau kepada lima negara pemilik senjata nuklir yang telah menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), termasuk Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Prancis, dan Inggris, untuk secara serius melaksanakan kewajiban mereka berdasarkan perjanjian ini, dan menghimbau kepada negara-negara yang belum meratifikasi perjanjian tersebut untuk melakukan hal yang sama.
Ngoc Anh (menurut AP)
[iklan_2]
Sumber: https://www.congluan.vn/nguoi-doat-giai-nobel-hoa-binh-ke-lai-noi-kinh-hoang-vu-danh-bom-nguyen-tu-post325145.html
Komentar (0)