Terkait dengan hal tersebut, Pasal 138 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Tahun 2015 menyatakan: Orang pribadi atau badan hukum dapat memberi kuasa kepada orang pribadi atau badan hukum lain untuk mengadakan dan melakukan perbuatan hukum perdata.
Membayar denda pelanggaran lalu lintas dan mengambil kembali kendaraan yang disita merupakan transaksi perdata yang normal, sehingga pelanggar dapat sepenuhnya memberi wewenang kepada orang lain untuk melaksanakan prosedur pembayaran denda pelanggaran dan mengambil kembali kendaraan yang disita.
Saat membuat surat kuasa, surat kuasa tersebut harus memiliki stempel pengesahan dari Komite Rakyat kelurahan tempat tinggal orang tersebut atau pengesahan dari notaris. Surat kuasa harus mencantumkan dengan jelas nomor induk kependudukan orang yang memberi kuasa dan orang yang menerima kuasa.
Dalam melaksanakan prosedur pembayaran denda pelanggaran lalu lintas atau penarikan kembali kendaraan yang disita dalam hal ada izin, pejabat yang berwenang perlu menyiapkan dokumen-dokumen berikut:
Surat kuasa pembayaran denda pelanggaran lalu lintas wajib memiliki stempel pengesahan dari instansi terkait di tempat tinggal pejabat yang berwenang atau dilegalisasi oleh notaris sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Catatan denda pelanggaran lalu lintas; Fotokopi KTP pelanggar yang telah dilegalisasi; KTP asli pejabat yang berwenang.
Sesuai dengan Pasal 1, Pasal 20 Keputusan 118/2021/ND-CP, individu dan organisasi yang melanggar hukum akan dikenakan denda dalam salah satu bentuk berikut:
Membayar tunai langsung ke Kas Negara atau ke bank umum tempat Kas Negara membuka rekening sebagaimana tercantum dalam keputusan denda.
Transfer ke rekening Kas Negara yang tercantum dalam keputusan denda melalui Portal Layanan Publik Nasional atau layanan pembayaran elektronik pada bank atau lembaga perantara pembayaran.
Membayar denda administratif atas pelanggaran lalu lintas ke Kas Negara sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c angka 1 pasal ini atau melalui pos.
Mengenai tata cara pembayaran denda administratif, Pasal 20 Ayat 2 Perpres 118/2021 mengatur:
Dalam hal putusan denda hanya berupa denda biasa dan terpidana tidak berdomisili di tempat terjadinya pelanggaran atau organisasi terpidana tidak berkantor pusat di tempat terjadinya pelanggaran, maka atas permintaan terpidana atau organisasi terpidana, pejabat yang berwenang memutuskan untuk membayar denda dengan cara pembayaran sebagaimana dimaksud pada huruf b angka 1 Pasal ini dan mengirimkan putusan denda kepada terpidana atau organisasi pelanggar melalui pos dalam bentuk jaminan paling lama 02 (dua) hari kerja sejak tanggal putusan denda dikeluarkan.
Orang pribadi atau badan yang dikenai sanksi wajib menyetorkan denda ke rekening Kas Negara yang tercantum dalam surat keputusan sanksi, sesuai dengan batas waktu yang ditentukan dalam Pasal 73 Ayat (1) Undang-Undang tentang Penanganan Pelanggaran Administratif.
Dalam waktu 5 hari kerja sejak tanggal denda dibayarkan langsung ke rekening Kas Negara atau secara tidak langsung melalui layanan pos umum, orang yang memegang sementara dokumen untuk memastikan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125 Ayat 6 Undang-Undang tentang Penanganan Pelanggaran Administratif wajib mengembalikan dokumen yang ditahan sementara kepada orang atau badan yang dikenai sanksi melalui pos dalam bentuk jaminan jika diajukan secara langsung, atau melalui layanan pos umum jika diajukan secara tidak langsung. Biaya pengiriman surat keputusan sanksi dan biaya pengembalian dokumen ditanggung oleh orang atau badan yang dikenai sanksi.
Perorangan maupun lembaga yang terkena sanksi pelanggaran lalu lintas dapat menerima kembali dokumen yang disita sementara secara langsung atau melalui kuasa hukum atau perwakilan resminya.
Pengembalian barang bukti dan alat bukti yang disita harus disertai dengan keputusan pengembalian secara tertulis dari orang yang berwenang mengeluarkan keputusan penyitaan.
Terkait dengan pengembalian kendaraan pelanggar peraturan lalu lintas, sesuai dengan Pasal 9 Surat Edaran Nomor 47 Tahun 2014, dalam pengembalian barang bukti dan kendaraan yang disita, maka petugas yang ditunjuk untuk mengelola dan mengamankan barang bukti dan kendaraan tersebut wajib melakukan tata cara sebagai berikut:
Periksa keputusan pengembalian; periksa kartu identitas dan dokumen relevan lainnya milik penerima.
Orang yang datang untuk menerima barang atau sarana yang disita harus merupakan pelanggar yang barang atau sarananya disita sementara atau perwakilan dari organisasi pelanggaran administratif sebagaimana tercantum dalam keputusan penyitaan sementara barang atau sarana pelanggaran administratif. Jika orang-orang tersebut di atas memberi kuasa kepada orang lain untuk menerima barang atau sarana tersebut, mereka harus memberikan kuasa tertulis sesuai dengan ketentuan hukum.
Meminta orang yang datang untuk menerima barang sitaan atau kendaraan bermotor untuk membandingkan dengan catatan penahanan sementara untuk memeriksa nama, jumlah, karakteristik, jenis, nomor seri, merek, simbol, asal, tahun pembuatan, nomor mesin, nomor rangka, kapasitas (jika ada), dan kondisi barang sitaan atau kendaraan bermotor di bawah saksi petugas manajemen.
Minh Hoa (t/h)
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)