Menurut penghitungan resmi AFP, perang di Gaza dimulai dengan serangan 7 Oktober oleh Hamas yang menewaskan sekitar 1.140 orang di Israel, sebagian besar warga sipil.
Para pengunjuk rasa pro-Palestina berpose untuk foto di depan Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, Belanda, 26 Januari 2024. Foto: REUTERS
Militan juga menyandera sekitar 250 orang dan Israel mengatakan sekitar 132 dari mereka masih berada di Gaza, termasuk jenazah sedikitnya 28 sandera yang tewas.
Israel bersumpah untuk menghancurkan Hamas dan melancarkan serangan militer yang menurut kementerian kesehatan Gaza menewaskan sedikitnya 26.083 orang, sekitar 70 persen di antaranya wanita dan anak-anak.
"Tidak ada negara yang kebal hukum"
“Perintah ICJ merupakan pengingat penting bahwa tidak ada negara yang kebal hukum,” ujar Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki dalam sebuah pernyataan.
"Hari ini menandai kemenangan yang menentukan bagi supremasi hukum internasional dan tonggak penting dalam upaya menegakkan keadilan bagi rakyat Palestina," ujar Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan, yang membawa kasus ini ke ICJ.
"Dukungan untuk perdamaian"
"Kami akan terus memperjuangkan perdamaian dan diakhirinya perang, pembebasan sandera, akses bantuan kemanusiaan, dan pembentukan negara Palestina berdampingan dengan Israel, sehingga kedua negara dapat hidup berdampingan secara damai dan aman," ujar Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.
"Semoga serangannya berakhir"
“Kami berharap serangan Israel terhadap perempuan, anak-anak, dan lansia akan berakhir,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
"Harus mematuhi perintah"
"Perintah Mahkamah Internasional mengikat para pihak dan harus dipatuhi. Uni Eropa mengharapkan perintah ini dilaksanakan secara penuh, cepat, dan efektif," demikian pernyataan Uni Eropa.
"Mencegah genosida"
"Keputusan penting Pengadilan Dunia ini memperjelas bagi Israel dan sekutunya bahwa tindakan segera diperlukan untuk mencegah genosida dan kekejaman lebih lanjut terhadap warga Palestina di Gaza," kata Balkees Jarrah, wakil direktur keadilan internasional di Human Rights Watch.
Mai Anh (menurut Reuters, AFP, CNA)
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)