Undang-Undang Pemeriksaan dan Pengobatan Medis 2023 (berlaku mulai 1 Januari 2024) menetapkan bahwa 9 jabatan profesi harus memiliki izin praktik, meliputi: Dokter, dokter umum, perawat, bidan, teknisi medis, ahli gizi klinis, petugas gawat darurat rawat jalan, psikolog klinis, praktisi pengobatan tradisional, dan orang yang memiliki pengobatan tradisional atau metode pengobatan tradisional.
Undang-undang baru tersebut secara tegas melarang tindakan yang melanggar hak pasien; menolak atau dengan sengaja menunda perawatan darurat bagi pasien...
Namun, berdasarkan Pasal 40 Ayat 5 UU tersebut, terdapat 5 hal yang dapat dijadikan dasar bagi dokter untuk menolak melakukan pemeriksaan dan pengobatan pada pasien, yaitu:
1. Apabila prognosis kondisi pasien di luar kemampuannya atau di luar jangkauan praktiknya, maka pasien wajib dirujuk kepada dokter lain atau sarana pelayanan kesehatan lain yang berwenang untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan, serta wajib memberikan pertolongan pertama, perawatan gawat darurat, pemantauan, perawatan dan pengobatan sampai pasien diterima oleh dokter lain atau dipindahkan ke sarana pelayanan kesehatan lain.
2. Pemeriksaan dan pengobatan medis yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika profesi.
3. Pasien atau keluarga pasien yang melakukan tindakan yang membahayakan tubuh, kesehatan, atau kehidupan seorang praktisi saat menjalankan tugasnya, kecuali dalam kasus di mana orang tersebut memiliki penyakit mental atau penyakit lain yang mencegahnya menyadari atau mengendalikan tindakannya.
4. Pasien meminta pemeriksaan medis dan metode pengobatan yang tidak sesuai dengan ketentuan teknis.
5. Pasien atau kuasanya sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf a dan angka 3 huruf a Pasal 15 Undang-Undang ini (yang berkaitan dengan pasien dewasa dan anak yang telah kehilangan kapasitas keperdataannya) tidak mematuhi diagnosis dan petunjuk pengobatan dari dokter setelah diberi nasihat dan bujukan oleh dokter tersebut, dan tidak mematuhinya dapat membahayakan kesehatan dan jiwa pasien.
Sementara itu, pasien mempunyai hak untuk menolak pemeriksaan dan pengobatan medis serta meninggalkan fasilitas medis dalam kasus-kasus berikut:
- Diperbolehkan menolak pemeriksaan dan perawatan medis tetapi harus berkomitmen secara tertulis untuk bertanggung jawab atas penolakan tersebut setelah berkonsultasi dengan praktisi, kecuali dalam kasus perawatan medis yang wajib.
- Diperbolehkan meninggalkan tempat pemeriksaan dan pengobatan medis sebelum menyelesaikan pengobatan yang bertentangan dengan petunjuk dokter, namun harus menyatakan bersedia mempertanggungjawabkan kepergiannya secara tertulis, kecuali dalam hal pengobatan medis wajib sebagaimana yang ditentukan.
Subjek prioritas untuk pemeriksaan dan perawatan medis mulai 1 Januari 2024
Pasal 2 ayat 3 Undang-Undang tentang Pemeriksaan dan Pengobatan Kesehatan Tahun 2023 mengatur asas-asas dalam pemeriksaan dan pengobatan kesehatan sebagai berikut:
-Prioritas pemeriksaan dan penanganan medis bagi pasien dalam kondisi darurat;
- Anak-anak di bawah usia 6 tahun;
-Wanita hamil;
-Orang dengan disabilitas berat;
- Orang dengan disabilitas berat;
-Orang berusia 75 tahun ke atas;
-Orang-orang dengan kontribusi revolusioner yang sesuai dengan karakteristik fasilitas pemeriksaan dan perawatan medis.
Minh Hoa (t/h)
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)