Kisah pertumbuhan Vietnam mengingatkan kita pada perkembangan pesat negara-negara ekonomi seperti Korea Selatan, Taiwan (Tiongkok), Hong Kong (Tiongkok), dan Singapura. Vietnam dijuluki sebagai "harimau" Asia yang baru.
Sebuah artikel terbaru dari Majalah Keuangan MoneyWeek Inggris menyebutkan bahwa sejak Tiongkok bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001, pertumbuhan PDB negara tersebut secara konsisten mencapai 10% per tahun. Investasi asing terus mengalir ke Tiongkok, dan ekspor barang-barang manufaktur Tiongkok ke seluruh dunia telah mencatat angka yang mencengangkan.
“Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dengan perekonomiannya yang dinamis, kapasitas manufaktur, dan keterbukaan internasionalnya, Vietnam telah menjadi nama lain yang mengingatkan kita pada Tiongkok di awal tahun 2000-an,” tulis MoneyWeek.
Kunci pembangunan ekonomi Vietnam
Dari salah satu negara termiskin di dunia, dengan PDB per kapita setara dengan Ethiopia pada tahun 1990-an, Vietnam kini telah menjadi negara berpenghasilan menengah.
Perdagangan telah menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Vietnam, didorong oleh serangkaian perjanjian perdagangan. Pada tahun 1995, Vietnam bergabung dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Pada tahun 2000, Vietnam dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdagangan bilateral pertama mereka. Dan pada tahun 2007, Vietnam bergabung dengan WTO.
Jika pada tahun 1986, ekspor barang dan jasa menyumbang kurang dari 7% PDB Vietnam, angka ini meningkat menjadi 93% pada tahun 2021. Terlihat bahwa Vietnam telah bertransformasi dari salah satu negara termiskin di dunia menjadi negara berpenghasilan menengah, dengan PDB per kapita meningkat 3,6 kali lipat dalam periode 2002-2020. Selama periode tersebut, Vietnam mengalami tiga lonjakan investasi asing yang signifikan.
Yang pertama dimulai pada pertengahan tahun 1990-an ketika Honda Motor Jepang dan merek pakaian olahraga global mulai datang dan mendirikan pabrik di Vietnam.
Kemudian, pada awal tahun 2000-an, perusahaan teknologi dari Asia juga mulai berdatangan ke Vietnam untuk mendirikan lini produksi perangkat elektronik sederhana.
Dan kemudian pada pertengahan tahun 2010-an, Vietnam mulai menarik pengecer asing, seperti raksasa Jepang Aeon.
Vietnam dapat dianggap sebagai pusat ekspor, dengan “lebih dari separuh sepatu Nike dan 60% ponsel Samsung diproduksi di Vietnam”.
Dominasi ponsel pintar Vietnam sebagian besar disebabkan oleh investasi besar-besaran dari raksasa Korea Selatan, Samsung. Menurut Business Korea, perusahaan tersebut mempekerjakan lebih dari 100.000 orang di Vietnam. Pada tahun 2022, ekspor Samsung akan mencapai 18% dari total ekspor Vietnam. Hal ini dapat menandai gelombang investasi keempat, menurut Nikkei Asia.
Apa yang selanjutnya untuk Vietnam?
Vietnam muncul sebagai pemenang dalam perlombaan untuk menemukan alternatif rantai pasokan ke China.
“Keunggulan kompetitif negara ini jelas,” ujar Andy Ho, direktur VinaCapital, kepada The Sunday Times.
Secara spesifik, upah pekerja di Vietnam hanya setengah dari upah di Tiongkok, sementara kualitas tenaga kerja di berbagai bidang sebanding. Selain itu, Vietnam juga secara geografis dekat dengan rantai pasokan teknologi penting di Tiongkok selatan.
Vietnam berencana untuk beralih dari industri "padat karya" seperti tekstil dan perakitan elektronik ke sektor yang lebih menguntungkan seperti semikonduktor. Khususnya, peningkatan hubungan Vietnam dan Amerika Serikat menjadi "Kemitraan Strategis Komprehensif" akan berkontribusi pada peningkatan investasi dari perusahaan-perusahaan Amerika.
Vietnam mengekspor ponsel enam kali lebih banyak daripada India tahun lalu. Umumnya, sekitar 75% biaya material untuk sebuah ponsel pintar terdiri dari total biaya komponen seperti papan sirkuit cetak, modul kamera, layar sentuh, dan penutup kaca.
Untuk mendapatkan sebagian besar komponen ini, sementara India menghadapi tarif hingga 22% dari pemasok komponen, produsen Vietnam dapat memperolehnya tanpa tarif, berkat jaringan perjanjian perdagangan bebas yang telah ditandatangani Vietnam.
Bagi investor, Vietnam tetap menjadi pasar yang layak untuk diinvestasikan. Jika pasar saham Vietnam ditingkatkan statusnya menjadi pasar negara berkembang (EM), dana yang mengikuti indeks acuan EM akan mengalirkan modal ke Vietnam, sehingga mendorong nilai saham domestik, yang diperkirakan mencapai sekitar 5-8 miliar dolar AS.
Saham Vietnam merupakan komponen terbesar pasar perintis dan selama bertahun-tahun investor asing bertaruh bahwa peningkatan hanya masalah waktu.
Kisah pertumbuhan Vietnam mengingatkan kita pada perkembangan pesat ekonomi negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan (Tiongkok), Hong Kong (Tiongkok), dan Singapura pada paruh kedua abad ke-20. Negara ini dijuluki "harimau" Asia yang baru. Para investor tentu berharap negara ini dapat mengikuti jejak "harimau" sebelumnya untuk naik ke kelompok negara berpendapatan tinggi.
(Menurut CafeF/Market Life)
Vietnamnet.vn
Komentar (0)