.jpg)
Setiap nama desa dikaitkan dengan nama sungai, feri, hutan atau sekadar pohon tua yang digunakan orang untuk memberi nama desa mereka.
Simbol kemakmuran dan berbagi
Dari nama-nama desa yang dikaitkan dengan gunung, hutan, sungai, dan aliran air, dapat diketahui bahwa desa bukan hanya sekadar tempat tinggal, melainkan juga tempat melestarikan kenangan dan akar budaya suku bangsa.
Dan dalam konteks itulah, gubuk padi (beberapa tempat menyebutnya gudang beras) merupakan inti yang memelihara keberlanjutan desa. Tempat ini selalu dirawat dengan saksama setelah panen selesai.
Terdapat upacara khusus untuk Dewa Padi, yang oleh masyarakat Ba Na To Lu disebut festival Smath Ko Cham, yang berarti perayaan padi baru, salah satu festival terbesar dalam setahun. Masyarakat Ko di pegunungan Ngok Linh menyebutnya festival Sa Ani, yang berarti upacara menyimpan padi dan mempersiapkan panen baru.
Lumbung padi merupakan bagian dari arsitektur fisik dan budaya masyarakat desa. Lumbung padi merupakan simbol kelimpahan setiap keluarga dan berkah dari Dewa Padi, yang memberi manusia cukup makanan sepanjang tahun.
Banyak bencana alam, badai, banjir, dan kekeringan telah melanda daerah pegunungan terpencil, tetapi penduduk asli dataran tinggi masih mampu menahan lapar berkat pembangunan gubuk padi untuk menyimpan beras dengan cara tradisional ini.
Masyarakat Ba Na kerap mengatakan, tidak ada orang yang kelaparan jika lumbung milik orang lain sudah penuh.
Dermaga air, kompor api, dan legenda desa Central Highlands
Tak terbayangkan sebuah desa tradisional di Dataran Tinggi Tengah tanpa dermaga air, yang di beberapa tempat disebut tetesan air. Penduduk bahkan harus memilih dermaga air sebelum mendirikan desa, dan beberapa desa diberi nama berdasarkan dermaga air.
Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat ini juga dianggap sebagai tempat komunikasi sehari-hari bagi penduduk desa. Mereka saling bertukar informasi tentang cuaca, hasil panen, dan berbagai hal lain yang terjadi di sekitar mereka.
Ini juga merupakan tempat lahirnya legenda.
Dewa Hutan dan Dewa Dermaga Air adalah pasangan dalam kepercayaan banyak suku dataran tinggi. Mereka mengadakan upacara untuk memuja Dewa Dermaga Air sebelum upacara terpenting tahun ini.
Masyarakat Co di lereng timur Gunung Ngok Linh tidak mengadakan upacara memohon hujan karena mereka percaya Dewa Air akan mendatangkan banjir besar ke permukiman mereka. Namun, selama festival Sa Ani, mereka mengadakan upacara untuk menyambut Dewa Air dari tetes air pertama di desa dan mempersembahkannya kepada dewa-dewa lain di rumah.
Pemimpin upacara yang memimpin prosesi pipa air harus memberi tahu dewa-dewa lain dalam keluarga. Dipercaya bahwa dewa-dewa yang tak terhitung jumlahnya yang tinggal dalam keluarga mereka juga menikmati berkah dari dewa air seperti halnya manusia.
Dari Dewa Api di dapur hingga Dewa Anggur yang menyeduh anggur untuk persiapan festival dan Tet.
Mungkin perwujudan budaya tak benda yang paling nyata dari desa etnis minoritas Truong Son-Tay Nguyen adalah selama perayaan. Kesadaran komunitas digalakkan sepenuhnya dalam semua perilaku warga desa.
Seseorang pernah berkata bahwa saat duduk di sekitar api unggun dan bercerita, orang-orang tumbuh lebih dari sekadar bagaimana mereka mencari nafkah sehari-hari.
Memang, api di dapur tak pernah padam di setiap rumah tradisional di desa Dataran Tinggi Tengah. Dapur adalah tempat legenda misterius tentang anak-anak surga yang sering diimpikan oleh masyarakat Dataran Tinggi Tengah tercipta secara spontan.
Sebuah rumah di tengah hutan
Suku minoritas Truong Son-Tay Nguyen sangat mementingkan rumah komunal di desa mereka, yaitu rumah panjang kepala desa Ede, rumah guol suku Co Tu, dan terutama rumah komunal suku Gie Chieng, Xe Dang, dan Ba Na.
Rumah komunal merupakan simbol arsitektur paling menonjol dalam kelembagaan desa tradisional di Dataran Tinggi Tengah. Masyarakat Ba Na juga membedakan rumah komunal laki-laki dan perempuan berdasarkan tata letak desa.
Tempat ini dianggap sebagai simbol budaya nyata dan tempat berlangsungnya berbagai kegiatan serta upacara yang mengekspresikan nuansa budaya tak nyata masyarakat desa.
Semua upacara penting penduduk desa berlangsung di rumah komunal karena mereka percaya bahwa rumah komunal adalah tempat para dewa, yaitu Giàng, bersemayam untuk melindungi masyarakat desa.
Upacara peresmian rumah adat dapat dianggap sebagai peristiwa yang berkesan dalam sejarah terbentuknya desa.
Dampak langsung alam hutan dalam kehidupan sehari-hari telah melahirkan konsep-konsep tentang alam semesta dan kehidupan manusia. Semuanya terhubung dalam rantai panjang kepercayaan animisme, dan konsep-konsep tersebut ditransformasikan menjadi gambaran spiritual pada lukisan dan patung yang menghiasi bagian dalam dan luar rumah komunal.
Dapat dikatakan bahwa dengan satu dan lain cara, budaya Dataran Tinggi Tengah bermula dari budaya desa masyarakat desa sebelum membentuk budaya etnis dan, lebih luas lagi, budaya seluruh wilayah dataran tinggi.
Desa tertanam dalam kesadaran masyarakat adat.
Bagi mereka, desa bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga tempat terakhir untuk kembali - sebuah kebutuhan hakiki yang telah meresap jauh ke dalam ruang budaya masyarakat adat.
Sumber: https://baodanang.vn/van-hoa-lang-o-truong-son-tay-nguyen-3299048.html
Komentar (0)