Membuat emas dari logam umum

Menurut perhitungan dari model simulasi komputer, reaktor fusi dengan kapasitas 1 gigawatt daya termal dapat menghasilkan beberapa ton emas per tahun jika dioperasikan secara terus-menerus dan efisien (Foto: Getty).
Gagasan mengubah logam biasa menjadi emas, yang pernah dianggap mitos selama ribuan tahun alkimia, kini ditanggapi lebih serius oleh para ilmuwan daripada sebelumnya berkat kemajuan luar biasa dalam fisika nuklir modern, khususnya teknologi fusi.
Marathon Fusion, perusahaan rintisan Amerika, baru saja mengumumkan rencana ambisius untuk memproduksi emas dengan mengubah unsur merkuri menggunakan reaktor fusi.
Proposal tersebut akan menggunakan aliran neutron yang dihasilkan oleh fusi nuklir untuk membombardir isotop merkuri-198. Ketika terpapar neutron berenergi tinggi, merkuri-198 akan berubah menjadi merkuri-197, sebuah isotop yang kurang stabil, yang kemudian akan meluruh secara alami menjadi emas-197 – satu-satunya isotop emas stabil yang ditemukan di alam.
Perhitungan teoritis dari model simulasi komputer menunjukkan bahwa reaktor fusi dengan kapasitas 1 gigawatt daya termal dapat menghasilkan beberapa ton emas per tahun jika dioperasikan secara terus-menerus dan efisien.
Hasil ini secara signifikan melampaui metode sebelumnya dalam menciptakan emas dari tumbukan partikel, biasanya Large Hadron Collider (LHC) di Swiss, yang hanya menghasilkan sekitar 29 pikogram emas (miliaran kali lebih kecil dari setetes air) selama empat tahun operasinya.
Tantangan dan hambatan: Apakah mimpi itu masih jauh?

Eksperimen di dalam akselerator LHC di Swiss diharapkan dapat membuka impian besar umat manusia untuk mengubah logam menjadi emas murni (Foto: Getty).
Namun, ini hanyalah simulasi teoretis, karena belum ada reaktor fusi komersial yang diterapkan dalam praktik. Artinya, asumsi dan hasil model belum tervalidasi.
Para ahli mengatakan perhitungan Marathon Fusion akan menghadapi tantangan besar, karena salah satu prasyarat untuk mengubah merkuri menjadi emas adalah aliran neutron harus cukup kuat dan mencapai tingkat energi minimum sekitar 6 juta elektron-volt.
Fluks neutron ini biasanya dihasilkan oleh reaksi fusi menggunakan campuran bahan bakar deuterium dan tritium. Dalam lingkungan plasma fusi, inti atom bertabrakan dengan kecepatan sangat tinggi, menghasilkan neutron bebas yang dapat menembus materi dan memicu reaksi berantai nuklir yang diinginkan.
Ketika diterapkan dalam kondisi dunia nyata, reaksi fusi menghadapi tantangan rumit yang melibatkan pengendalian plasma pada suhu yang sangat tinggi, pengembangan material superkuat yang dapat menahan radiasi neutron, mengoptimalkan efisiensi pembangkitan energi, dan menjaga stabilitas sistem dalam jangka waktu lama.
Bahkan proyek terkemuka dunia seperti JET (Joint European Torus) di Inggris hanya mencapai hasil yang terbatas.
Selain kendala teknologi, masalah pembuangan radioaktif juga perlu dipertimbangkan secara serius. Emas yang dihasilkan melalui reaksi nuklir pada awalnya dapat bersifat radioaktif dan diklasifikasikan sebagai limbah radioaktif.
Proses dekomposisi produk antara membutuhkan waktu untuk membawa emas ke kondisi stabil dan aman untuk digunakan. Artinya, emas yang dihasilkan tidak dapat langsung digunakan, melainkan harus melalui proses pengolahan dan pengendalian yang ketat.
Para ahli juga memperingatkan bahwa replika digital, secanggih apa pun, dapat melewatkan efek fisik yang penting. Model numerik hanyalah panduan kasar, terutama tanpa data eksperimen yang mendukungnya. Oleh karena itu, masih terlalu dini untuk menilai kelayakan ekonomi atau komersial produksi emas fusi.
Namun, bagi investor jangka panjang, ide ini masih dianggap menarik. Di masa depan, jika reaktor fusi disempurnakan dan dioperasikan secara stabil, menciptakan emas dengan cara ini dapat menjadi aplikasi potensial teknologi fusi.
Sumber: https://dantri.com.vn/khoa-hoc/bien-kim-loai-thong-thuong-thanh-vang-giac-mo-hoang-duong-hay-su-that-20250729071934563.htm
Komentar (0)