Lemahnya permintaan dari China juga membebani produksi di pabrik-pabrik Asia pada bulan Oktober.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) bulan Oktober menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur di negara-negara ekonomi utama seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan mengalami kontraksi. PMI Tiongkok berada di angka 49,5 bulan lalu, turun dari 50,6 pada bulan September. PMI di bawah 50 mengindikasikan kontraksi dalam aktivitas manufaktur.
Data tersebut mengaburkan harapan pemulihan di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut . "Secara keseluruhan, sentimen positif dari para produsen tidak muncul di bulan Oktober. Perekonomian Tiongkok telah menunjukkan banyak tanda-tanda pemulihan, tetapi fondasi pemulihannya masih belum kokoh. Permintaan masih lemah, dan ketidakpastian domestik maupun asing masih ada. Prospeknya juga relatif suram," ujar Wang Zhe, ekonom di Caixin Insight Group, mengomentari hasil PMI tersebut.
Dampak perlambatan ekonomi Tiongkok paling nyata di Jepang dan Korea Selatan, dua negara manufaktur utama yang sangat bergantung pada permintaan dari Tiongkok.
Pekerja di pabrik aluminium di Shandong, Tiongkok. Foto: Reuters
Aktivitas manufaktur di Jepang telah mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut, dengan output pabrik meningkat lebih rendah dari perkiraan pada bulan September karena permintaan yang melambat. Produsen mesin Fanuc dan Murata Manufacturing baru-baru ini melaporkan laba enam bulan yang lebih rendah dari perkiraan karena permintaan dari Tiongkok merosot.
Sementara itu, aktivitas manufaktur di Korea Selatan telah berkontraksi selama 16 bulan berturut-turut. PMI di Taiwan, Vietnam, dan Malaysia semuanya turun pada bulan Oktober.
Di India, manufaktur melambat untuk bulan kedua berturut-turut karena permintaan yang lemah dan meningkatnya biaya bahan baku membebani kepercayaan bisnis.
"Secara keseluruhan, PMI Oktober untuk negara-negara berkembang Asia turun tajam. Prospek manufaktur untuk kawasan ini tetap suram dalam jangka pendek, dengan persediaan yang tinggi dan permintaan eksternal yang lemah," kata Shivaan Tandon, ekonom di Capital Economics.
Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi Tiongkok yang lemah dan krisis propertinya dapat semakin melemahkan prospek ekonomi Asia. Dalam Laporan Prospek Ekonomi Dunia bulan lalu, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan Asia menjadi 4,2%, turun dari dua laporan sebelumnya.
Ha Thu (menurut Reuters)
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)