Moungi G. Bawendi, Louis E. Brus dan Alexei I. Ekimov, tiga cendekiawan yang memenangkan Hadiah Nobel Kimia tahun ini, adalah pelopor dalam nanoteknologi.
Majelis Nobel mengumumkan tiga ilmuwan peraih Hadiah Nobel Kimia 2023. Foto: Phys.org
Pada tahun 1980-an, Alexi Ekimov, 78, dan Louis Brus, 80, bekerja secara independen untuk menciptakan "titik kuantum", nanopartikel yang kini ditemukan di layar TV generasi baru dan digunakan untuk menerangi tumor dalam tubuh. Satu dekade kemudian, Moungi Bawendi, 62, merevolusi metode produksi titik kuantum dengan presisi tinggi dan dalam skala besar, membuka jalan bagi berbagai aplikasi.
Kegigihan
Bawendi lahir di Paris dari ayah Tunisia dan ibu Prancis. Keluarganya berimigrasi ke Amerika Serikat saat ia berusia 10 tahun. Meskipun Bawendi berprestasi di bidang sains di SMA, ia gagal di kelas kimia pertamanya di Harvard. "Pengalaman pertama saya yang mendapat nilai F itu bisa saja menghancurkan saya. Itu adalah nilai terendah yang pernah saya dapatkan di kelas," kata ilmuwan itu.
Namun Bawendi gigih, meraih gelar sarjana dan kemudian gelar doktor dari Universitas Chicago. Ia kemudian bergabung dengan Bell Laboratories bersama Brus dan akhirnya menjadi profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT). "Saya merasa sangat terhormat bisa berbagi Hadiah Nobel dengan Louis Brus, pembimbing pascadoktoral saya. Meskipun saya sendiri seorang profesor, saya tetap berusaha meniru kemurahan hati dan gaya mentoringnya," ujar Bawendi.
Bawendi mengembangkan karya rekannya dan pada tahun 1993 berhasil meningkatkan metode pembuatan titik kuantum secara signifikan, menemukan pelarut dan suhu yang tepat untuk mendapatkan nanokristal dengan ukuran tertentu.
Percobaan kaca berwarna
Ekimov dan Brus tumbuh besar di era pascaperang. Ekimov lahir di Uni Soviet dan lulus dari Universitas Negeri Leningrad. Ia terpesona oleh kaca berwarna dan fakta bahwa setiap senyawa dapat menghasilkan beragam warna. Dengan bereksperimen dengan suhu dan waktu pemanasan kaca cair, ia menemukan bahwa ia dapat memvariasikan ukuran butiran kaca yang dihasilkan, dan semakin kecil butirannya, semakin biru cahaya yang dipancarkannya.
Ekimov menerbitkan penemuannya di jurnal ilmiah Soviet pada tahun 1981 dan merupakan orang pertama yang menciptakan titik-titik kuantum, partikel yang diprediksi oleh teori fisika di awal abad ke-20 tetapi baru ditunjukkan dalam praktik jauh di kemudian hari.
Pada saat yang sama, Brus bekerja di Bell Laboratories di AS, sebuah inkubator penemuan ilmiah yang ternama. Ia melakukan eksperimen yang melibatkan pemotongan partikel menjadi potongan-potongan kecil untuk menghasilkan luas permukaan yang lebih besar dan reaksi kimia yang lebih cepat. Selama bekerja di sana, ia mengamati bahwa karakteristik optik dan sifat-sifat partikel lainnya berubah seiring dengan ukurannya yang semakin kecil, sesuatu yang hanya dapat dijelaskan oleh mekanika kuantum.
Generasi Sputnik
"Saya adalah anggota generasi Sputnik, yang tumbuh setelah Perang Dunia II ketika Amerika Serikat secara dramatis memperluas sektor sains dan teknologinya sebagai respons terhadap Perang Dingin," ungkap Brus dalam memoarnya setelah menerima Penghargaan Kavli pada tahun 2008.
Menunjukkan bakat dalam matematika dan sains sejak usia dini, ia tumbuh di pinggiran kota Kansas City, di mana ia mengembangkan kecintaan terhadap peralatan dan mesin saat bekerja di toko perangkat keras lokal sepulang sekolah dan di akhir pekan.
Awalnya Brus berpikir untuk mengikuti jejak ayahnya di dunia bisnis. Namun, setelah meraih gelar doktor dari Universitas Columbia di New York pada tahun 1969, ia bergabung dengan Angkatan Laut AS dan menjadi peneliti di sebuah laboratorium di Washington. Kemudian, pada tahun 1972, ia mulai bekerja di Bell Laboratories, sebuah pekerjaan yang berlangsung selama 23 tahun.
Kini menjadi profesor di Universitas Columbia, Brus percaya pada kekuatan sains. "Para ilmuwan berjuang dengan eksperimen setiap hari, dan seringkali gagal melihat kemajuan pesat dalam sains dan teknologi selama beberapa dekade. Sains telah menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia meskipun ada perang, krisis ekonomi , dan bencana alam," ujar Brus.
An Khang (Menurut AFP )
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)