Menurut situs web Myc Malaysia, insiden tersebut bermula pada pagi hari tanggal 4 Agustus, ketika peneliti pria berusia 29 tahun tersebut menerima telepon dari seseorang yang mengaku sebagai petugas Biro Keamanan Publik Shanghai (Tiongkok). Orang ini mengatakan bahwa sebuah paket yang dikirim dari Malaysia ke Tiongkok atas namanya telah dicegat, berisi kartu identitas, kartu kredit, dan buku cek miliknya—sebuah indikasi bahwa ia mungkin terlibat dalam kegiatan ilegal.
Segera setelah itu, panggilan tersebut dialihkan ke orang lain yang mengaku sebagai petugas Biro Keamanan Publik Hong An (Tiongkok). Orang ini menuduh rekening banknya terlibat dalam penipuan daring dan mengancam akan menuntut secara pidana jika ia tidak bekerja sama.

30 transaksi dalam 20 hari
Karena takut dan yakin bahwa ia membantu penyelidikan, peneliti tersebut mentransfer uang sesuai permintaan. Antara tanggal 6 dan 26 Agustus, ia melakukan 30 transaksi, mentransfer total lebih dari RM847.000 ke 11 rekening bank di Malaysia dan tiga dompet mata uang kripto.
Ia baru menyadari telah ditipu setelah menceritakannya kepada teman-teman sekelasnya. Setelah disarankan untuk melaporkan penipuan tersebut, ia pun membuat laporan pada 28 Agustus di Kantor Polisi Kejahatan Komersial, Markas Besar Distrik Timur Laut, Penang (Malaysia).
Kepala Kepolisian Penang, Datuk Azizee Ismail, mengonfirmasi bahwa kasus ini sedang diselidiki berdasarkan Pasal 420 KUHP Malaysia atas tuduhan penipuan. Ia menekankan bahwa banyak jaringan kriminal sering menyamar sebagai polisi, petugas bank, atau pegawai negeri sipil untuk menimbulkan rasa takut dan memaksa korban untuk patuh.
“Masyarakat perlu sangat waspada terhadap panggilan-panggilan aneh, terutama yang meminta informasi pribadi atau transfer uang,” ia memperingatkan.
Mengapa pelajar internasional mudah menjadi korban?
Menurut para ahli, mahasiswa internasional adalah kelompok yang paling rentan terhadap penipuan. Jauh dari rumah, kurang memahami peraturan setempat, dan seringkali takut dengan istilah "polisi" atau "pihak berwenang", mereka mudah terjebak ketika pelaku menyamar sebagai pihak berwenang atau polisi dari negara asal mereka.
Kesamaan dari penipuan ini adalah mereka sangat menyerang psikologi ketakutan. Ketika mereka merasa terlibat dalam kejahatan, para korban sering kali terburu-buru melakukan apa yang diminta untuk "menyelesaikan masalah dengan cepat", hanya untuk menyadari bahwa mereka telah ditipu.
Masalah global
Malaysia telah menyaksikan sejumlah penipuan telepon dan internet yang menyasar penduduk lokal maupun warga asing. Penipuan yang paling umum adalah mereka yang menyamar sebagai aparat penegak hukum, menuduh korban melakukan pencucian uang atau perdagangan narkoba secara keliru, lalu meminta mereka mentransfer uang ke "rekening aman".
Jalur ini beroperasi lintas batas, menggunakan sistem perbankan tradisional dan dompet elektronik serta mata uang kripto untuk mencuci uang, sehingga menyulitkan investigasi dan pemulihan aset.
Kepolisian Malaysia mengimbau masyarakat untuk: Tidak mendengarkan panggilan telepon aneh yang mengaku dari kepolisian atau bank; Selalu melakukan verifikasi informasi melalui hotline resmi; Sama sekali tidak mentransfer uang atas permintaan melalui telepon; Berkonsultasi dengan saudara dan teman sebelum mengambil keputusan keuangan yang besar.
Meningkatkan kesadaran publik dianggap sebagai “perisai” yang paling efektif, karena sebagian besar korban baru menyadari telah ditipu setelah berbicara dengan orang lain - seperti kasus peneliti di atas.
Bagi calon doktor ini, hampir RM850.000 adalah jumlah yang sulit diperoleh kembali. Ini bukan hanya guncangan finansial, tetapi juga guncangan mental.
Insiden ini merupakan peringatan: Bahkan orang yang berpendidikan tinggi pun dapat terjebak jika tidak waspada. Dengan semakin canggihnya penipuan, setiap orang perlu tetap waspada, memverifikasi informasi, dan tidak terburu-buru mentransfer uang karena diminta oleh panggilan tak terduga.
Sumber: https://vietnamnet.vn/du-hoc-sinh-tien-si-mat-hon-4-5-ty-vi-tro-lua-dao-qua-dien-thoai-2439132.html






Komentar (0)