Menurut Ahn Chang-ho, Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Nasional Korea Selatan, fakta bahwa anak-anak berusia empat tahun pun mengikuti kelas taman kanak-kanak berbahasa Inggris, dan bahkan harus mengikuti ujian masuk, mencerminkan budaya yang sangat kompetitif.
"Ujian pada usia 4 dan 7 tahun merupakan pelanggaran serius terhadap hak-hak anak. Masa kecil mereka didominasi oleh tekanan untuk mencapai nilai tinggi alih-alih perkembangan alami. Banyak anak berisiko mengalami penurunan kesehatan fisik dan mental," demikian peringatan Chang-ho.
Menurut data UNICEF, anak-anak Korea Selatan menempati peringkat ke-4 dalam prestasi akademik di antara negara-negara OECD dan Uni Eropa, tetapi hanya peringkat ke-28 dalam kesehatan fisik dan peringkat ke-34 dalam kesehatan mental. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan menutupi masalah mendasar yang lebih dalam.
Selain itu, Bapak Chang-ho juga menyerukan keseimbangan antara hak anak dan hak guru. Pakar tersebut percaya bahwa kedua elemen tersebut harus dihormati bersama agar sistem pendidikan dapat berfungsi secara efektif dan aman.
Sebelumnya, pada tahun 2025, Korea Selatan membahas pelarangan kursus bahasa Inggris intensif untuk anak-anak di bawah usia 3 tahun dan penutupan taman kanak-kanak yang mengajarkan bahasa Inggris.
Di kota-kota besar seperti Seoul dan Busan, mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak sejak usia dini telah menjadi hal yang lumrah di kalangan kelas menengah Korea Selatan. Banyak orang tua rela membayar hingga lima kali lipat biaya sekolah agar anak-anak mereka dapat bersekolah di taman kanak-kanak yang pengajarannya sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/giao-duc-som-de-doa-quyen-tre-em-post776633.html







Komentar (0)