Ini bukan hanya persyaratan untuk proses peninjauan, tetapi juga arah utama dalam upaya Majelis Nasional untuk meningkatkan lembaga-lembaga ekonomi pada periode saat ini, seiring negara berupaya mencapai pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan.
Dalam pengelolaan ekonomi, tantangan terbesar bukanlah memilih antara pertumbuhan dan stabilitas, tetapi membangun institusi untuk mencapai kedua tujuan tersebut secara bersamaan. Pesan dari Ketua Majelis Nasional jelas: "Disiplin keuangan harus ketat, tetapi kebijakan pembangunan harus terbuka; manajemen harus ketat, tetapi tidak boleh menghambat sumber daya; stabilitas makroekonomi harus kokoh, tetapi tidak boleh melewatkan peluang pertumbuhan."
Vietnam memasuki fase pembangunan baru dengan tuntutan yang sangat tinggi terhadap pertumbuhan dan kualitas pertumbuhan. Dalam konteks lingkungan internasional yang berubah dengan cepat dan tidak dapat diprediksi, kekuatan internal tetap menjadi fondasi terpenting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Namun, kenyataan juga menunjukkan bahwa banyak sumber daya nasional dan lokal saat ini "terbengkalai" karena hambatan prosedural, sengketa hukum, kurangnya upaya yang terkoordinasi, dan rasa takut melakukan kesalahan serta bertanggung jawab di antara beberapa pejabat pelaksana.
Di sinilah pesan Ketua Majelis Nasional Tran Thanh Man menjadi sangat relevan: “Disiplin keuangan harus ketat, tetapi kebijakan pembangunan harus terbuka; manajemen harus ketat, tetapi tidak boleh menghambat sumber daya; stabilitas makroekonomi harus kokoh, tetapi tidak boleh melewatkan peluang pertumbuhan.” Lembaga yang baik bukanlah lembaga yang berupaya menghilangkan semua risiko. Lebih penting lagi, lembaga yang baik adalah menciptakan kerangka hukum yang jelas sehingga para pelaksana dapat secara proaktif mengambil keputusan, sekaligus bertanggung jawab secara publik dan transparan atas keputusan mereka.
Arahan dari Ketua Majelis Nasional menetapkan persyaratan yang sangat mendasar: batasan yang jelas harus didefinisikan antara fleksibilitas yang diperlukan untuk mendorong pembangunan dan kelonggaran yang dapat menciptakan celah untuk penyalahgunaan kebijakan. Misalnya, mekanisme dan kebijakan khusus yang diterapkan secara uji coba di banyak daerah dan di bidang-bidang yang secara inheren "sensitif" dan rentan terhadap penyimpangan, seperti tanah, transportasi, proyek, dan keuangan, dapat dengan mudah dieksploitasi jika tidak dikontrol secara ketat. Namun, jika terlalu ketat, mekanisme ini dapat menjadi tidak efektif bahkan dengan mekanisme khusus yang ada. Oleh karena itu, fleksibilitas harus selalu berjalan seiring dengan transparansi; pemberdayaan harus dikaitkan dengan akuntabilitas; dan perluasan mekanisme harus disertai dengan penguatan pengawasan.
Dalam konteks ini, peran Komite Ekonomi dan Keuangan bukan hanya untuk meninjau secara teknis rancangan undang-undang dan resolusi tentang ekonomi, keuangan, dan anggaran, tetapi yang lebih penting, untuk memberikan saran strategis kepada Majelis Nasional di bidang-bidang yang memiliki hambatan terbesar. Misalnya, di bidang investasi publik, perlu dibedakan secara jelas antara prosedur pengendalian yang diperlukan untuk mencegah kerugian dan prosedur yang rumit yang hanya memperlambat kemajuan dan meningkatkan biaya kepatuhan. Mengenai pasar modal, penguatan kepercayaan investor tidak hanya bergantung pada penanganan pelanggaran, tetapi yang lebih penting, pada pembangunan mekanisme pengungkapan informasi yang lengkap dan transparan untuk memastikan operasi pasar yang sehat. Dalam pengelolaan anggaran, harus ada desentralisasi yang nyata, memberikan otonomi yang cukup kepada daerah-daerah yang mampu, sambil mengaitkannya secara erat dengan akuntabilitas dan mekanisme pengawasan yang efektif.
Pada akhirnya, persaingan antar negara adalah persaingan kualitas kelembagaan. Peluang akan dimiliki oleh negara-negara yang melakukan reformasi lebih cepat, membangun lembaga yang lebih "cerdas" dan transparan, menjaga disiplin sambil membuka jalan bagi pembangunan, dan menciptakan kondisi agar sumber daya dapat dialokasikan, dikelola, dan digunakan di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.
Disiplin keuangan dan aspirasi pertumbuhan bukanlah dua tujuan yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya merupakan dua syarat yang tak terpisahkan untuk pembangunan berkelanjutan. Tanpa disiplin yang ketat, pertumbuhan berkelanjutan sulit dicapai. Namun, jika kebijakan kurang fleksibel, disiplin dapat dengan mudah menjadi penghalang bagi inovasi dan pembangunan. Titik temu dari kedua persyaratan ini adalah kualitas institusi.
Di masa ketika negara perlu mempercepat kemajuan dan mencapai terobosan, Majelis Nasional tidak hanya harus membuat undang-undang, tetapi juga benar-benar menjadi entitas yang menciptakan lembaga-lembaga untuk pembangunan. Mekanisme yang dibangun hari ini, sebagaimana diarahkan oleh Ketua Majelis Nasional, akan menentukan kemampuan untuk memobilisasi sumber daya, meraih peluang, dan mewujudkan aspirasi pembangunan nasional.
Sumber: https://daibieunhandan.vn/giu-ky-cuong-mo-duong-phat-trien-10417776.html







Komentar (0)