Pemerintah baru-baru ini menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 181 Tahun 2025 yang merinci penerapan sejumlah pasal dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai, yang berlaku efektif mulai 1 Juli. Khususnya, peraturan tentang ketentuan pemotongan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) masukan bagi badan usaha.
Oleh karena itu, badan usaha wajib memiliki dokumen pembayaran nontunai untuk barang dan jasa yang dibeli (termasuk barang impor) senilai VND5 juta atau lebih (termasuk PPN). Berdasarkan peraturan lama, batas pengurangan pajak adalah VND20 juta.
Artinya, untuk faktur di bawah 5 juta VND, baik yang ditransfer maupun dibayar tunai, PPN masukan dapat dikurangkan, namun untuk faktur di atas jumlah tersebut, diperlukan pembayaran non-tunai.
Yang dimaksud dengan dokumen pembayaran non tunai adalah dokumen yang membuktikan terjadinya pembayaran secara non tunai sesuai ketentuan yang berlaku, kecuali dokumen yang dilakukan pembeli dengan menyetorkan uang tunai ke rekening penjual.

Faktur senilai 5 juta VND atau lebih harus dibayar tanpa uang tunai (Foto: Tien Tuan).
Keputusan Presiden ini juga menambahkan sejumlah kasus khusus yang dianggap sebagai pembayaran non-tunai selain kasus-kasus yang ditentukan dalam Keputusan Presiden No. 52/2024, seperti pengimbangan antara barang dan jasa yang dibeli dengan barang dan jasa yang dijual, pengimbangan melalui hubungan pinjam-meminjam dengan dokumen transfer, pembayaran melalui pihak ketiga sebagaimana ditunjuk atau diberi kuasa secara sah...
Khusus untuk barang dan jasa yang dibeli dengan pembayaran menggunakan saham atau obligasi, cara pembayaran tersebut secara khusus ditetapkan dalam kontrak dan memerlukan perjanjian jual beli tertulis yang dibuat terlebih dahulu.
Setelah melakukan metode pembayaran di atas, apabila sisa nilai dibayarkan secara tunai dengan nilai VND 5 juta atau lebih, pengurangan pajak hanya diperbolehkan dalam hal terdapat dokumen pembayaran non tunai.
Dalam hal barang dan jasa dibeli dengan cara pembayaran selisih antara harga barang dan jasa yang dibeli dengan harga barang dan jasa yang dijual, atau pinjam-meminjam barang, dan cara pembayaran tersebut secara khusus ditetapkan dalam perjanjian, maka harus ada catatan perbandingan data dan konfirmasi antara kedua belah pihak mengenai selisih antara harga barang dan jasa yang dibeli dengan harga barang dan jasa yang dijual, atau pinjam-meminjam barang.
Dalam hal penghapusbukuan utang melalui pihak ketiga, harus ada catatan penghapusbukuan utang dari ketiga pihak sebagai dasar pengurangan pajak.
Dalam hal barang atau jasa yang dibeli dibayar dengan cara pemberian kuasa melalui pihak ketiga yang melakukan pembayaran secara non tunai (termasuk dalam hal penjual mengharuskan pembeli melakukan pembayaran non tunai kepada pihak ketiga yang ditunjuk oleh penjual), maka pembayaran dengan cara pemberian kuasa atau pembayaran kepada pihak ketiga yang ditunjuk oleh penjual tersebut harus ditetapkan secara khusus dalam perjanjian.
Di mana, pihak ketiga adalah organisasi atau individu yang beroperasi berdasarkan ketentuan hukum.
Dalam hal barang dan jasa yang diperoleh dibayarkan secara nontunai ke dalam rekening pihak ketiga yang dibuka pada Kas Negara untuk dilaksanakan dengan cara menghimpun uang dan harta milik orang pribadi dan badan lain (berdasarkan penetapan instansi negara yang berwenang), Pajak Pertambahan Nilai masukan dipotong sebesar jumlah yang ditransfer ke dalam rekening pihak ketiga yang dibuka pada Kas Negara.
Sumber: https://dantri.com.vn/kinh-doanh/hoa-don-tu-5-trieu-dong-phai-chuyen-khoan-moi-duoc-khau-tru-thue-20250702123423522.htm
Komentar (0)