Departemen Kebidanan Rumah Sakit Penyakit Tropis Pusat ( Hanoi ) baru-baru ini merawat seorang pasien perempuan berusia 19 tahun yang dirawat karena pendarahan pascapersalinan.
Pasien tersebut, yang sedang hamil 24 minggu dengan anak pertamanya, tidak memiliki indikasi untuk aborsi. Karena alasan pribadi, ia membeli pil aborsi secara online dan meminumnya sendiri. Setelah meminum pil tersebut, ia mengalami pusing, sakit perut hebat, dan pendarahan terus menerus. Keluarganya segera membawanya ke ruang gawat darurat di Rumah Sakit Pusat Penyakit Tropis.
Para dokter menyarankan wanita hamil untuk tidak membeli pil aborsi dan menggunakannya di rumah tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Pada saat itu, pasien menunjukkan gejala perdarahan postpartum, tekanan darah rendah, dan syok akibat kehilangan darah. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter menemukan bahwa kantung kehamilan pasien mengalami keguguran sebagian. Untungnya, berkat perawatan darurat yang tepat waktu, pasien telah mengatasi kondisi kritis dan kesehatannya berangsur-angsur stabil.
Para dokter kandungan di Rumah Sakit Pusat Penyakit Tropis memperingatkan bahwa ketika mempertimbangkan aborsi, alih-alih pergi ke rumah sakit atau fasilitas medis khusus untuk pemeriksaan dan saran tentang metode intervensi yang tepat, banyak wanita melakukan aborsi sendiri di rumah atau menggunakan pengobatan tradisional dengan harapan dapat mengeluarkan janin. Tindakan tersebut sangat berbahaya dan menimbulkan banyak risiko yang mengancam jiwa jika terjadi komplikasi.
Aborsi medis biasanya diindikasikan ketika kehamilan berusia kurang dari 7 minggu, USG memastikan kehamilan telah tertanam di rongga rahim, dan ibu tidak memiliki kondisi medis yang mendasarinya seperti penyakit kardiovaskular atau gangguan darah lainnya. Aborsi medis dianggap aman dan efektif, tetapi harus dilakukan di bawah pengawasan dan bimbingan ketat dokter kandungan di fasilitas medis.
Wanita hamil sebaiknya tidak membeli pil aborsi untuk digunakan di rumah atas inisiatif sendiri karena hal itu dapat dengan mudah menyebabkan komplikasi seperti pendarahan dan infeksi, yang mengancam kesehatan dan nyawa mereka secara serius.
Setelah aborsi, penting untuk mendapatkan istirahat dan nutrisi yang cukup untuk membantu tubuh pulih dengan cepat. Pemeriksaan rutin dengan dokter juga sangat penting untuk menghindari komplikasi yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi di masa mendatang.
Saat ini, terdapat berbagai metode aborsi seperti aborsi medis (menggunakan obat-obatan) dan aborsi bedah (aspirasi vakum)... Namun, komplikasi yang timbul dari prosedur tersebut, terutama jika tidak dilakukan di fasilitas medis yang berkualitas, dapat memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan fisik dan psikologis.
Aborsi berulang atau penggunaan pil aborsi sendiri menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan dan masa depan kaum muda. Komplikasi serius dapat terjadi, termasuk pendarahan, infeksi, dan perforasi rahim. Bahkan dengan aborsi yang aman, risiko infertilitas sekunder sangat tinggi. Aborsi juga memiliki konsekuensi psikologis yang parah, menyebabkan trauma pada wanita, termasuk perasaan bersalah karena meninggalkan anak mereka. Lebih jauh lagi, aborsi yang tidak aman meningkatkan risiko infertilitas.
(Sumber: Direktorat Jenderal Kependudukan dan Keluarga Berencana, Kementerian Kesehatan )
Tautan sumber






Komentar (0)