Peralihan ke sistem tiga semester di Filipina merupakan salah satu reformasi pendidikan paling penting di kawasan ini, sekaligus memicu banyak perdebatan tentang kesiapan dan kelayakannya.
Departemen Pendidikan Filipina mengumumkan perubahan tahun ajaran menjadi tiga semester, menggantikan dua semester sebelumnya. Tahun ajaran akan berlangsung selama 201 hari dengan fase pengajaran dan penilaian yang baru. Waktu pengajaran akan diperpanjang untuk meminimalkan gangguan, sementara akhir setiap semester akan didedikasikan untuk peninjauan, penilaian, dan istirahat.
Secara spesifik, mulai tahun ajaran 2026-2027, semester akan dibagi sebagai berikut: Semester I terdiri dari 69 hari, dari Juni hingga September. Semester II, dari September hingga Desember, memiliki 65 hari. Semester III adalah 67 hari, dari Januari hingga April tahun berikutnya. Sebelumnya, tahun ajaran di Filipina biasanya terdiri dari dua semester, masing-masing dibagi menjadi empat siklus untuk penilaian akademik.
Keputusan ini bertujuan untuk mengurangi gangguan terhadap pembelajaran yang disebabkan oleh bencana alam. Pada tahun ajaran 2023-2024 saja, Filipina kehilangan 53 hari sekolah karena hal ini, yang berdampak pada kemajuan dan kualitas pengajaran serta kemampuan siswa.
Seorang perwakilan dari Departemen Pendidikan Filipina menekankan: “Reformasi ini akan mengatasi kekurangan yang sudah lama ada dengan mendesain ulang struktur waktu sekolah. Kami memastikan pembelajaran berkelanjutan. Jadwal baru ini mengurangi beban kerja administratif dan memungkinkan guru untuk fokus pada pengajaran yang efektif.”
Namun, tidak semua ahli dan lembaga pendidikan setuju dengan pendekatan ini. Aliansi Guru Peduli (ACT) mengkritik rencana tersebut karena implementasinya yang tergesa-gesa dan tidak terstandarisasi, yang dapat menyebabkan konsekuensi serius.
Ibu Bernardo, Presiden Aliansi Guru Peduli (ACT), menekankan: “Langkah tergesa-gesa akan menciptakan kesulitan bagi sekolah. Terutama jika gagal, lembaga pendidikan itu sendiri akan dimintai pertanggungjawaban kepada guru dan siswa. Pemerintah perlu fokus pada isu-isu inti seperti kekurangan ruang kelas, kekurangan guru, atau peningkatan infrastruktur.”
Sebaliknya, beberapa organisasi pendidikan lainnya memandang reformasi ini dengan lebih hati-hati namun positif. Teacher Dignity Coalition (TDC) berpendapat bahwa sistem tiga semester dapat menawarkan manfaat praktis jika diimplementasikan dengan benar, termasuk mengurangi beban kerja dan memberikan lebih banyak waktu istirahat bagi guru.
Namun, perwakilan TDC juga menekankan sebuah prasyarat: "Manfaat ini hanya dapat dicapai melalui konsultasi yang berkelanjutan dan tulus dengan para pemangku kepentingan, serta pengujian percontohan yang komprehensif untuk memastikan semua orang siap menghadapi perubahan."
Selain itu, banyak ahli telah menyatakan kekhawatiran tentang waktu persiapan yang sangat singkat. Dengan tahun ajaran baru yang dijadwalkan dimulai pada Juni 2026, sekolah dan administrator hanya memiliki waktu sekitar dua bulan untuk menyesuaikan kurikulum, materi, metode penilaian, dan pelatihan guru. Hal ini akan memberikan tekanan yang sangat besar pada reformasi sistemik.
Menanggapi kekhawatiran ini, pemerintah Filipina menegaskan bahwa perubahan kalender sekolah hanyalah satu bagian dari strategi reformasi yang komprehensif. Inisiatif tambahan sedang diimplementasikan secara paralel, termasuk mempercepat pembangunan ruang kelas, memperluas program makan siang sekolah, meningkatkan dukungan gizi, meningkatkan keterampilan literasi, dan memastikan pasokan buku teks yang memadai.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menekankan: “Sekolah negeri perlu mempertahankan minimal 180 hari sekolah per tahun. Departemen Pendidikan akan memastikan sistem baru ini terus secara efektif mendukung siswa yang kurang mampu, menyeimbangkan tujuan jangka panjang dengan tantangan jangka pendek.”
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/philippines-thi-diem-nam-hoc-ba-hoc-ky-post771536.html






Komentar (0)