Mencintai anak dengan cara yang salah
Ketika siswa kelas 12 menyelesaikan ujian kelulusan SMA, mereka dan keluarga memasuki tahap yang sama pentingnya: memilih jurusan, memilih sekolah, dan menetapkan aspirasi pertama mereka untuk masa depan. Pada tahap ini, banyak siswa merasa stres, lelah, dan bahkan berkonflik dengan orang tua mereka sendiri.
Dalam podcast "Perjalanan Menciptakan Masa Depan" No. 2 yang diproduksi oleh Surat Kabar Tien Phong bekerja sama dengan Universitas Transportasi Kota Ho Chi Minh (UTH), Dr. Dao Le Hoa An, seorang psikolog, mengatakan bahwa ia menerima banyak panggilan telepon dan pesan dari orang tua dan siswa yang baru saja menyelesaikan ujian kelulusan mereka. Kekhawatiran ini meliputi jurusan dan sekolah, tetapi di baliknya terdapat kekhawatiran, konflik, dan "perjuangan" antara orang tua dan anak dalam memilih karier.

Seorang mahasiswa yang datang ke psikolog ini mengaku bahwa ia mencintai hewan dan ingin belajar kedokteran hewan, tetapi orang tuanya sangat menentangnya karena mereka menganggapnya sebagai "karier untuk kucing dan anjing, tanpa masa depan". Keluarganya ingin ia belajar kedokteran umum atau pedagogi agar memiliki pekerjaan tetap dan mudah mendapatkan pekerjaan. Perasaan ditolak hasratnya dan tidak didengarkan membuatnya jatuh ke dalam keadaan disorientasi, tidak lagi ingin berbagi dengan keluarganya.
“Situasi ini tidak jarang terjadi, terutama di saat para siswa mulai menyesuaikan dan menata ulang keinginan mereka agar sesuai dengan hasil ujian dan harapan keluarga mereka,” ujar Dr. Hoa An.
Menurut psikolog ini, salah satu tekanan terbesar pada siswa berasal dari jenis kasih sayang yang salah dari orang tua. Banyak orang tua memiliki harapan yang sangat tinggi, tetapi terkadang harapan tersebut menjadi beban jika tidak ditempatkan dalam konteks realitas anak.
Beberapa orang tua memaksa anak-anak mereka untuk mengejar karier yang mereka yakini "aman" atau "memiliki prospek kerja yang bagus", tanpa mencari tahu apakah anak-anak mereka cocok atau tertarik dengan karier tersebut. Yang lain memaksakan impian mereka yang belum tercapai kepada anak-anak mereka, sebagai cara tidak langsung untuk mencari "kepuasan".
Beberapa orang tua memaksa anak-anak mereka untuk menekuni bidang yang mereka yakini "aman" atau "dengan pekerjaan yang bagus", tanpa mencari tahu apakah anak-anak mereka cocok atau tertarik di bidang tersebut. Yang lain memaksakan impian mereka yang belum tercapai kepada anak-anak mereka, sebagai cara tidak langsung untuk mencapai "penyempurnaan". Siswa dibandingkan dengan "anak orang lain", dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan, tanpa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi diri dan mengungkapkan pendapat mereka sendiri.
Agar anak-anak mereka dapat mengikuti pilihan mereka sendiri, orang tua beralasan bahwa "keluarga tidak akan membayar biaya sekolah jika anak tidak belajar sesuai orientasi". Hal ini membuat siswa merasa tidak dapat memilih kehidupan mereka sendiri, sehingga kehilangan inisiatif dalam menentukan masa depan mereka sendiri.
Tak hanya dari orang tua, siswa sendiri juga menghadapi tekanan berat dari masyarakat dan lingkungan sekitar. Banyak siswa yang memaksakan diri untuk masuk ke universitas unggulan, memilih jurusan yang "panas", dan menghasilkan uang dengan mudah tanpa benar-benar memahami apa yang mereka inginkan atau apa yang mereka kuasai. Memilih jurusan berdasarkan tren atau teman dapat menyebabkan penyimpangan di kemudian hari.
Dr. Hoa An memperingatkan bahwa memilih jurusan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan minat dapat dengan mudah membuat siswa belajar dengan pola pikir "membalas budi orang tua", belajar untuk meraih gelar alih-alih karena minat. Akibatnya, waktu, uang, dan motivasi anak muda terbuang sia-sia di tahun-tahun ketika mereka seharusnya berkembang secara optimal.
Memilih karier itu seperti memilih kekasih.
Dalam situasi seperti ini, Dr. Hoa An memberikan beberapa saran agar orang tua dapat mendampingi anak-anaknya dengan cerdas, meminimalkan konflik, dan membantu anak-anaknya dengan yakin memilih jalan yang benar.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengamati dan mengidentifikasi emosi anak Anda. Jika Anda melihat anak Anda tiba-tiba menjadi pendiam, menghindari komunikasi, atau menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau stres, kemungkinan besar anak Anda sedang berada di bawah tekanan dalam menentukan masa depannya. Alih-alih bertanya, orang tua sebaiknya menciptakan ruang terbuka untuk berdiskusi agar anak mereka merasa didengarkan dan dihormati.
Salah satu alat bermanfaat yang direkomendasikan Dr. Hoa An adalah mengikuti tes kepribadian dan minat karier ilmiah bersama anak Anda, seperti MBTI atau John Holland. Hasilnya akan membantu orang tua dan siswa lebih memahami kecenderungan pribadi mereka, sehingga dapat membuat pilihan yang tepat, alih-alih berdasarkan emosi.

Selain itu, orang tua juga perlu memiliki pandangan yang fleksibel tentang konsep "jurusan yang tepat" dan "jurusan yang mendekati". Pekerjaan tertentu dapat dijalani oleh siswa dari berbagai jurusan. Oleh karena itu, ketika menetapkan keinginan, siswa sebaiknya memprioritaskan jurusan yang tepat terlebih dahulu, baru kemudian jurusan yang mendekati yang masih dapat mengarah pada pekerjaan impian.
Dr. Hoa An juga menekankan bahwa memilih jurusan yang "salah" bukanlah sebuah kegagalan. Di era pembelajaran seumur hidup, pelajar dapat sepenuhnya melengkapi keterampilan mereka dan mengubah karier mereka melalui kursus jangka pendek, pembelajaran daring, atau pelatihan bersama.
Secara khusus, beliau mendorong siswa untuk secara proaktif berbagi dengan orang tua mereka tentang bidang studi dan tren baru yang mungkin belum sempat diperbarui oleh orang tua, seperti kecerdasan buatan, energi hijau, logistik, atau ekonomi digital. Namun, berbagi perlu dilakukan pada waktu dan cara yang tepat. Jangan berbicara saat orang tua sedang marah atau tertekan. Siswa juga perlu belajar bagaimana menyampaikan isu secara jelas, disertai bukti dan riset agar orang tua dapat percaya dan sepakat.
Memilih jurusan itu seperti memilih kekasih, membutuhkan pemahaman dari kedua belah pihak. Jika orang tua berperan sebagai orang yang memaksakan, siswa akan menolak atau diam. Namun, jika orang tua menjadi teman, mendengarkan, dan mengalami bersama, anak-anak akan merasa dihormati dan lebih bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri,” saran Dr. Hoa An.

Memahami Karier dan Pendapatan: Membentuk Masa Depan Anda dengan Pilihan Nyata

Bagaimana memilih karier yang tepat di era AI?

Apa yang harus dilakukan siswa kelas 12 agar tidak 'tersesat' saat memilih karier?
Sumber: https://tienphong.vn/phu-huynh-thong-thai-trong-me-cung-chon-nganh-hoc-cung-con-post1759834.tpo
Komentar (0)