Pada tanggal 31 Agustus, Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengakui bahwa akan sulit bagi Beograd untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE) pada tahun 2028.
Presiden Vucic mengakui akan sulit bagi Serbia untuk bergabung dengan Uni Eropa. (Sumber: Shutterstock) |
Tahun 2028 adalah batas waktu yang ditetapkan oleh beberapa negara Balkan Barat dengan harapan dapat bergabung dengan blok beranggotakan 27 orang.
Berbicara di Konferensi Keamanan Globsec di Praha (Republik Ceko), Presiden Vucic menekankan bahwa dia tidak percaya Serbia akan menjadi bagian dari UE pada tahun 2028.
Menurutnya, negara-negara Balkan Barat tidak dapat menjadi anggota UE sebelum tahun 2030.
* Juga pada tanggal 31 Agustus, Wakil Perdana Menteri Serbia Aleksandar Vulin mengumumkan bahwa penandatanganan perjanjian pembelian pesawat Rafale dari Prancis oleh negaranya tidak akan berdampak negatif terhadap hubungan Beograd-Moskow.
Selain itu, reaksi pimpinan Rusia terhadap perjanjian ini menegaskan sikap hormat Moskow terhadap republik Balkan tersebut.
"Pembelian pesawat Rafale didasarkan pada alasan militer dan praktis dan tidak akan berdampak negatif pada hubungan antara Serbia dan Rusia. Beograd tetap netral secara militer dan tidak akan berpartisipasi dalam bentuk sanksi apa pun terhadap Moskow," tegas Bapak Vulin.
Pada tanggal 29 Agustus, selama kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Serbia, Presiden Aleksandar Vucic mengumumkan perjanjian untuk membeli 12 jet tempur Rafale Prancis baru senilai 2,7 miliar Euro.
Kontrak tersebut tidak hanya mencakup pesawat tetapi juga seluruh paket layanan terkait.
Presiden Vucic memuji kesepakatan tersebut sebagai “peningkatan signifikan kemampuan respons tentara Serbia”.
Di pihak Rusia, sekretaris pers Presiden Putin Dmitry Peskov berkomentar bahwa keputusan untuk membeli jet tempur Rafale merupakan pilihan bebas dari "teman-teman Serbia".
[iklan_2]
Sumber: https://baoquocte.vn/serbia-thua-nhan-mot-dieu-ve-hanh-trinh-gia-nhap-eu-khang-dinh-dung-ngoai-lan-song-trung-phat-chong-moscow-284623.html
Komentar (0)