Jalanan musim dingin memiliki warna yang sangat aneh, tidak cerah, tidak pula suram. Jalanan diselimuti warna abu-abu, lebih muram dan sunyi. Mungkin karena dingin, ritme kehidupan terasa melambat. Jalanan yang familiar tiba-tiba menjadi sunyi, seperti nada sunyi di tengah hiruk pikuk kehidupan. Saya suka berjalan di bawah pepohonan di hari-hari musim dingin, meskipun hanya untuk mengamati jalanan.
Pohon beringin tua di sudut jalan mulai berganti warna. Daun-daunnya yang dulu hijau nan rimbun kini telah berubah menjadi merah tua. Mungkin inilah warna waktu, warna perenungan. Sesekali, angin bertiup, membuat beberapa helai daun berguguran dari dahannya, berputar-putar di udara, lalu mendarat dengan lembut, membentuk karpet kering yang berdesir di bawah langkah kaki pejalan kaki. Pohon-pohon akasia dan mahoni tua di sudut jalan merentangkan lengan-lengan kurus mereka ke langit kelabu, tampak kesepian namun juga bangga. Mereka tampak sedang berhibernasi, mengumpulkan getah kehidupan di dalam kulit kayunya yang kasar, diam-diam merawat kuncup-kuncup muda untuk menunggu musim semi datang dan mekar.
Malam semakin larut, hawa dingin semakin menusuk, menusuk daging. Di suatu tempat, teriakan familiar, "Siapa yang mau roti panas... bakpao kukus!" terdengar, bertahan, lalu perlahan menghilang di balik kegelapan gang-gang yang dalam. Di sudut jalan, seorang petugas kebersihan berseragam reflektif masih rajin menyapu. Meski angin berembus kencang, membawa debu dan dedaunan kering, suara sapu bambunya yang "menggaruk... menggaruk..." masih berirama menyapu jalan bagai refrein yang familiar.
![]() |
| Musim gugur daun - Foto: NV |
Di tengah dinginnya udara, tungku arang yang menyala justru menjadi penghalang bagi para pelancong. Aroma kentang panggang dan jagung yang kuat tiba-tiba membangkitkan semua indra, menghangatkan seluruh sudut jalan.
Aku berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan, tepat di samping api unggun merah, dan mendekatkan tanganku yang mati rasa ke arah api. Memegang kentang panggang panas di tanganku, aku dapat dengan jelas merasakan kehangatan menjalar dari ujung jari, tangan, dan lenganku... Kentang itu terbelah dua, dan asap putih pucat mengepul membawa aroma manis tanah dan tanaman. Rasa manis kentang, aroma lengket jagung, bercampur dengan dinginnya malam musim dingin, menciptakan kesan pedesaan yang tak terlupakan. Di sekitar api unggun, kisah-kisah tanpa awal dan akhir dari orang-orang asing tiba-tiba menjadi akrab. Orang-orang semakin dekat satu sama lain, berbagi sedikit kehangatan dan kegembiraan sederhana. Senyum cerah di bawah cahaya bara merah seakan mengusir rasa dingin dan kekhawatiran setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.
Jalanan musim dingin juga merupakan gambaran nyata dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat dalam persiapan menyambut Tet yang hangat. Truk-truk hilir mudik mengangkut barang, pasar-pasar ramai dengan pembeli dan penjual... Semua berpadu menciptakan ritme yang ramai dan hangat, membangkitkan rasa antisipasi akan datangnya musim semi yang sudah sangat dekat.
Di ladang dan kebun desa-desa pinggiran kota, para petani masih bekerja keras dengan tenang di samping setiap pohon mawar, persik, aprikot, dan krisan... Mereka dengan cermat memetik setiap daun, merapikan setiap batang pohon, dan menggantungkan harapan mereka padanya agar panen melimpah, menambah warna dan keharuman Tet, serta memiliki sepasang banh chung hijau atau kemeja baru di rumah. Melihat tangan-tangan yang berlumpur dan mata yang penuh harap, tiba-tiba hatiku berlinang air mata...
Musim dingin, bagi banyak orang, mungkin merupakan musim perpisahan dan kesedihan, tetapi bagi saya, jalanan musim dingin menyimpan keindahan cinta manusia yang hangat. Cuaca dingin hanya menjadi latar belakang yang menonjolkan kehangatan hati. Di tengah angin dingin, orang-orang tampak lebih santai, lebih peduli, dan lebih saling mencintai. Jabat tangan erat antara pasangan yang berjalan di jalan, pelukan antara anak yang baru pulang dari jauh, atau sekadar tatapan simpati, sapaan antar-orang asing sudah cukup untuk menghangatkan hati.
Saya melihat kegembiraan terpancar di mata anak-anak ketika orang tua mereka membelikan sweter baru, dan kegembiraan di wajah para pekerja yang menghitung hari untuk pulang kampung merayakan Tet. Dan saya melihat keyakinan dan harapan untuk tahun baru yang lebih baik di mata mereka yang sedang berjuang mencari nafkah.
Berjalan menyusuri jalanan di musim dingin, saya tiba-tiba menyadari bahwa musim dingin bukan hanya masa tenang, tetapi juga ujian bagi orang-orang untuk lebih menghargai hari-hari cerah yang hangat, awal dari musim semi yang segar. Ranting-ranting gundul itu menumbuhkan ribuan kuncup baru. Kuncup-kuncup bunga dengan malu-malu menunggu hari untuk mekar. Segalanya berubah, sebuah penantian yang penuh harapan.
Angin masih bertiup, jalanan masih dingin, tetapi hatiku terasa hangat. Kehangatan itu tak hanya berasal dari tungku arang di sudut jalan dengan aroma kentang dan jagung bakar yang kuat, tetapi juga dari kasih sayang manusia yang menyebar dalam setiap hembusan napas kehidupan. Mendengarkan tangisan malam, memandangi kiriman yang hilir mudik, dan akar-akar bunga yang menjulur di tengah dinginnya udara, aku membayangkan hari musim semi yang dipenuhi sinar matahari, bunga-bunga, dan senyum cerah anak-anak... Maka, aku pun berjalan perlahan menyusuri setiap jalan, dalam hati bersyukur kepada hari-hari musim dingin yang telah memberiku pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai kehangatan, cinta, dan harapan.
Jepang
Sumber: https://baoquangtri.vn/van-hoa/202511/tan-vanqua-pho-ngay-dong-a7303ce/







Komentar (0)