Merek beras berkontribusi dalam meningkatkan nilai dan kesadaran konsumen. Para pelaku bisnis sangat tertarik untuk mendaftarkan dan menetapkan hak kekayaan intelektual.
Merek beras berkontribusi dalam meningkatkan nilai dan kesadaran konsumen. Para pelaku bisnis sangat tertarik untuk mendaftarkan dan menetapkan hak kekayaan intelektual.
Menurut Bapak Nguyen Van Bay, Wakil Direktur Departemen Kekayaan Intelektual ( Kementerian Sains dan Teknologi ), tren konsumsi saat ini telah banyak berubah. Jika sebelumnya masyarakat terbiasa membeli beras di toko yang dipajang dalam berbagai jenis dan dikemas dalam keranjang, kini masyarakat lebih memilih beras kemasan dengan merek yang jelas.
Hal ini menegaskan bahwa merek beras berkontribusi pada peningkatan nilai dan kesadaran konsumen. Oleh karena itu, banyak organisasi, individu, dan bisnis semakin tertarik untuk mendaftarkan merek dagang dan melindungi hak kekayaan intelektual.
Bapak Nguyen Van Bay, Wakil Direktur Departemen Kekayaan Intelektual (Kementerian Sains dan Teknologi), memberikan gambaran umum tentang kekayaan intelektual dan solusi untuk melindungi hak cipta produk, khususnya di sektor beras. Foto: Kim Anh.
Menurut statistik dari Departemen Kekayaan Intelektual, negara ini saat ini memiliki sekitar 300.000 merek dagang yang dilindungi di semua bidang, di antaranya produk pertanian menyumbang sekitar 16%.
Namun, Bapak Bay juga menyoroti realitas pembuatan, pendaftaran merek dagang, dan pemalsuan merek dagang. Misalnya, dalam kasus merek Beras Ong Cua milik Ho Quang Tri Private Enterprise, terdapat banyak pemasok karung beras ST25. Pertanyaan yang muncul ketika membahas varietas beras ST25 adalah siapa yang menciptakannya, apakah beras tersebut dilindungi? Atau, pada karung beras tersebut, hanya tertera nama pemasoknya, tidak ada pemilik merek dagang yang spesifik.
Bahkan ada pula yang desain dan kemasan produknya benar-benar mirip dengan merek Beras Ong Cua, tetapi di dalamnya terdapat produk beras biasa, bukan beras jenis ST25.
Menurut Tn. Bay, jika suatu produk dipasarkan tanpa izin untuk memproduksi atau memperdagangkan varietas padi, hal itu melanggar hak kekayaan intelektual.
Untuk pertama kalinya, Lembaga Penelitian Padi Delta Mekong mengadakan lelang pengalihan hak pemanfaatan varietas padi agar eksploitasi dan produksi varietas padi menjadi transparan. Foto: Kim Anh.
Selain itu, menurut kebiasaan produksi tradisional petani, setelah panen padi, petani akan menyimpan sebagian untuk digunakan sebagai benih pada panen berikutnya. Hal ini berpotensi menyebabkan risiko kerusakan benih, yang menurunkan kualitas produk di setiap musim tanam.
Permasalahan pendaftaran dan perlindungan merek dagang di pasar internasional juga menghadapi banyak kesulitan, terutama di pasar-pasar besar seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan sebagainya, yang memiliki standar perlindungan kekayaan intelektual yang sangat tinggi. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan Vietnam rentan terhadap persaingan tidak sehat.
"Ada banyak cerita tentang produk yang masuk ke pasar luar negeri. Jika ada dua entitas yang mendaftarkan merek dagang serupa, entitas yang pertama kali mendaftar akan mendapatkan sertifikat. Merek dagang tersebut dilindungi di negara mana pun merek tersebut terdaftar. Misalnya, merek dagang Ông Crab Rice, jika terdaftar di Vietnam, hanya akan mencegah orang lain menggunakan merek dagang ini di Vietnam. Di negara lain, siapa pun yang ingin menggunakannya dapat menggunakannya," kata Bapak Bay.
Oleh karena itu, penegakan hukum yang efektif terhadap perlindungan varietas tanaman secara umum dan varietas padi khususnya merupakan instrumen hukum yang penting dalam mendorong kegiatan inovasi. Karena jika varietas tanaman tidak dilindungi, para peneliti dan pelaku bisnis akan kehilangan motivasi untuk berinvestasi dalam pengembangan varietas baru, karena hasil kerja mereka dapat dimanfaatkan secara gratis.
Saat ini, perusahaan industri beras semakin tertarik untuk mendaftarkan merek dagang dan hak kekayaan intelektual beras. Foto: Kim Anh.
Untuk mengatasi tantangan ini, Bapak Bay menyarankan agar petani dan pelaku usaha meningkatkan kesadaran akan hak kekayaan intelektual. Di saat yang sama, pihak berwenang perlu memperkuat inspeksi dan menangani pelanggaran secara ketat, guna memastikan terciptanya lingkungan persaingan yang sehat bagi pelaku usaha.
Di masa depan, sektor pertanian Vietnam tidak hanya akan bergantung pada produksi, tetapi juga pada kemampuan untuk melindungi nilai produk. Penerapan langkah-langkah perlindungan varietas tanaman, terutama varietas padi, yang efektif tidak hanya akan meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga mengukuhkan citra produk pertanian Vietnam di pasar internasional.
[iklan_2]
Sumber: https://nongsanviet.nongnghiep.vn/thuc-thi-hieu-qua-quyen-so-huu-tri-tue-bao-ho-nhan-hieu-gao-d412823.html
Komentar (0)