Presiden Raisi mengkritik pengerahan pasukan AS di Timur Tengah, dengan mengatakan hal itu "merusak keamanan kawasan".
"Kehadiran pasukan Amerika di kawasan kami tidak dapat dibenarkan," kata Presiden Iran Ebrahim Raisi dalam sebuah acara di Teheran hari ini.
Bapak Raisi menekankan bahwa kehadiran pasukan AS di Irak, Suriah, Afghanistan, dan negara-negara lain tidak membawa keamanan, melainkan "merusak keamanan regional." Presiden juga menuduh AS menciptakan sentimen anti-Iran dan anti-Muslim.
Komentar Raisi muncul saat Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken sedang melakukan tur ke Timur Tengah untuk merundingkan gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan Hamas.
Presiden Iran Ebrahim Raisi menghadiri rapat kabinet di Teheran pada Oktober 2023. Foto: AFP
Ketegangan regional telah meningkat sejak konflik Israel-Hamas meletus pada awal Oktober tahun lalu, yang menarik kelompok-kelompok pro-Iran di Suriah, Lebanon, Irak, dan Yaman. Puluhan serangan roket dan pesawat nirawak telah menargetkan pasukan AS di wilayah tersebut.
Pasukan AS dan Inggris telah melancarkan serangan sebagai respons terhadap pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman, yang telah berulang kali menyerang kapal-kapal di Laut Merah. Pasukan AS juga telah menyerang milisi pro-Iran di Irak dan Suriah, yang menuai kritik dari Teheran.
Pada 28 Januari, tiga tentara AS tewas dan 34 lainnya luka-luka dalam serangan pesawat tak berawak di sebuah pangkalan di timur laut Yordania, dekat perbatasan dengan Suriah. Militer AS merespons pada 2 Februari dengan melancarkan serangan udara terhadap target-target Iran dan milisi yang didukung Teheran di Irak dan Suriah.
"AS sekali lagi melakukan kesalahan strategis dan mengambil tindakan nekat, yang meningkatkan ketegangan dan ketidakstabilan di kawasan," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, pada 3 Februari.
Infrastruktur militer AS di Timur Tengah. Grafik: American Security Project
Amerika Serikat dan Iran memutuskan hubungan diplomatik pada tahun 1980 akibat krisis penyanderaan yang dimulai pada November 1979, ketika sekelompok mahasiswa Iran merebut kedutaan AS di Teheran. Lima puluh dua diplomat Amerika disandera selama 444 hari sebelum dibebaskan pada Januari 1981.
Ketegangan antara kedua belah pihak meningkat setelah mantan Presiden Donald Trump mengumumkan pada tahun 2018 bahwa ia menarik diri dari kesepakatan nuklir dan menjatuhkan sanksi terhadap negara Timur Tengah tersebut, yang memiliki sekitar 45.000 tentara AS yang ditempatkan di wilayah tersebut.
Thanh Tam (Menurut AFP )
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)