Setiap tahun, dari tanggal 1 hingga 7 Agustus, Pekan Menyusui Sedunia dirayakan secara luas di banyak negara dan wilayah untuk meningkatkan kesadaran tentang manfaat menyusui.
Diprakarsai pada tahun 1992 oleh Aliansi Dunia untuk Aksi Menyusui (WABA), acara ini telah menjadi acara global tahunan.
Pada tahun 2025, dengan tema "Memprioritaskan Pemberian ASI - Membangun Sistem Pendukung yang Berkelanjutan", Pekan ini bertujuan untuk menyampaikan pesan: menjaga kesehatan ibu dan bayi, sekaligus mendorong tindakan untuk lingkungan yang berkelanjutan dalam konteks perubahan iklim yang semakin tak terduga.
Platform kesehatan dan koneksi cinta
Melahirkan di usia kehamilan 38 minggu, Ibu Nguyen Thu Trang (32 tahun, Distrik Dong Da, Hanoi ) bercerita bahwa jam-jam pertama setelah melahirkan merupakan masa yang menegangkan. Bayinya terus menangis karena lapar sementara ibunya tidak ASI. Rasa cemas dan lelah setelah melahirkan membuatnya semakin stres.
Sambil berjuang melawan rasa sakit pascaoperasi, ia juga mencari informasi dan mendengarkan saran dari para ahli. Setelah tiga hari menyusui dengan tekun, ASI-nya mulai keluar lebih banyak. "Seberat apa pun usaha saya, menyusui tetap pilihan terbaik," ujar Thu Trang.
Menurut spesialis Dr. Duong Thi Hanh (Klinik Medlatec, Hanoi), ASI merupakan sumber nutrisi optimal bagi bayi dan anak kecil, terutama dalam 6 bulan pertama kehidupannya. ASI tidak hanya mengandung semua nutrisi penting yang sesuai untuk setiap tahap perkembangan, tetapi juga kaya akan antibodi alami yang membantu anak memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengurangi risiko penyakit seperti pneumonia, diare, alergi, dan berbagai penyakit lainnya.

"Selain manfaat kesehatan, ASI juga merupakan ikatan emosional yang sakral antara ibu dan anak. Menyusui tidak hanya bermanfaat bagi bayi, tetapi juga membantu ibu pulih lebih cepat setelah melahirkan, sekaligus menghemat biaya keluarga secara signifikan dibandingkan dengan menggunakan susu formula," ujar Dr. Duong Thi Hanh.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ASI merupakan sumber nutrisi ideal bagi bayi. Pada bulan-bulan pertama kehidupannya, ASI menyediakan semua energi dan nutrisi penting. Seiring pertumbuhan anak, ASI terus memainkan peran penting, memenuhi sekitar 50% kebutuhan nutrisi pada paruh kedua tahun pertama dan sekitar 1/3 pada tahun kedua.
Namun, upaya untuk mempromosikan pemberian ASI masih terhambat oleh pemasaran pengganti ASI yang tidak tepat, yang mengikis kepercayaan dan berdampak negatif pada pemeliharaan dan durasi pemberian ASI.
Kenyataannya, menyusui tidak sesederhana yang dipikirkan orang. Dr. Duong Thi Hanh mengatakan bahwa selama pemeriksaan, banyak ibu, terutama yang baru pertama kali melahirkan, sering mengalami kesulitan karena belum mendapatkan instruksi yang tepat tentang cara menyusui. Perlekatan yang salah menyebabkan bayi kembung dan cegukan, sementara para ibu merasa tertekan untuk terus-menerus menyusui atau memerah ASI setiap jam.
Salah satu masalah umum adalah mastitis, yang terjadi ketika ASI diproduksi dalam jumlah besar tetapi tidak dikonsumsi sepenuhnya atau tidak diperah dengan benar. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit, infeksi, dan sangat memengaruhi kesehatan ibu, bahkan memaksanya untuk berhenti menyusui lebih awal.
Berdasarkan pengalaman praktis, para ahli menyarankan agar para ibu mendapatkan nasihat yang cermat tentang posisi menyusui yang tepat, mempelajari cara memijat dan memerah ASI untuk mencegah penyumbatan saluran ASI. Selain itu, melatih bayi untuk menyusu sesuai jadwal juga membantu membangun ritme biologis yang stabil dan mengurangi stres bagi para ibu. "Menyusui adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan ketekunan, pengetahuan, dan terutama dukungan dari keluarga, masyarakat, dan sistem kesehatan. Dengan dukungan yang tepat, para ibu dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya selama 6 bulan pertama dan terus mempertahankannya hingga bayi berusia 24 bulan," tegas Dr. Hanh.
Dari kesehatan anak hingga solusi perlindungan lingkungan

Menyusui tidak hanya penting untuk kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga diakui sebagai tindakan praktis yang berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan.
Ini juga merupakan inti pesan Pekan Menyusui Sedunia 2025, dalam konteks bahwa dunia sedang menghadapi tantangan besar berupa perubahan iklim, menipisnya sumber daya, dan polusi lingkungan.
Menurut WABA, jika setiap ibu dengan anak di bawah usia 6 bulan menyusui selama satu bulan tambahan, dampak positifnya terhadap lingkungan setara dengan menanam 300.000 pohon. Sementara itu, produksi dan konsumsi susu formula—yang merupakan alternatif populer saat ini—menghabiskan sumber daya yang sangat besar dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan.
Secara spesifik, produksi susu formula bayi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menghasilkan emisi hingga 7,5 miliar kg CO₂, setara dengan emisi mobil yang menempuh jarak 30 miliar km. Sementara itu, jumlah air yang dikonsumsi dalam proses ini mencapai 2,6 miliar m³, setara dengan lebih dari satu juta kolam renang Olimpiade.
Di negara-negara berkembang saja, penggunaan susu formula untuk bayi di bawah usia enam bulan menghasilkan emisi gas rumah kaca setara dengan dua juta mobil, atau setara dengan kapasitas penyerapan CO₂ 318 juta pohon dalam setahun. Angka-angka ini menunjukkan kekuatan pemberian ASI, tidak hanya dalam pengasuhan anak, tetapi juga dalam skala lingkungan global.
WABA dan organisasi kesehatan dan lingkungan internasional menyerukan kepada pemerintah, organisasi sosial dan bisnis untuk bergandengan tangan menciptakan sistem pendukung praktis, seperti memperpanjang cuti hamil, membangun ruang menyusui di tempat kerja, meningkatkan layanan konseling pascapersalinan dan melindungi hak perempuan untuk menyusui.
Source: https://www.vietnamplus.vn/tuan-le-nuoi-con-bang-sua-me-chung-tay-vi-suc-khoe-tre-em-moi-truong-ben-vung-post1052869.vnp
Komentar (0)