| Sebuah sudut dari restoran Lang Dong. |
Di Desa Dong, Kelurahan Linh Son, terdapat sebuah warung makan sederhana, tanpa papan nama mencolok atau musik keras, namun cukup untuk membuat anak muda berhenti, duduk, dan tiba-tiba teringat masa kecil kakek-nenek mereka dengan hidangan nasi singkong, sup ikan yang dimasak perlahan di atas api, dan malam-malam di luar rumah yang dihabiskan dengan berkerumun di sekitar lampu minyak yang berkelap-kelip…
Suatu sore, kami kembali ke Desa Dong. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut kami, membawa aroma jerami, asap, dan samar-samar aroma nasi panas, ikan rebus, dan sawi rebus… membangkitkan perasaan nostalgia di hatiku.
"Makanan bersubsidi." Nama itu membangkitkan kenangan masa ketika kakek-nenek kita hidup dengan kupon jatah, mengantre panjang hanya untuk membeli sedikit daging, mentega, dan beras. Saat kami melangkah masuk ke restoran, rasanya seperti melangkah melalui portal waktu, kembali ke tahun 70-an dan 80-an, tahun-tahun penuh kesulitan tetapi juga dipenuhi dengan kebaikan hati manusia.
Meja dan kursi di toko ini terbuat dari kayu mahoni tua, catnya pudar, beberapa bagian sudah aus dan halus, bagian lain terdapat bekas paku. Mangkuk dan piringnya terbuat dari porselen berlapis glasir berwarna krem, jenis yang biasa disimpan nenek saya dengan hati-hati di lemari kaca. Lampu minyak, kipas tangan, radio National, jam pendulum, dan bahkan meja mesin jahit tua digunakan kembali untuk menciptakan ruang kenangan yang semarak, dari era subsidi.
Para pemiliknya adalah pasangan muda yang berani mengambil tugas sulit, karena hidangan yang disajikan ditujukan untuk pelanggan khusus. Mereka mengatakan bahwa membuka restoran bukan hanya tentang menjual makanan, tetapi "untuk melestarikan sedikit semangat lama agar generasi mendatang tahu bagaimana kakek-nenek mereka dulu hidup."
Makanan di sini tidak mewah atau rumit. Namun justru kesederhanaan itulah yang membangkitkan emosi. Nasi dimasak dengan kentang, singkong, dan jagung – jenis nasi campur yang dulu selalu dirindukan seluruh keluarga hanya untuk mengisi perut mereka. Rasa singkong yang gurih dan manis serta aroma jagung yang harum dan lengket bercampur dalam setiap butir nasi putih, mengingatkan kita pada saat kita duduk di sekitar meja makan, mendengarkan Nenek bercerita tentang "betapa sulitnya hidup di masa lalu, anakku..."
| Mangkuk-mangkuk ini membangkitkan banyak kenangan dari era yang telah berlalu. |
Ikan rebus dalam panci tanah liat adalah inti dari hidangan ini. Ikan mas hitam direbus hingga empuk dalam panci tanah liat di atas api kecil selama beberapa jam. Saat panci dibuka, aroma harum tercium, perpaduan saus ikan, lada, jahe, daun bawang, dan sedikit aroma asap kayu. Daging ikannya lembut dan lumer di mulut, terendam dalam saus rebusan yang kaya dan berwarna keemasan; menyantapnya dengan nasi benar-benar merupakan "anugerah dari surga."
Lalu ada ayam kukus dengan daun jeruk nipis, terong tumis dengan kerupuk babi, ikan goreng renyah yang dibungkus daun sirih, sawi rebus dengan telur rebus dan saus ikan… Setiap hidangan adalah kenangan, sebuah cerita. Beberapa hal begitu sederhana sehingga pernah terlupakan dalam arus modernitas, tetapi sekarang hal-hal itu diciptakan kembali, memberi orang kesempatan untuk melihat ke belakang, memahami, dan mensyukuri hari-hari yang telah berlalu.
Saat aku duduk makan, aku hampir bisa mendengar suara lembut nenekku memanggil, "Makan sepotong ikan lagi, Nak," dan kata-kata ayahku, "Dulu, hanya dengan sedikit lemak ikan yang ditaburkan di atas nasi dan beberapa butir garam sudah dianggap sebagai kemewahan." Suara-suara ini, yang seolah hilang dalam ingatanku, kini kembali menyerbu bersama kehangatan hidangan sederhana namun bermakna ini.
Ruang kafe ini kecil dan nyaman, dengan cahaya kuning redup yang mengingatkan pada malam-malam pemadaman listrik di masa lalu. Foto-foto hitam putih tergantung di dinding, bersama dengan barang-barang kuno—mulai dari tongkat pengangkut yang usang dan kemeja berikat tipis, hingga nampan kayu pedesaan, keranjang, jaring ikan, dan bahkan sepeda "anti petir"—semuanya membangkitkan rasa nostalgia. Sebuah era utuh terbentang—bukan era yang berisik atau gemilang, tetapi sederhana, pedesaan, dan sangat bermakna dalam setiap detailnya.
Tidak ada yang terburu-buru di sini. Orang-orang makan perlahan, berbicara pelan, seolah takut membangkitkan kenangan. Seorang anak, sambil makan, dengan polos bertanya, "Mengapa orang-orang dulu harus makan nasi dengan singkong, Bu?"
Saat meninggalkan restoran, saya masih bisa merasakan sedikit rasa pahit acar mentimun, rasa pedas yang menyengat dari lada hitam yang membungkus kaki babi kukus, dan perasaan kenyang tanpa terasa berat. Kenyang di perut dan hangat di hati.
Mungkin setiap dari kita memiliki kenangan yang terkait dengan makan bersama keluarga, sebuah tempat yang bukan hanya tempat untuk makan, tetapi juga tempat untuk menghargai kasih sayang, berbagi kesulitan, dan mewariskan nilai-nilai yang mendalam. Makanan bersubsidi di warung makan kecil di desa Lang Dong bukan hanya sekadar makan, tetapi sebuah perjalanan kembali untuk lebih memahami kakek-nenek dan orang tua kita, ke masa-masa sulit namun penuh cinta dan harapan.
Restoran itu bukan hanya menjual makanan; restoran itu menjual kenangan masa kecil, kenangan yang telah lama berlalu. Di tengah hiruk pikuk kehidupan saat ini, momen-momen tenang untuk mengenang dan menghargai seperti itu adalah tempat-tempat yang dirindukan banyak orang untuk dikunjungi kembali.
Sumber: https://baothainguyen.vn/van-hoa/202507/an-com-bao-cap-nho-thoi-ong-ba-1382ebe/






Komentar (0)