Bahasa-bahasa klasik berfungsi sebagai penjaga warisan budaya India yang mendalam dan kuno, yang memuat nilai-nilai inti sejarah dan budaya setiap komunitas.
Pemberian status Bahasa Klasik menunjukkan keinginan pemerintah India untuk menghormati dan melindungi tonggak-tonggak linguistik dalam konteks budaya negara yang beragam. (Sumber: X) |
Pemerintah India (di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi) memutuskan untuk memberikan status Bahasa Klasik kepada bahasa Pali, Prakrit, Marathi, Assam, dan Bengali pada tanggal 3 Oktober, sehingga jumlah total Bahasa Klasik di India menjadi 11.
Sebelumnya, pemerintah India telah memberikan status Bahasa Klasik kepada bahasa Tamil, Sansekerta, Telugu, Kannada, Malayalam, dan Odia.
Dengan memberikan status ini, Pemerintah India berupaya merayakan dan melindungi tonggak-tonggak linguistik dalam konteks budaya India yang beragam, memastikan bahwa generasi mendatang dapat mengakses dan menghargai akar sejarah yang mendalam dari bahasa-bahasa ini. Langkah ini tidak hanya menegaskan pentingnya keragaman linguistik, tetapi juga mengakui peran penting bahasa-bahasa ini dalam membentuk identitas budaya nasional.
Bahasa Pali melambangkan kekayaan tradisi, sejarah budaya, warisan, dan sastra India dan merupakan bahasa yang digunakan untuk mencatat ajaran Sang Buddha dan menyebarkannya ke seluruh dunia .
Keputusan untuk memberikan status Bahasa Klasik kepada Pali, Prakrit, dan bahasa-bahasa klasik lainnya akan mendorong pelestarian, pencatatan, dan digitalisasi teks-teks kuno melalui pengarsipan, penerjemahan, penerbitan, dan komunikasi digital. Beberapa biksu dan biarawati Buddha Vietnam masih pergi ke India untuk menempuh pendidikan pascasarjana dalam bahasa Pali guna lebih memahami sejarah dan ajaran Buddha, serta terus menyebarkannya di Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
[iklan_2]
Sumber: https://baoquocte.vn/an-do-cong-nhan-them-5-ngon-ngu-co-dien-289761.html
Komentar (0)