
Buku "Menuju Alam Misteri," diterjemahkan oleh Sen Xanh, diterbitkan oleh The World Publishing House.
Namun, jarang sekali seorang anak mengatakan bahwa mereka melarikan diri dari rumah untuk... mencari pencerahan.
Bocah muda itu menghadapi banyak kesulitan, meskipun kemudian dalam perjalanannya menuju pencerahan, ia bertemu Bunda Teresa di Kalkuta, berbincang dengan Uskup Agung Desmond Tutu, Paus Benediktus...
Bocah muda itu kelak dikenal dunia sebagai Tenzin Priyadarshi Rinpoche. Perjalanan luar biasanya dalam mencari pencerahan akan diceritakan dalam *On the Hidden Realm *.
Mimpi dapat menyesatkan manusia.
Dahulu kala... bukan... di masa kini. Di India modern, seorang bayi laki-laki lahir dalam keluarga Brahmana terhormat.
Meskipun ia tidak tinggal di istana kerajaan seperti seorang pangeran, Tenzin tetap menikmati kehidupan yang jauh lebih nyaman daripada banyak teman sebayanya. Selain itu, ia menerima perhatian dan dukungan intelektual dari keluarganya. Jalan hidupnya tampaknya menjanjikan kesuksesan yang mulus, menurut pandangan dunia yang berlaku.
Namun di suatu tempat, ada panggilan yang dalam dan menggema. Panggilan dalam mimpinya. Sejak Tenzin berusia enam tahun, seorang biksu berjubah warna senja selalu memasuki mimpinya.
Dalam mimpi itu, terdapat pula sebuah puncak gunung yang misterius. Sejak saat itu, puncak gunung tersebut mendominasi pikiran pemuda Brahmana itu, orang yang telah dituntun oleh takdir untuk menempuh jalan yang pernah dilalui Siddhartha Gautama—jalan menuju pencerahan.
Pada suatu hari biasa ketika ia berusia 10 tahun, Tenzin memutuskan untuk kabur dari rumah, menaiki kereta api dan kemudian bus. Ia pun berangkat. Untuk menemukan bayangan Puncak Burung Nasar, untuk mengejar ilusi yang muncul dalam mimpinya. Ia memulai perjalanan yang penuh ketekunan dan tekad, seperti seseorang yang imannya telah diuji.
Ketika bus yang membawa bocah 10 tahun yang melarikan diri itu berhenti, sebuah biara muncul di hadapannya. Tempat itu terasa sangat familiar, karena itu adalah kuil yang sering muncul dalam mimpinya.
Dengan hati yang ringan, Tenzin menghadapi tantangan pertamanya dalam perjalanan menuju pembebasan. Namun, tidak mudah bagi seorang anak laki-laki berusia 10 tahun untuk menentukan nasibnya sendiri. Pertama, Tenzin harus meyakinkan keluarganya.
Selangkah demi selangkah, bunga teratai mekar.
Semua hal di atas hanyalah permulaan dari serangkaian peristiwa menarik dalam kehidupan biksu Tenzin Priyadarshi Rinpoche dalam *Tentang Alam Misterius *. Alam misterius itu bukanlah tempat yang aneh, penuh dengan mukjizat atau kejadian supranatural.
Alam misterius itu adalah hati manusia. Ia tetap menjadi tempat yang tak terjelaskan dan tak terbatas. Misterius seperti kehidupan kita sehari-hari, di mana kebetulan terus terjadi yang hanya dapat dijelaskan dengan kata "takdir."
Bocah bernama Tenzin ditemukan dan dibawa kembali oleh keluarganya. Pada hari-hari berikutnya, ia harus meyakinkan orang tua dan kerabatnya untuk melindungi imannya.
Ia harus menghadapi ancaman dan ejekan. Semua ini hanyalah ujian awal untuk mengasah kemampuannya. Jalan praktik spiritual masih panjang dan berat di hadapannya.
Tenzin Priyadarshi Rinpoche menulis *Tentang Alam Tersembunyi* jauh sebelum zaman Buddha.
Buddhisme telah menyebar ke seluruh dunia. Dalam buku-buku, kita dapat bertemu banyak biksu, mempelajari tradisi Buddha, dan menghadapi masalah-masalah dunia modern.
Namun, meskipun zaman berubah, nilai-nilai inti seperti welas asih tetap menjadi satu-satunya "kekuatan magis" yang dibawa umat Buddha dalam perjalanan praktik mereka.
Gaya penulisan Tenzin Priyadarshi Rinpoche sederhana dan lembut. Kisah-kisahnya sendiri membangkitkan banyak asosiasi. Dalam rangkaian asosiasi tersebut, karya Tenzin Priyadarshi Rinpoche bersifat tertutup sekaligus terbuka.
Para pembaca akan mengingat banyak karya sastra dengan tema Buddha. Dan kemudian, lebih dari 2.000 tahun kemudian, dalam sebuah keluarga Brahmana, "elang muda" lainnya meninggalkan sarang dan terbang "ke alam misterius" di jalan menuju pencerahan.
Perjalanan Sudhana tercatat dalam "Memasuki Alam Dharma" (Gandavyuha), bagian ke-39 dari kitab suci Buddha yang terkenal, Sutra Avatamsaka. Kemudian, penyair Korea Ko Un memfiksikan kisah tersebut dalam karyanya *Setiap Langkah Berbunga* .
Sumber: https://tuoitre.vn/chim-ung-non-di-ve-mien-bi-an-20251130092109273.htm






Komentar (0)