Dalam pengumuman AFC, 7 anggota tim U-22 Indonesia (termasuk 3 pemain, 4 ofisial, dan seorang pelatih) dan 7 anggota tim U-22 Thailand (termasuk 2 pemain, 5 ofisial, dan seorang pelatih) dilarang bermain atau bertugas dalam 6 pertandingan internasional tim berikutnya. Selain itu, masing-masing tim memiliki 4 anggota yang harus membayar denda tambahan sebesar 1.000 dolar AS.
Tiga pemain Indonesia U22 yang dihukum adalah Bagus Fawwazi, Teguh Trisnanda, dan Muhammad Taufany. Empat ofisial Timnas Indonesia yang mendapat hukuman adalah Tegar Diokta Andias, Sahari Gultom, Ahmad Nizar Caesarea Noor, dan Muhni Toid Sarnad.
Perkelahian di final SEA Games ke-32 telah mencoreng citra sepak bola Asia Tenggara.
Di kubu U-22 Thailand, pemain yang dihukum adalah Soponwit Rakyart dan kiper Sophonwit Rakyai. Selain itu, ada pula ofisial Purachet Todsanit, Thirapak Prueangna, Bamrung Boonprom, serta dua asisten pelatih Pattarawut Wongsriphuek dan Mayeid Mad Adam.
Asosiasi Sepak Bola Thailand didenda 10.000 dolar AS (sekitar 236 juta VND). AFC juga menyatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat dapat dihukum lebih berat jika insiden serupa terus terjadi.
Dalam pertandingan final sepak bola putra SEA Games ke-32, tim U-22 Thailand dan U-22 Indonesia meninggalkan banyak kesan buruk. Selain permainan buruk di lapangan, kedua tim juga terlibat perkelahian di akhir babak kedua, yang menyebabkan pertandingan dihentikan selama sekitar 15 menit. Pertandingan ini bisa dibilang yang paling "keras" dalam sejarah SEA Games.
Sebelumnya, Asosiasi Sepak Bola Thailand telah mengeluarkan banyak tindakan disiplin internal terkait insiden tersebut. Sebaliknya, Indonesia menyatakan bahwa lawanlah yang memprovokasi terlebih dahulu dan tidak memberikan komentar atau keputusan apa pun terkait hukuman.
Ha An
Berguna
Emosi
Kreatif
Unik
Kemarahan
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)