Permintaan global terhadap produk berkelanjutan terus meningkat
Berbicara kepada wartawan Surat Kabar Industri dan Perdagangan, Ibu Nguyen Thi Hoang Thuy - Direktur Jenderal, Kepala Kantor Perdagangan Vietnam di Swedia, mengatakan bahwa saat ini, proses produksi yang ramah lingkungan, desain produk yang berkelanjutan, dan praktik hemat energi semakin menjadi persyaratan penting bagi perusahaan ekspor. Konsumen di pasar maju, terutama di negara-negara Nordik seperti Denmark, Swedia, dan Norwegia, semakin memprioritaskan produk-produk yang berasal dari sumber berkelanjutan. Menurut survei Statista, sekitar 75% konsumen di negara-negara ini lebih suka membeli produk dari perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Investasi dalam produksi hijau untuk ekspor adalah persyaratan yang tak terelakkan (Foto: VNA) |
Saat ini, perusahaan-perusahaan besar seperti H&M dan IKEA telah memimpin dalam pengembangan rantai pasokan ramah lingkungan, dengan menerapkan persyaratan perlindungan lingkungan yang sangat ketat bagi para pemasok mereka. H&M, sebuah merek fesyen internasional, tidak hanya berkomitmen untuk menggunakan bahan daur ulang, tetapi juga mewajibkan mitra manufakturnya untuk mematuhi standar lingkungan yang tinggi. Hal ini menimbulkan tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan-perusahaan Vietnam untuk mengekspor produk ke pasar-pasar tersebut. Dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan dan proses produksi yang ramah lingkungan, perusahaan-perusahaan Vietnam dapat memastikan bahwa mereka tidak hanya memenuhi standar internasional, tetapi juga menarik perhatian konsumen dan calon mitra bisnis.
Keberlanjutan semakin menjadi keharusan dalam rantai pasok internasional, bukan sekadar nilai merek. Misalnya, IKEA, grup furnitur ternama, telah berkomitmen untuk hanya menggunakan kayu dari hutan yang dikelola secara lestari, dan hal ini telah membantu mereka membangun kepercayaan yang kuat dengan konsumen global. Jika bisnis Vietnam dapat mengikuti jalur ini, mereka akan meningkatkan daya saing di pasar yang penuh tantangan seperti Eropa Utara dan Eropa pada umumnya.
Ibu Nguyen Thi Hoang Thuy menambahkan bahwa seiring dengan perkembangan tren berkelanjutan, regulasi perdagangan internasional juga telah berubah untuk mencerminkan isu-isu lingkungan. Negara-negara Uni Eropa (UE) telah menerapkan kebijakan perdagangan hijau untuk mengendalikan emisi dan mempromosikan produk-produk yang tidak merusak lingkungan. Kesepakatan Hijau Eropa (European Green Deal) adalah contoh tipikal, dengan tujuan menjadikan Eropa sebagai benua yang netral karbon pada tahun 2050.
Untuk mempertahankan dan memperluas ekspor ke pasar-pasar ini, bisnis Vietnam perlu berinvestasi dalam teknologi hijau untuk memenuhi peraturan yang semakin ketat. Contoh spesifiknya adalah Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (CBAM), yang diharapkan akan sepenuhnya diimplementasikan pada tahun 2026. Berdasarkan mekanisme ini, bisnis non-Uni Eropa yang mengekspor barang ke Eropa harus membayar biaya berdasarkan jumlah karbon yang diemisikan selama proses produksi. Oleh karena itu, berinvestasi dalam solusi teknologi hijau untuk mengurangi emisi karbon bukan hanya kebutuhan mendesak, tetapi juga merupakan cara bagi bisnis untuk mengurangi biaya ekspor dan meningkatkan peluang akses pasar.
Perusahaan-perusahaan Nordik seperti LEGO telah menunjukkan bahwa berinvestasi dalam energi terbarukan dan proses produksi tanpa emisi tidak hanya membantu mereka memenuhi standar internasional, tetapi juga meningkatkan nilai merek mereka. LEGO berkomitmen untuk menggunakan 100% energi terbarukan dalam operasionalnya, yang tidak hanya membantu mereka menghindari regulasi yang ketat, tetapi juga menciptakan keunggulan kompetitif dalam hal citra. Ini merupakan pelajaran penting bagi perusahaan-perusahaan Vietnam dalam mengoptimalkan proses produksi untuk memenuhi persyaratan internasional dan memperkuat posisi mereka di pasar global,” ujar Ibu Nguyen Thi Hoang Thuy.
Meningkatkan nilai merek dan membangun kepercayaan pelanggan
Komitmen terhadap perlindungan lingkungan tidak hanya membantu bisnis meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga merupakan faktor penting dalam membangun dan meningkatkan nilai merek. Konsumen semakin menyadari tanggung jawab sosial dan lingkungan bisnis, sehingga bisnis yang menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan akan membangun kepercayaan dengan pelanggan dan mitra internasional.
H&M dan IKEA adalah contoh yang baik tentang bagaimana inisiatif ramah lingkungan dapat digunakan untuk memperkuat identitas merek mereka dan memantapkan diri sebagai pemimpin dalam gerakan bisnis berkelanjutan. H&M telah memperkenalkan lini "Conscious", yang terbuat dari bahan daur ulang dan berkelanjutan, untuk menarik konsumen yang peduli lingkungan. IKEA juga menggunakan bahan terbarukan dan mengelola rantai pasokannya secara ketat untuk meminimalkan dampak negatifnya terhadap lingkungan.
Bagi bisnis Vietnam, Ibu Nguyen Thi Hoang Thuy menekankan, penerapan teknologi hijau dapat menjadi alat pemasaran yang efektif untuk membedakan diri dari pesaing dan menarik pelanggan internasional. Di sektor ekspor utama seperti tekstil, alas kaki, produk pertanian, dan makanan, penggunaan material ramah lingkungan atau optimalisasi proses produksi menuju keberlanjutan akan membantu bisnis meninggalkan kesan yang kuat di mata konsumen global.
Sebagai salah satu perusahaan kopi terkemuka dalam pembangunan berkelanjutan, Bapak Phan Minh Thong, Ketua Dewan Direksi Phuc Sinh Group, mengatakan bahwa ketika beliau tiba di Son La , beliau terpesona oleh hamparan hijaunya perkebunan kopi Arabika. Namun, setelah melakukan riset, Bapak Phan Minh Thong menyadari bahwa produksi kopi di Son La masih memiliki beberapa masalah, seperti: Hasil kopi masih terdampak kekeringan, embun beku, dan hujan es; rantai nilai produk kopi tidak erat dan tidak berkelanjutan; banyaknya fasilitas pengolahan kopi skala kecil dan teknologi yang ketinggalan zaman memengaruhi lingkungan dan kualitas kopi; proses panen yang dilakukan oleh masyarakat di banyak tempat belum memenuhi persyaratan teknis...
Demi meningkatkan nilai dan daya saing kopi Arabika Son La di pasar dunia , Phuc Sinh Group telah mendorong penerapan ESG (lingkungan, masyarakat, dan tata kelola perusahaan) dalam proses produksi. Setelah bertahun-tahun diterapkan, solusi ini telah berkontribusi dalam mengubah pola pikir petani, produsen, dan pelaku bisnis tentang budidaya dan pengolahan kopi berkelanjutan, yang dapat menjadikan Son La pusat produksi kopi berkualitas tinggi yang memenuhi standar dunia yang semakin ketat.
“Saat ini, Phuc Sinh memiliki 2 kawasan kopi yang diakui sebagai kawasan pertanian berteknologi tinggi, dan 1 indikasi geografis untuk kopi Son La. Produk kopi Son La juga telah diekspor ke 20 negara di Uni Eropa (UE), Amerika Utara, Timur Tengah, dan negara-negara ASEAN dengan harga konsumsi yang stabil dan tinggi…” – Bapak Phan Minh Thong menjelaskan.
Tren global dan realitas di Phuc Sinh menunjukkan bahwa berinvestasi dalam teknologi hijau merupakan strategi yang sangat diperlukan bagi perusahaan Vietnam untuk bersaing di pasar internasional. Investasi ini tidak hanya membantu perusahaan mematuhi standar internasional, menghemat biaya jangka panjang, tetapi juga meningkatkan nilai merek dan membangun hubungan kerja sama yang berkelanjutan. Perusahaan-perusahaan pionir dalam teknologi hijau akan menjadi perusahaan terdepan di masa depan, yang secara efektif memenuhi persyaratan dan tantangan pasar global.
Sumber: https://congthuong.vn/dau-tu-vao-cong-nghe-xanh-de-xuat-khau-khong-the-cham-tre-356027.html
Komentar (0)