Para arkeolog telah menemukan cakram giok di banyak makam berusia ribuan tahun, tetapi fungsi dan cara pembuatannya masih belum diketahui.
Cakram giok berukir naga yang digali di Yunnan. Foto: Wikipedia
Di Tiongkok kuno, setidaknya sejak 5000 SM, cakram batu besar telah ditempatkan di tubuh para bangsawan. Fungsi aslinya masih menjadi misteri bagi para ilmuwan , begitu pula cara pembuatannya, karena diukir dari batu giok yang sangat keras, menurut Ancient Origins .
Giok adalah batu keras langka yang terbuat dari berbagai mineral silikat, sering digunakan untuk membuat vas, perhiasan, dan berbagai barang dekoratif lainnya. Batu ini biasanya tidak berwarna, tetapi jika terkontaminasi bahan lain seperti krom, warnanya akan berubah menjadi hijau zamrud. Ada dua jenis utama giok: giok dan marmer. Karena kekerasan alaminya, giok merupakan material yang sangat sulit diolah. Oleh karena itu, para peneliti masih bertanya-tanya mengapa orang Tionghoa Neolitikum memilih batu semacam itu.
Karena cakram giok dibuat pada masa ketika belum ditemukan alat logam, para arkeolog yakin cakram tersebut kemungkinan besar dibuat melalui proses pemanasan dan pemolesan, yang membutuhkan waktu yang sangat lama. Cakram giok adalah potongan giok pipih berbentuk cincin yang dibuat oleh budaya Liangzhu, yang berkembang pesat pada akhir periode Neolitikum dari 3300 hingga 2300 SM. Artefak giok mereka yang rumit diyakini sebagai objek ritual, menunjukkan keahlian dan proses produksi yang rumit. Banyak di antaranya memiliki simbol yang merujuk ke surga.
Ditemukan di banyak makam bangsawan dari budaya Hongshan (3800-2700 SM) hingga budaya Liangzhu (3000-2000 SM), cakram giok ditempatkan di posisi-posisi penting pada tubuh almarhum, seperti dahi, dada, dan telapak kaki. Menurut salah satu teori, cakram giok membimbing jiwa almarhum ke surga. Teori lain menyatakan bahwa orang-orang kuno percaya bahwa giok dapat mencegah pembusukan tubuh. Cakram giok kemungkinan besar digunakan dalam ritual atau adat untuk memasuki alam baka . Di 50 situs penggalian di Provinsi Zhejiang, Tiongkok, banyak dinding, bengkel, dan makam dihiasi dengan giok.
Beberapa peneliti percaya bahwa cakram giok melambangkan Matahari atau roda, yang mencerminkan siklus kehidupan dan kematian. Melalui cakram giok, masyarakat budaya Liangzhu mampu mengekspresikan pemahaman mereka tentang perjalanan hidup yang tak berujung melalui berbagai tahapan.
An Khang (Menurut Asal Usul Kuno )
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)