.jpeg)
Perjalanan abadi para "pelopor"
Terletak di tengah sawah Cam Thanh, di tepi Sungai Do yang tenang, The Field Restaurant & Bar Hoi An adalah salah satu model pariwisata berkelanjutan yang sedang diupayakan oleh berbagai bisnis di Vietnam Tengah.
Dengan fokus pada pengembangan kuliner lokal yang ramah lingkungan, The Field menawarkan menu "Kembali ke Bacsis" – kembali ke nilai-nilai asli alam. Bahan-bahan bersumber dari kebun organik restoran atau dibeli langsung dari petani di Hoi An, sama sekali tidak menggunakan bahan impor.
Makanan disiapkan berdasarkan prinsip mengoptimalkan bahan-bahan, meminimalkan pemborosan, dan memprioritaskan bahan-bahan musiman.
Komitmen The Field terhadap keberlanjutan tidak hanya terbatas pada bahan-bahan, tetapi juga mencakup seluruh proses operasional. Restoran ini dikontrol secara ketat melalui sistem pengukuran spesifik di setiap departemen, dengan tujuan mencapai nol emisi.
“Ketika kami pertama kali memperkenalkan The Field pada tahun 2014, kami tidak hanya meluncurkan sebuah restoran; kami membangun dan mengoperasikan sebuah model yang terkait erat dengan tanggung jawab terhadap komunitas dan lingkungan. Dan prinsip itu tetap bersama kami hingga hari ini,” ujar Bapak Phan Xuan Thanh, Direktur EMIC Hospitality (pemilik dan operator The Field).
Selain kegiatan kuliner, The Field juga menyelenggarakan acara budaya yang merekonstruksi kehidupan tradisional dan mengintegrasikan budaya pertanian , seperti "Pengalaman Kuliner di Ladang" dan "Pasar Pariwisata Pedesaan," dengan partisipasi masyarakat setempat.
Melalui hal ini, kita berbagi manfaat, meningkatkan pendapatan bagi masyarakat, dan menginspirasi pengembangan pariwisata berbasis alam dan identitas lokal.
Dengan komitmen 10 tahun terhadap nilai-nilai ramah lingkungan, The Field menjadi restoran pertama di Vietnam yang menerima sertifikasi Platinum Gold untuk pengurangan emisi karbon dari Magnus International – sebuah pengakuan yang pantas atas model pariwisata bertanggung jawab yang dijalankan dengan dedikasi dan strategi jangka panjang.
Hal ini menyebabkan perubahan persepsi wisatawan.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran dari kalangan bisnis, perilaku konsumen di kalangan wisatawan juga jelas bergeser ke arah keberlanjutan yang lebih besar.

Selain sekadar mencari pemandangan indah atau fasilitas, wisatawan masa kini juga tertarik pada cara bisnis beroperasi: 41% responden menganggap pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sebagai prioritas utama; 58% menghargai tempat usaha dengan kebijakan daur ulang yang jelas; dan 79% ingin pengeluaran mereka mendukung komunitas lokal.
Secara khusus, 83% dari wisatawan yang disurvei mengatakan bahwa mereka menginginkan destinasi tersebut menjadi lebih baik setelah setiap kunjungan.
Angka-angka ini dengan jelas menunjukkan pergeseran pola pikir wisatawan dari "kesenangan pribadi" menjadi menciptakan "dampak positif".
Akibatnya, perilaku konsumen secara bertahap berubah: beralih dari sekadar berwisata secara pasif, perilaku tersebut bergeser ke partisipasi, berbagi, dan meninggalkan kesan positif yang abadi di destinasi wisata.
Oleh karena itu, pariwisata berkelanjutan bukan lagi pilihan yang terisolasi, melainkan menjadi tolok ukur yang mendorong industri pariwisata ke fase penataan ulang yang komprehensif, secara proaktif memimpin perubahan menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Dalam sebuah wawancara dengan Booking.com, Zoritsa Urosevic, Direktur Eksekutif Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyatakan bahwa industri pariwisata pada tahun 2025 sedang mengalami pergeseran signifikan, melampaui tujuan ekonomi untuk memprioritaskan restorasi lingkungan dan pelestarian budaya.
“Cara orang mendekati perjalanan sedang mengalami perubahan mendalam. Para pelancong semakin mempertimbangkan tujuan mereka, moda transportasi, dan dampak perjalanan mereka terhadap dunia. Mereka tertarik pada pengalaman otentik dan bermakna, condong ke arah perjalanan santai (slow travel), membenamkan diri secara mendalam dalam budaya lokal, dan memberikan kontribusi positif bagi tujuan mereka,” kata Zoritsa Urosevic.
Menurutnya, industri pariwisata perlu melampaui praktik bisnis konvensional dan mengadopsi langkah-langkah regeneratif yang membantu memulihkan ekosistem, mengurangi emisi karbon, melestarikan identitas budaya, dan meningkatkan status masyarakat.
Tujuannya bukan hanya untuk meminimalkan dampak negatif, tetapi juga untuk menciptakan nilai positif bagi wisatawan dan masyarakat setempat.
Sumber: https://baodanang.vn/du-lich-ben-vung-gan-voi-cong-dong-3297329.html






Komentar (0)