Anak-anak dengan neurodiversitas (yang otaknya berkembang atau berfungsi berbeda dari kebanyakan orang) sering mengalami kesulitan dengan metode pendidikan tradisional.
Penelitian menunjukkan bahwa 70% anak neurodiverse belajar lebih baik ketika informasi disajikan secara visual. Namun, membuat materi personalisasi yang tepat membutuhkan banyak waktu dan upaya.
Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi para profesional, pendidik, dan orang tua, karena permintaan terhadap solusi pembelajaran yang dipersonalisasi meningkat.
Tantangan dalam pendidikan khusus
Lebih dari 7,5 juta siswa di Amerika Serikat (sekitar 20%) memiliki kebutuhan pendidikan khusus. Guru biasanya menghabiskan 5-8 jam per minggu untuk mengadaptasi materi pembelajaran bagi siswa, menambah beban kerja mereka yang sudah berat, yaitu 40-50 jam per minggu.
Orang tua dan pengasuh menghadapi tantangan serupa, terutama dalam hal menciptakan alat pembelajaran yang menarik bagi anak-anak mereka di rumah.
"Menyiapkan jadwal visual, cerita sosial, dan intervensi perilaku bisa memakan waktu berjam-jam setiap minggu," kata Antoinette Banks, pendiri Expert IEP dan ibu dari seorang remaja neurodiverse. "Bagi keluarga yang sudah stres dengan kondisi anak mereka, waktu untuk melakukan hal-hal ini sungguh tidak cukup."
Banks menyoroti potensi kecerdasan buatan (AI) untuk meringankan beban ini. "AI dapat beradaptasi dengan cara alami manusia berpikir dan memproses informasi," ujarnya. "Ini bukan tentang mengubah anak-anak ini, melainkan tentang menggabungkan teknologi dan individu untuk mengubah perbedaan menjadi kekuatan."
Dari alat pendukung…
Kemampuan adaptif AI dalam pendidikan mentransformasi cara kita mendukung anak-anak dengan neurodiversitas, membantu mereka menemukan gaya kognitif unik mereka. Misalnya, anak-anak yang lebih suka belajar secara visual dapat memanfaatkan alat bantu visual yang dapat dibuat khusus dalam hitungan detik.
Menggunakan kecerdasan buatan untuk mengubah pendidikan bagi anak-anak dengan neurodiversitas
Sementara itu, mereka yang kesulitan dengan fungsi eksekutif dapat belajar melalui daftar tugas atau pengingat yang dihasilkan AI.
"Tidak ada pendekatan yang cocok untuk semua," kata Banks. "Beberapa anak belajar paling baik melalui gambar, beberapa menyukai pola, dan beberapa membutuhkan informasi yang dipecah dengan cara berbeda. AI mengenali perbedaan-perbedaan ini dan menyediakan alat yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak."
Kemampuan adaptif ini juga berlaku bagi anak-anak tuna rungu, yang memungkinkan mereka berkomunikasi melalui audio, video , atau media lain yang dihasilkan oleh AI generatif. Alat-alat ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih personal, tetapi juga memberdayakan anak-anak untuk mengekspresikan diri, sehingga meningkatkan koneksi dan kesempatan belajar.
…untuk meningkatkan kemampuan
AI juga dapat memanfaatkan kekuatan anak-anak. Misalnya, anak-anak yang pandai mengenali pola dapat menggunakan AI sebagai mitra untuk memecahkan masalah atau merancang sistem.
Demikian pula, mereka yang teliti akan mendapatkan manfaat dari bantuan AI dalam mengorganisasikan dan menyusun informasi yang kompleks. "Orang-orang dengan neurodiversitas seringkali unggul dalam mengenali pola atau menyederhanakan ide-ide kompleks," kata Banks. "Ketika AI dirancang untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan ini, ia dapat mengubah tantangan menjadi keunggulan yang luar biasa."
Dengan beradaptasi dengan berbagai gaya belajar, AI juga membantu mengurangi kecemasan yang sering muncul selama transisi atau ketika menghadapi tugas-tugas yang tidak familiar. Alat yang membuat jadwal personal atau menjelaskan konsep secara visual membantu anak-anak merasa lebih percaya diri dan terhubung, sehingga menghasilkan hasil belajar yang lebih baik.
Pertimbangan dan Potensi
Meskipun AI berpotensi transformatif, ia juga menimbulkan pertanyaan etis. Privasi dan persetujuan data merupakan kekhawatiran utama, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Transparansi algoritmik dan kendali pengguna sangat penting untuk memastikan AI berfungsi sebagai bantuan, bukan sumber bahaya. Faktor penting lainnya adalah menghindari ketergantungan yang berlebihan pada teknologi.
Meskipun AI dapat meningkatkan pendidikan dan aksesibilitas, AI harus digunakan sebagai pelengkap upaya manusia, bukan pengganti.
AI membuat perbedaan besar, baik di ruang kelas maupun di rumah. Alat yang menghasilkan materi personal dalam hitungan menit ini memberikan waktu luang bagi guru dan orang tua untuk fokus pada hal terpenting: mendukung anak-anak mereka.
Di tempat kerja, AI membantu orang-orang dengan neurodiversitas mengembangkan keterampilan komunikasi dan meningkatkan kemampuan beradaptasi mereka. Dengan meruntuhkan hambatan, memanfaatkan kekuatan, dan mendorong inklusivitas, AI membuka jalan baru yang tidak hanya kreatif tetapi juga manusiawi.
Sumber: Forbes
[iklan_2]
Sumber: https://phunuvietnam.vn/dung-tri-tue-nhan-tao-chuyen-doi-giao-duc-cho-tre-mac-chung-da-dang-than-kinh-20250214120354738.htm
Komentar (0)