Terletak di antara perbukitan hijau subur di pulau Lombok yang indah dan misterius di Indonesia, desa Karang Bayan di Lingsar, Lombok Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat, tetap tenang selama berabad-abad.
Meskipun lebih dari 600 tahun telah berlalu, masyarakat di sini masih mempertahankan jejak masa-masa awal pembangunan desa, dengan masjid kuno Karang Bayan, simbol pertukaran budaya yang unik dan vitalitas abadi budaya masyarakat dengan identitas yang kuat.
Gereja Karang Bayan merupakan salah satu warisan berharga masyarakat Sasak yang dibangun sekitar abad ke-15.
Menurut para tetua desa, gereja ini lahir seiring terbentuknya Desa Karang Bayan, saat umat Islam Watu Telu dari Lombok Utara datang membawa kepercayaan dan cerita sakral mereka.
Meskipun telah mengalami banyak perubahan selama ratusan tahun, gereja kuno ini masih menjadi tempat bagi penduduk setempat untuk berdoa dan menjalankan ritual selama hari besar umat Islam seperti Idul Fitri (akhir bulan puasa Ramadhan) atau Maulid Nabi (peringatan kelahiran Nabi Muhammad).
Keistimewaan Gereja Karang Bayan adalah arsitekturnya yang kuno, dengan fondasi yang terbuat dari tanah liat padat, dinding dari batu kali yang dicampur tanah liat, dan atap yang ditutupi rumput alang-alang.
Bagi pecinta arsitektur dan sejarah, rumah tradisional ini menawarkan wawasan unik tentang bagaimana orang Sasak membangun menggunakan teknik dan bahan tradisional dari alam yang tersedia secara luas dan ramah lingkungan.
Di sebelah gereja, dapur kuno juga dilestarikan, tempat orang berkumpul pada acara-acara khusus untuk memperingati dan merayakan upacara adat.
Gereja Karang Bayan merupakan salah satu warisan berharga masyarakat Sasak, dibangun sekitar abad ke-15. (Foto: Minh Thai/Vietnam+)
Berbicara kepada wartawan VNA, Ibu Helma, seorang tetua desa, mengatakan alasan mengapa orang-orang zaman dulu memilih lokasi ini untuk membangun gereja adalah karena desa ini makmur, kaya akan sumber daya alam dan hasil pertanian .
Desa Karang Bayan dikelilingi pepohonan hijau yang rimbun dan terletak di daerah perbukitan dengan ketinggian sekitar 139 meter di atas permukaan laut, kering dan sejuk sepanjang tahun. Sungai-sungai jernih seperti Kayangan dan Pancor Ancak menyediakan air yang melimpah bagi kehidupan dan pertanian penduduknya. Masyarakat Desa Karang Bayan, dari generasi ke generasi, telah melestarikan kehidupan bermasyarakat yang lestari, di mana semangat desa sedekat air di dalam tanah.
Keistimewaan desa ini terletak pada perpaduan budaya Islam Watu Telu dan kepercayaan Sasak kuno. Tradisi yang masih dilestarikan hingga kini antara lain kikir (ritual potong gigi ala Hindu) dan pijian, ritual persembahan hasil pertanian sebagai tanda syukur.
Rahmat Reza Aderyan, keturunan generasi kesembilan dari pemilik rumah kuno tersebut, di samping lampu pusaka keluarga yang berharga. Foto: Minh Thai. (Foto: Minh Thai/Vietnam+)
Ritual-ritual ini telah ada selama beberapa generasi, menciptakan identitas budaya yang unik. Kombinasi ini tidak hanya menunjukkan fleksibilitas komunitas, tetapi juga menegaskan kekuatan pertukaran budaya, menciptakan Karang Bayan yang melestarikan tradisi sekaligus terbuka dan terintegrasi dengan dunia .
Di desa ini, tak jauh dari gereja kuno dan berasal dari periode yang sama, terdapat sebuah rumah adat yang masih berdiri tegak dengan keindahan alami dan kehangatan zamannya. Dibangun dari kayu, bambu, dan tanah liat, dengan atap jerami yang sederhana namun kokoh, rumah ini jelas mencerminkan hierarki sosial masyarakat Sasak.
Saat memandu reporter VNA mengunjungi rumah tersebut, Rahmat Reza Aderyan, keturunan generasi kesembilan dari pemilik pertama rumah kuno tersebut, mengatakan bahwa setiap ruangan di rumah tersebut memiliki tujuan tersendiri: mulai dari tempat pertemuan para pemimpin desa hingga tempat penyimpanan pusaka keluarga dan perkakas untuk upacara keagamaan.
Secara khusus, arsitektur atap yang rendah dan miring dimaksudkan untuk memaksa tamu membungkuk sebelum masuk, menunjukkan rasa hormat kepada pemilik rumah.
Menurut Rahmat Reza Aderyan, rumah adat ini bukan hanya tempat tinggal pemuka desa zaman dahulu, tetapi juga tempat berlangsungnya pertemuan-pertemuan penting, tempat masyarakat berkumpul untuk memecahkan masalah dan membahas pembangunan desa. Setiap sudut rumah seolah menyimpan kisah masa lalu, hubungan antarmanusia, dan hubungan dengan alam.
Rumah adat Karang Bayan telah dilestarikan dengan keindahan alamnya yang asri dan alami, namun sarat akan nilai-nilai budaya dari masa ke masa. Peninggalan sejarah ini menyimpan kisah-kisah agar generasi mendatang dapat lebih memahami kehidupan masyarakat Sasak yang sederhana namun kaya, tentang sebuah komunitas yang selalu terhubung dalam setiap hentakan kehidupan.
Kedua sisi jalan di Desa Karang Bayan masih memiliki pagar anyaman bambu. (Foto: Minh Thai/Vietnam+)
Desa Karang Bayan, dengan keindahan alamnya yang memesona, hamparan sawah dan pegunungan di kejauhan, menawarkan ruang damai bagi siapa pun yang ingin sejenak melepaskan diri dari hiruk pikuk kota, menemukan kedamaian, dan menyatu dengan alam. Rumah-rumah tradisional di desa ini, beratap jerami dan berdinding anyaman bambu, menjadi daya tarik tersendiri, bukan hanya sebagai tempat tinggal tetapi juga sebagai bukti nyata budaya Sasak yang tangguh.
Berwisata ke Karang Bayan bukan hanya tentang mengunjungi suatu negeri, tetapi juga tentang merasakan sejarah dan budaya masyarakat adatnya. Desa yang ramah ini mengundang pengunjung untuk berpartisipasi dalam upacara adat, mempelajari kehidupan masyarakat Sasak, dan merasakan hubungan erat antara manusia dan alam.
Karang Bayan, meskipun berusia lebih dari enam abad, masih mempertahankan identitasnya sendiri yang khas, sebuah desa yang damai dengan banyak cerita misterius dan nilai-nilai budaya yang kaya.
(Do Quyen/Vietnam+)
Sumber: https://www.vietnamplus.vn/indonesia-kham-pha-di-san-van-hoa-sasak-600-nam-tuoi-o-dao-lombok-post1023658.vnp
Komentar (0)