Pada tahun 1957, di sebuah lokasi konstruksi di Xi'an, Shaanxi, Tiongkok, para pekerja secara tidak sengaja menemukan sebuah makam berusia seribu tahun. Ketua tim segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengirimkan tim arkeolog ke lokasi tersebut untuk melakukan penggalian.
Setelah diperiksa, para arkeolog menetapkan bahwa makam ini berasal dari Dinasti Zhou Utara, Dinasti Sui (581-619). Berdasarkan tata letak dan benda-benda pemakaman, pemilik makam tersebut pastilah seorang anggota keluarga kerajaan. Makam berbentuk persegi panjang ini hanya sedalam 2,9 m, mulut lubang berukuran 6,05 m × 5,1 m, dan dasar makam berukuran 5,5 m × 4,7 m.
Sekelompok pekerja secara tidak sengaja menemukan makam berusia seribu tahun saat pembangunan. (Foto: Sohu)
Setelah diverifikasi, para arkeolog menginformasikan bahwa pemilik makam tersebut adalah Li Jingxun, 9 tahun, putri Li Min, seorang anggota keluarga Li terkemuka pada masa Dinasti Sui. Pada masa Dinasti Sui, selain keluarga Kaisar Yang Jian, keluarga Li ini merupakan salah satu keluarga paling berkuasa.
Ayah Li Jingxun, Li Min, terkenal karena pengetahuan dan bakatnya yang luas, serta penguasaan seninya. Ia dicintai oleh Kaisar Wen dari Sui, Yang Jian. Akhirnya, Kaisar Yang Jian menikahkan putri Li Min dengannya. Kemudian, ia menggantikan ayahnya sebagai Shangzhu Guo dan juga diangkat sebagai Mahaguru Guanglu, yang berkatnya keluarga Li menjadi semakin terkemuka dan makmur.
Setahun kemudian, putri Li Min, Li Jingxun, lahir. Li Jingxun juga merupakan cucu dari Yang Lihua (561-609), permaisuri Kaisar Xuanyu dari Zhou Utara, Yuwen Yun, dan kemudian Putri Luoping dari Dinasti Sui.
Pemilik makam tersebut adalah Li Jingxun, 9 tahun, cucu perempuan dari keluarga Li terkemuka dari Dinasti Sui. (Foto: Sohu)
Li Jingxuan dianggap sebagai permata berharga oleh Li Min dan keluarga Yang, dan sangat dikagumi. Namun, begitu keberuntungan datang, begitu pula kemalangan. Tak disangka, Li Jingxuan baru berusia 9 tahun ketika ia meninggal dunia karena penyakit serius. Keluarga Yang dan Li sangat menderita saat itu.
Menurut catatan sejarah, setelah Li Jingxun meninggal, Ibu Suri Yang Lihua adalah orang yang paling berduka. Ia mengeluarkan dekrit untuk menguburkan keponakannya dengan upacara kerajaan.
Di dalam makam, para ahli menemukan beberapa mainan anak-anak dan sebuah peti batu yang sangat indah. Peti mati itu sendiri dibuat oleh seorang pengrajin berpengalaman di bawah naungan Permaisuri Yang Lihua. Di dalam peti mati kecil tersebut terdapat total 230 benda yang terbuat dari emas, perak, giok, dan porselen, serta berbagai harta karun langka dari Wilayah Barat.
Pada peti mati kecil itu terukir empat kata besar: "Siapa pun yang membukanya akan mati." (Foto: Sohu)
Tepat ketika para ahli hendak membuka peti mati kecil itu untuk melanjutkan pencarian artefak, mereka terkejut. Empat karakter besar terukir di peti mati kecil itu: "Khai gia tuc tu" (Siapa pun yang membukanya akan mati). Ternyata, orang-orang kuno percaya bahwa mengukir kutukan pada peti mati akan mencegah pencuri makam mencuri barang-barang di dalamnya.
Setelah berdiskusi, para ahli memutuskan untuk memindahkan peti mati tersebut ke museum untuk diawetkan. Saat ini, peti mati tersebut belum dibuka dan sedang diawetkan di Museum Xi'an Bilin.
Quoc Thai (Sumber: Sohu)
[iklan_2]
Sumber






Komentar (0)