
Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schröder dalam pertemuan sebelumnya.
Foto: Reuters
Usulan tersebut tentu tidak akan diterima oleh Uni Eropa karena Schröder selalu dipandang sebagai seseorang yang memiliki hubungan pribadi yang dekat dan pendukung kuat Putin dalam hubungan Rusia dengan Uni Eropa dan NATO. Oleh karena itu, Uni Eropa tidak akan mengizinkan "orang dari pihak lain" untuk menjadi bagian dari delegasi negosiasinya. Lebih jauh lagi, Uni Eropa memandang usulan Putin sebagai campur tangan langsung dalam urusan internal.
Meskipun tidak praktis, langkah Putin tetap memberikan nilai yang cukup besar bagi Moskow. Pertama, hal itu menunjukkan posisi Rusia relatif terhadap Uni Eropa dan AS. Bagi Uni Eropa, pesan Putin adalah bahwa Uni Eropa saat ini tidak dianggap sebagai mitra negosiasi dalam konflik Ukraina dan tidak dapat memainkan peran sebagai mediator diplomatik dalam masalah ini. Lebih jauh lagi, usulan tersebut memperburuk perbedaan pendapat internal di dalam Uni Eropa dan NATO mengenai perang di Ukraina, Ukraina itu sendiri, dan Putin. Di dalam Uni Eropa dan NATO, ada anggota yang tidak setuju dengan kebijakan untuk menghadapi Rusia dengan segala cara, lebih memilih untuk mempertahankan hubungan dan negosiasi langsung dengan Rusia, percaya bahwa hanya dengan cara inilah perang di Ukraina dapat segera berakhir dan mengurangi ketergantungan pada AS untuk jaminan keamanan, baik sekarang maupun di masa pasca-perang.
Bagi Presiden Trump, implikasi Putin hanya bisa berarti bahwa AS juga kehilangan kapasitas praktisnya dan kesempatan untuk memainkan peran penting dalam mengakhiri perang. Hal ini juga akan merugikan kunjungan Trump ke China yang akan datang.
Putin mengatakan Rusia akan mengerahkan rudal Sarmat, 'rudal paling ampuh di dunia ,' tahun ini.
Sumber: https://thanhnien.vn/khong-kha-thi-van-kha-dung-185260512210212163.htm







Komentar (0)