
Keluarga Tuan Then Van Trong di desa Coc Tum 2, kecamatan Phong Nien (kabupaten Bao Thang) merupakan salah satu rumah tangga perintis yang ikut serta dalam model budidaya cacing kalsium yang diterapkan oleh Ikatan Petani Komune.
Bapak Trong berkata: Keluarga saya beternak ayam dan angsa. Sebelumnya, saya menghabiskan banyak uang untuk pakan ternak. Pada bulan Agustus 2023, Asosiasi Petani Komune mendukung saya dengan memberikan bibit, wadah, dan pelatihan teknik budidaya cacing kalsium. Setelah beternak ayam dan angsa dengan cacing kalsium, saya mendapati bahwa ayam dan angsa tersebut tumbuh lebih cepat, lebih jarang terserang penyakit, bulunya lebih halus, kualitas dagingnya lebih baik, dan harga jual ayam dan angsa 20-30 ribu VND/kg lebih tinggi daripada peternakan konvensional. Beternak unggas dengan cacing kalsium membantu mengurangi penggunaan pakan industri hingga 50%, sehingga menghemat puluhan juta VND setiap tahunnya.
Keluarga Bapak Tai Quang Lai di Desa Coc Tum, Kecamatan Phong Nien, juga mengembangkan ekonomi mereka dengan model budidaya cacing kalsium sebagai pakan ayam petelur. Menurut Bapak Lai, keunggulan model ini adalah biaya investasi yang rendah, adaptasi yang mudah, tidak memerlukan banyak perawatan, dan pemanfaatan limbah pertanian. Sumber pakan cacing adalah kotoran ternak, sayuran busuk, umbi-umbian, dan buah-buahan. Jenis cacing ini sangat bergizi, membantu hewan tumbuh cepat dan meningkatkan daya tahan tubuh. "Keluarga saya menggunakan cacing kalsium dalam budidaya ayam petelur dengan hasil yang nyata: Ayam bertelur terus menerus, dalam jumlah yang lebih banyak, telur yang lebih besar, kualitas yang lebih baik, dan jika dibiarkan menetas, tingkat penetasan telurnya mencapai 90%... Selain itu, pupuk cacing kalsium sangat baik untuk kebun buah," ujar Bapak Lai.

Cacing kalsium memiliki kemampuan mencerna komponen organik dalam sampah rumah tangga, terutama sayuran, umbi-umbian, dan buah-buahan yang rusak... menciptakan sumber makanan bergizi bagi ternak, serta humus bagi tanaman. Sejak tahun 2023, Asosiasi Petani Provinsi telah menerapkan model pertanian percontohan di 2 komune, dan sejauh ini model tersebut telah diperluas ke 9 komune di 3 distrik: Bat Xat, Bao Thang, dan Bao Yen, dengan 450 rumah tangga yang berpartisipasi. Rumah tangga yang memelihara cacing kalsium dilatih dalam teknik pertanian, proses pertanian, dan didukung dengan bibit...
Menurut penilaian lembaga profesional, budidaya cacing kalsium merupakan pakan ternak dan unggas, mengurangi biaya pemeliharaan ternak, meningkatkan keuntungan peternak, sekaligus mengatasi masalah pencemaran lingkungan akibat sampah organik yang tidak diolah dalam kehidupan sehari-hari, dan menciptakan produk ramah lingkungan. Dari hanya 10 gram telur cacing awal, setelah 15-20 hari pemeliharaan, sekitar 25-30 kg cacing siap panen dapat dipanen. Cacing kalsium memiliki kandungan gizi yang tinggi, merupakan pakan bergizi, cocok untuk pemeliharaan unggas dan produk akuatik, membantu hewan tetap kenyang lebih lama, tumbuh cepat, mengurangi sekitar 20%-50% dari kebutuhan utama, menghasilkan kualitas daging yang lezat dan harga jual yang tinggi.

Bapak To Manh Tien, Wakil Ketua Asosiasi Petani Provinsi, mengatakan: "Cacing kalsium adalah larva lalat tentara hitam. Disebut cacing kalsium karena ketika cacing tersebut dewasa atau berganti kulit menjadi lalat tentara hitam, kepompong yang ditinggalkan cacing tersebut mengandung banyak kalsium. Cacing dewasa digunakan sebagai pakan ternak dan unggas untuk melengkapi nutrisi, terutama kalsium, sehingga sangat baik untuk perkembangannya."

Memelihara cacing kalsium juga sangat mudah, cukup gunakan kotak styrofoam atau ember, baskom, dan tong plastik sebagai tempat berlindung bagi cacing. Dari sumber benih, setelah masa pemeliharaan, larva akan tumbuh dan berkembang biak berkali-kali lipat. Makanan cacing ini adalah kotoran hewan (kotoran babi, kotoran kerbau, kotoran ayam, dll.), dan sisa sayuran hijau.
Ke depannya, Asosiasi Petani Provinsi akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mendorong dan memobilisasi petani agar mempertahankan dan memperluas model budidaya cacing kalsium, dengan menerapkan metode konversi limbah. Limbah di ladang seperti jerami, limbah tanaman, dan sampah organik dari rumah tangga, usaha, dan restoran dapat diolah menjadi pakan cacing kalsium, yang berkontribusi pada peningkatan efisiensi peternakan dan membantu mengurangi pencemaran lingkungan.
Sumber
Komentar (0)