
Malam Festival Lentera di puncak Gunung Thien Cam. Foto: TRAN HUYNH
Angin sepoi-sepoi pegunungan membawa aroma hutan dan kesejukan unik dari ketinggian lebih dari 700 meter. Saat bulan purnama perlahan terbit di langit yang cerah, tempat itu tampak menjadi panggung alami untuk puisi. Sejak lama, Gunung Cam (Thien Cam Son) dianggap sebagai "atap" Delta Mekong. Gunung yang menjulang tinggi ini, yang terletak di tengah delta yang luas, tidak hanya memiliki keindahan alam yang megah tetapi juga menyimpan banyak lapisan sedimen sejarah dan budaya. Oleh karena itu, ketika malam puisi Festival Lentera diadakan di puncak gunung, tempat itu memiliki makna yang sangat istimewa. Bait-bait puisi, yang bergema dalam angin pegunungan, tampak beresonansi lebih jauh, menyentuh relung terdalam jiwa pendengar.
Malam puisi dan musik Festival Lentera Tahun Kuda 2026 berlangsung dalam suasana yang khidmat dan hangat. Sebuah panggung kecil didirikan di tengah ruang terbuka yang luas. Di kejauhan, lampu-lampu di kaki pegunungan Thất Sơn berkelap-kelip seperti gugusan bintang di malam hari. Ketika pertunjukan pembuka dimulai dengan lagu-lagu dan tarian musim semi yang meriah, seluruh ruang tampak bercahaya. Ketika bait-bait puisi pertama dibacakan, malam Festival Lentera benar-benar dimulai. Itu adalah malam di mana puisi menjadi benang yang menghubungkan manusia dengan alam dan, yang terpenting, menyatukan jiwa-jiwa yang sehati.
Selama acara tersebut, puisi Presiden Ho Chi Minh "Nguyen Tieu" (Festival Lentera) bergema di bawah bulan purnama bulan pertama kalender lunar. Puisi terkenal ini ditulis selama tahun-tahun sulit perang perlawanan, namun tetap penuh dengan keyakinan dan optimisme. Ketika dibacakan dalam suasana tenang pegunungan dan hutan, bait-baitnya tampak memiliki kedalaman baru, memungkinkan pendengar untuk lebih menghargai keindahan puisi tradisional dan semangat pantang menyerah bangsa.
Dari alur emosional tersebut, malam puisi berlanjut dengan mengungkap kisah-kisah tentang tanah air dan masyarakat An Giang . Salah satu momen yang paling mengharukan adalah ketika puisi "Hari Kembalinya Paman Ho" karya penyair Ho Thanh Dien dibacakan. Puisi tersebut membangkitkan gambaran Presiden Ton Duc Thang yang kembali ke kampung halamannya di My Hoa Hung setelah bertahun-tahun terpisah. Bait-bait yang sederhana namun menyentuh dan mendalam itu membuat banyak orang merenung dalam diam, karena tidak hanya berisi kisah seorang pemimpin teladan tetapi juga kebanggaan tanah kelahiran seorang putra bangsa yang luar biasa.
Malam puisi itu juga mendedikasikan banyak momen tenang untuk emosi sehari-hari. Puisi "Di Tepi Kanal" karya penyair Pham Nguyen Thach menceritakan kisah seorang ibu di pedesaan, tentang makanan sederhana yang dipenuhi cinta. Bait-bait sederhana namun mendalam ini menyentuh kenangan banyak orang. Bahkan setelah puisi berakhir, banyak penonton tetap termenung. Mungkin, dalam limpahan cinta itu, mereka melihat gambaran ibu mereka sendiri.
Selama pembacaan puisi itu, banyak yang tersentuh oleh puisi "Di Atas Pondasi Rumah Tua" karya penyair Tran Sang. Bait-baitnya membangkitkan kenangan tentang rumah tua, orang tua, dan masa kecil. Gambaran pondasi rumah tua dalam puisi itu bukan hanya ruang fisik tetapi juga simbol tanah air dan akar. Mendengarkan puisi itu di tengah malam pegunungan, orang-orang tiba-tiba menyadari bahwa ke mana pun mereka pergi, mereka selalu membawa di dalam hati mereka sebuah alam kenangan yang tak terlupakan.
Salah satu keunikan malam Festival Lentera di Gunung Thien Cam adalah perpaduan harmonis antara puisi dan musik. Puisi yang diiringi musik menggema di tengah awan, menciptakan ruang artistik yang sangat istimewa. Lagu "Mendaki Gunung" karya komposer Dang Khoa, yang diiringi puisi dengan judul yang sama karya Cao Le Hong Rang, bergema lembut seperti langkah kaki yang bermeditasi di pegunungan yang tenang. Nyanyian itu melayang di ruang yang luas, membawa rasa damai yang langka, seolah-olah orang-orang untuk sementara mengesampingkan hiruk pikuk kehidupan untuk mendengarkan diri mereka sendiri.
Gunung Thien Cam Son bukan hanya objek wisata terkenal, tetapi juga ruang budaya unik di wilayah Bay Nui. Gunung ini terkait dengan banyak legenda, jejak sejarah, dan kehidupan spiritual penduduk delta. Oleh karena itu, menyelenggarakan malam puisi di puncak gunung tidak hanya memiliki makna artistik tetapi juga berkontribusi untuk menghormati keindahan budaya daerah ini.
Penulis skenario Phan Thanh Vu, Wakil Presiden Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni provinsi, menekankan bahwa puisi telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual bangsa. Dari lagu-lagu rakyat sederhana hingga karya-karya modern, puisi selalu menyertai sejarah dan kehidupan negara. Dan di tempat-tempat seperti malam Festival Lentera di puncak gunung Thien Cam Son, orang dapat merasakan dengan lebih jelas vitalitas puisi yang abadi.
Di puncak gunung suci, di tengah hamparan langit dan bumi yang luas, puisi sekali lagi menunjukkan kekuatannya: menghangatkan hati dan membangkitkan kebaikan dalam jiwa. Dalam semilir angin gunung di malam bulan purnama, suara puisi seolah berlama-lama seperti janji untuk musim semi mendatang, ketika para pencinta puisi akan kembali ke Thien Cam Son.
TRAN HUYNH
Sumber: https://baoangiang.com.vn/tieng-tho-tren-nui-cam-a478514.html







Komentar (0)