Ada banyak alasan mengapa orang tiba-tiba berhenti minum obat. Bisa jadi karena mereka tidak mampu lagi membeli obatnya, mengalami efek samping yang tidak menyenangkan, atau merasa sudah sehat dan tidak perlu minum obat lagi.
Namun, berhenti minum obat secara tiba-tiba dapat menjadi kesalahan serius dan sangat memengaruhi kesehatan, menurut Medical News Today (UK).
Menghentikan pengobatan tekanan darah secara tiba-tiba dapat meningkatkan risiko kerusakan arteri dan stroke.
Beberapa obat perlu dikurangi secara bertahap karena pasien dapat mengalami ketergantungan. Jika dihentikan secara tiba-tiba, gejala putus obat seperti tremor, kecemasan, berkeringat, dan detak jantung cepat dapat muncul. Dalam kasus yang parah, kematian dapat terjadi.
Obat-obatan yang tidak boleh dihentikan tiba-tiba, dan jika ingin berhenti perlu berkonsultasi dengan dokter, antara lain, menurut Medical News Today.
Obat tekanan darah
Bagi penderita tekanan darah tinggi, mengonsumsi obat secara teratur akan membantu mengendalikan tekanan darah dengan sangat efektif. Tergantung jenis obat yang diresepkan, obat akan membantu mengendalikan laju pemompaan jantung, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan pembuangan garam dan air dari tubuh.
Menghentikan pengobatan Anda secara tiba-tiba akan meningkatkan risiko kerusakan arteri, stroke, kerusakan saraf optik, gagal ginjal, dan masalah ginjal lainnya.
Menghentikan penggunaan antidepresan dapat menyebabkan beberapa gejala depresi kembali, seperti kecemasan, menangis, dan serangan panik.
Antidepresan
Orang yang mengonsumsi antidepresan mungkin mulai merasa lebih baik setelah beberapa saat. Kemudian, mereka berhenti minum obat karena tidak lagi membutuhkannya. Ini bisa menjadi kesalahan serius.
Antidepresan bekerja dengan menyeimbangkan kembali neurotransmiter di otak. Menghentikannya secara tiba-tiba dapat menyebabkan neurotransmiter kembali tidak seimbang. Hal ini dapat menyebabkan gejala-gejala seperti kelelahan, pusing, kram perut, menangis, serangan panik, perubahan suasana hati, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri. Penderita depresi hanya boleh berhenti minum obat jika dokter menganjurkannya.
Benzodiazepin
Obat ini umum digunakan dalam pemulihan kecanduan, gangguan kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Obat ini bahkan digunakan oleh dokter gigi untuk meredakan kecemasan sebelum perawatan gigi.
Namun, sisi negatif benzodiazepin adalah dapat menyebabkan ketergantungan obat. Penghentian mendadak dapat menyebabkan gejala putus obat seperti kejang, halusinasi, psikosis, dan bahkan kematian.
Kortikosteroid
Kortikosteroid adalah obat antiinflamasi yang digunakan untuk mengobati berbagai kondisi, mulai dari asma hingga sindrom iritasi usus besar. Kortikosteroid merupakan versi sintetis dari hormon kortisol, yang diproduksi oleh kelenjar adrenal.
Menghentikan pengobatan secara tiba-tiba dapat menyebabkan gejala seperti nyeri sendi, tekanan darah rendah, kelelahan, perubahan suasana hati, sakit perut, mual, dan diare. Oleh karena itu, jika ingin berhenti minum obat, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan petunjuk khusus, menurut Medical News Today.
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)