Orang tua dari anak-anak dengan kecerdasan emosional tinggi menghindari penggunaan frasa ini ketika membesarkan anak-anak mereka.
1. "Jangan ganggu aku, aku sibuk!"
Bila orangtua sering berkata seperti itu kepada anaknya, maka anak akan merasa orangtuanya tidak peduli lagi dan selalu ingin menjauhinya.
Lambat laun, anak akan kehilangan keinginan untuk berbicara, bercerita, dan berbagi dengan orang tuanya.
Jika orang tua sering berkata kepada anak-anaknya: "Jangan ganggu ibu/ayah", anak-anak akan merasa orang tua mereka tidak peduli pada mereka. Foto ilustrasi
2. "Tenanglah!"
Tidaklah baik untuk memberi tahu anak-anak bagaimana mereka seharusnya merasa, meskipun Anda hanya mencoba menenangkan atau menghibur mereka.
Psikoterapis Amy Morin (pemimpin redaksi Verywell Mind) mengatakan penting untuk memperhatikan apa yang dilakukan anak Anda dengan emosi yang terjadi.
Ia menyarankan orang tua membantu anak-anak mereka memahami bahwa merasa kesal atau marah adalah hal yang normal dan membimbing mereka untuk mengambil tindakan menenangkan, seperti menarik napas dalam-dalam atau berlari alih-alih berteriak.
3. "Kamu sudah sangat tua tapi masih saja melakukan kesalahan."
Pada usia anak-anak, kemampuan untuk memahami dan memecahkan masalah masih terbatas. Dan setiap anak adalah individu yang berbeda dengan kepribadian dan perkembangan psikologis yang berbeda pula.
Orangtua hendaknya tidak menggunakan standar orang dewasa untuk membandingkan dan memposisikan anak.
4. "Jangan khawatir tentang hal itu"
Saat seseorang berkata, "Jangan khawatir," kekhawatiran itu tidak serta-merta hilang.
Sebaliknya, orang tua seharusnya memiliki strategi yang lebih baik, dengan mengajukan pertanyaan "Apa yang dapat kamu lakukan saat kamu khawatir?" kepada anak-anaknya.
Hal ini dapat membantu anak berpikir tentang pemecahan masalah dan mengelola pikiran mereka dengan cara yang lebih sehat.
Ketika seseorang berkata, "Jangan khawatir," kekhawatirannya tidak serta merta hilang. Foto ilustrasi
5. "Anak-anak tidak tahu apa-apa, jadi mengapa kamu menyela?"
Anak-anak juga ingin menjadi bagian dari keluarga, mereka hanya tidak mengerti kapan harus mengatakannya dan kapan tidak.
Orang tua dapat berkata kepada anak-anaknya: "Kami tahu kamu ingin berbagi, jadi tunggu sampai kami selesai berbicara dan baru kamu bisa menceritakannya kepada kami."
6. "Kamu akan melakukannya dengan baik"
Ini adalah pandangan positif yang dapat membantu anak-anak memperoleh kepercayaan diri, tetapi tidak seorang pun dapat melihat segalanya.
Orangtua benar-benar tidak dapat memprediksi kapan anak-anak mereka akan berhasil atau gagal.
"Dengan kata lain, memberi anak-anak jaminan bahwa mereka akan berhasil tetapi tidak mencapai tujuan mereka dapat merusak harga diri mereka," kata psikoterapis Amy Morin.
Alih-alih mengatakan "Kamu pasti menang/berhasil!", orang tua seharusnya mengatakan "Berusahalah sebaik mungkin. Kalau kamu gagal, tidak apa-apa."
Memberikan jaminan kepada anak bahwa mereka akan berhasil tetapi tidak mencapai tujuan mereka dapat merusak kepercayaan diri mereka. Ilustrasi
7. "Jangan tumbuh menjadi seperti orang tuamu!"
Beberapa orang tua sering bercanda dengan anak-anak mereka: "Jangan seperti orang tuamu."
Di mata anak-anak, pernyataan ini tidak ada bedanya dengan orang tua yang secara implisit menghakimi pasangannya, menganggap orang itu tidak baik.
8. "Jangan sampai aku memergokimu melakukan itu lagi."
Frasa ini sering diucapkan karena frustrasi dan keinginan untuk membantu anak menghindari kebiasaan buruk atau berbahaya.
Namun, jika Anda hanya memperingatkan anak-anak tentang konsekuensi jika ketahuan, mereka hanya akan menemukan cara untuk menyembunyikan perilaku buruk mereka.
Sebaliknya, jika Anda mengajarkan anak-anak Anda untuk jujur kepada Anda tentang kesalahan mereka, maka Anda dapat membantu mereka belajar dan tumbuh.
[iklan_2]
Sumber: https://giadinh.suckhoedoisong.vn/8-cau-cha-me-cua-tre-eq-cao-khong-nen-noi-172250312111757868.htm
Komentar (0)