Distrik Ba Che, Quang Ninh, merupakan daerah yang kaya akan tanaman obat berharga seperti Morinda officinalis ungu, bunga teh kuning, Cau Sam, Dang Sam, Cat Sam... yang terkenal di dalam dan luar provinsi. Memanfaatkan tanaman obat ini, Bapak Nguyen Van Cuong (Kelurahan 3A, Kota Ba Che, Distrik Ba Che) memutuskan untuk berinvestasi di bidang peternakan ayam dengan sistem penggembalaan alami dan menggunakan pakan yang dicampur dengan tanaman obat lokal untuk membangun merek ayam kampung obat.

Pada bulan November 2021, distrik Ba Che melakukan uji coba model "peternakan unggas biosafe di bawah naungan hutan tanaman", dan Bapak Cuong menjadi pelopor dalam berpartisipasi dalam implementasinya.
Saat mulai bekerja, Bapak Cuong mendapatkan dukungan dari pemerintah kabupaten berupa 300 ekor ayam, makanan, dan obat-obatan untuk mencegah dan mengobati penyakit awal pada ayam-ayamnya. Selain itu, beliau juga dengan berani meminjam 150 juta VND dari sumber pinjaman preferensial Bank Kebijakan Sosial.
Dia berinvestasi dalam membangun lumbung, membeli mesin pemotong tanaman obat, mesin pemotong makanan, mesin pengepres pelet, dan 600 ekor ayam lokal untuk digembalakan di hutan dan perbukitan seluas 4 hektar milik keluarganya.
Keluarganya telah menanam bunga teh kuning di bukit ini selama 6 tahun. Ia juga menanam tanaman obat seperti perilla, serai, honeysuckle, ginseng, dan polyscias fruticosa untuk dicampurkan ke dalam pakan ayam.
Menurut Bapak Cuong, ini merupakan model peternakan yang efektif, dan kualitas ayam yang dihasilkan sangat baik. Karena situasi penyakit pada ternak dan unggas cukup kompleks, tingkat resistensi obat pada unggas sangat tinggi.

Memelihara ayam menggunakan metode baru membantu mengurangi biaya penggunaan antibiotik hewan, mengurangi tingkat kematian ayam, biaya pakan, dan membuka arah baru dalam mengakses pasar untuk produk ayam bersih.
Agar ayamnya dapat tumbuh dengan baik, selain mendapat bimbingan teknis dari petugas balai pelayanan teknis pertanian kabupaten, Bapak Cuong juga belajar melalui buku, koran, internet dan mendatangi berbagai tempat yang juga beternak ayam dengan tanaman obat untuk berkonsultasi dan belajar cara melakukannya.
Selain membiarkan ayam merumput secara alami untuk memakan tanaman obat yang tersedia, Bapak Cuong juga memasak daun teh kuning untuk diminum ayam dan mencampurkan beberapa tanaman obat lainnya ke dalam pakan ayam.
Sebulan sekali, ia mengasapi kandang ayam dengan daun obat untuk mencegah penyakit pernafasan dan meningkatkan daya tahan ayam.
"Langkah tersulit adalah mencampurkan ramuan obat ke dalam pakan dengan takaran yang tepat agar ayam tumbuh merata, bebas penyakit, rendah kehilangan berat badan, tumbuh cepat, dan terutama memiliki kualitas daging yang lebih baik daripada ayam yang dipelihara secara normal," ujar Bapak Cuong.
Kesulitan lain dalam memelihara ayam obat adalah pencegahan penyakit dan kebersihan. Agar ayam tumbuh dengan baik, lantai kandang dan halaman harus selalu kering, serta tempat pakan dan air harus bersih.
Bapak Cuong juga memadukan beberapa obat tradisional setempat seperti honeysuckle, perilla, licorice, jahe, dan lengkuas untuk mencegah dan mengobati batuk kering, sakit tenggorokan, dan asma pada ayam.

Berkat penelitian dan kepatuhan yang ketat terhadap langkah-langkahnya, Bapak Cuong awalnya menerapkan model peternakan ayam dengan sangat lancar. Ayam yang diberi pakan campuran obat lebih sehat dan lebih jarang terserang penyakit.
Setelah 7 bulan digembalakan di alam bebas dan diberi pakan herbal, ayam-ayam keluarga Bapak Cuong mencapai berat 1,8-3,2 kg/ekor, dengan daging yang harum dan manis, serta kulit kuning nan indah. Setelah dikurangi biaya-biaya, ayam-ayam pertama ini menghasilkan keuntungan lebih dari 100 juta VND bagi keluarga Bapak Cuong.
Dari keberhasilan ini, keluarga Bapak Cuong memperluas lahan penggembalaan di kebun bukit menjadi 7 hektar. Saat ini, beliau memelihara ayam secara berkelompok, dengan 4 hingga 5 kali pemeliharaan per tahun, dengan masing-masing kelompok berisi 1.500 hingga 2.000 ekor ayam. Masa pemeliharaan ayam sekitar 4-6 bulan sebelum dapat dijual.
Dengan harga ayam hidup hampir 200.000 VND/kg, setiap tahun Tuan Cuong memperoleh keuntungan lebih dari 150 juta VND.
Selain mengembangbiakkan ayam, keluarga Bapak Cuong juga melakukan proses pengolahan awal, penyembelihan, dan pengemasan sesuai standar, guna menjamin kebersihan dan keamanan pangan.

Direktur Pusat Layanan Teknis Pertanian Distrik Ba Che, Ibu Pham Thi Chinh, mengatakan bahwa melalui pemantauan, pengawasan, bimbingan, dan bantuan dalam pelaksanaan sejumlah model percontohan pemeliharaan ayam yang dikombinasikan dengan suplemen tanaman obat, model tersebut telah berkembang sangat baik.
Produk ayam kampung obat Ba Che dianggap sebagai produk unggulan dengan nilai ekonomi tinggi. Khususnya, model yang didaftarkan oleh keluarga Bapak Cuong untuk diterapkan telah membuahkan hasil yang sangat positif.
Memelihara ayam dengan ramuan obat juga mengurangi bau tak sedap di kandang, ayam lebih jarang sakit, dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik. Ayam tidak perlu menggunakan antibiotik hewan, sehingga menghemat biaya investasi, sementara kualitas dagingnya manis, harum, dan kenyal.
"Dari keberhasilan model ini, kami akan mereplikasi dan membimbing masyarakat untuk beternak ayam kampung obat sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku. Unit ini secara aktif berkoordinasi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Pertanian untuk menyelesaikan pengajuan sertifikasi merek dagang ayam kampung obat Ba Che di Kantor Hak Kekayaan Intelektual," ujar Ibu Chinh.
Sumber
Komentar (0)